Secara etimologis, semantik berasal dari bahasa Inggris yang bernama semantics. Selain itu, dalam bahasa Perancis disebut sebagai semantique yang mempunyai arti kata sema sebagai “tanda” dan kata semaino “melambangkan”. Sedangkan, jika ditelaah melalui terminologis, makasih mantiq merupakan sebuah bidang yang mempunyai substansi terkait arti bahasa dalam komponen linguistik. Dalam dunia bahasa, semantik adalah sebuah kajian arti bahasa yang termasuk dalam linguistik. Semantik leksikal merupakan sebuah kategori khusus dari semantik yang berorientasi terhadap substansi arti yang dimiliki oleh setiap kata. Sehingga, dalam menganalisis sebuah semantik leksikal memfokuskan terhadap makna kata yang ada dalam satuan mandiri.
Semantik Leksikal
Pada dasarnya semantik leksikal mempunyai keterkaitan erat dengan keutuhan wacana. Struktur leksikal mempunyai keberagaman relasi semantik yang dapat ditemukan dalam sebuah kata. Semantik leksikal mempunyai keterkaitan antara kata yang dapat berbentuk seperti sinonim, polisemi, homonim, antonim, dan hiponim. Dalam linguistik, tujuan utama diimplementasikannya unsur leksikal adalah agar mencapai kejelasan informasi dan keindahan bahasa dalam setiap kata yang disampaikan. Salah satu unsur semantik leksikal yang sering ditemukan adalah makna hiponim.
Wujud semantik leksikal pada hiponim secara etimologis berasal dari bahasa Yunani kuno yang mempunyai makna kata dari “onama” dan “hypo”. Pada dasarnya hiponim merupakan kata yang mempunyai keterkaitan pada dua hubungan yang dijalin antara komponen yang lebih kecil dengan yang lebih besar. Hiponim berorientasi terhadap hirarki semantik leksikal yang mempunyai keberagaman dengan fokus utama terhadap hubungan umum khusus.
Al-Qur’an dapat dipahami sebagai wahyu yang diturunkan oleh Allah SWT terhadap Nabi Muhammad SAW. Tujuan utama diturunkannya wahyu adalah sebagai petunjuk untuk seluruh manusia dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Sehingga, Al-Qur’an merupakan kitab yang dijadikan sebagai pedoman dalam hidup. Seluruh kitab yang diturunkan oleh Allah SWT mempunyai karakteristik masing-masing namun, pada dasarnya Al-Qur’an punyai kelebihan dibandingkan kitab-kitab lainnya. Kelebihan tersebut merupakan tingkat orsinalitas yang dimiliki oleh Al-Qur’an sangatlah tinggi sehingga dapat menjamin mengenai orsinalitasnya jika dibandingkan dengan kitab suci yang tidak mempunyai otentik dan original.
Faktor utama dari hilangnya orsinilitas pada kitab suci selain Al-Qur’an adalah karena terdapat beberapa oknum yang dengan sengaja mengubah substansi dari kitab suci sehingga substansi yang ada dalam kitab suci tersebut menyeleweng dari substansi sebelumnya. Hal tersebut menyebabkan hilangnya orisinilitas dan kepastian yang dimiliki oleh kitab kitab suci selain Al-Qur’an.
Analisis Q.S Al-An’am ayat 38
Substansi Al-Qur’an tidak pernah dirubah, sehingga kemurniannya sangat terjaga. Al-Qur’an diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW, sehingga tidak ada pihak manapun yang berupaya untuk merubah substansi Al- Qur’an. Peristiwa tersebut disebabkan karena kitab Al-Qur’an sudah dipastikan orsinalitasnya oleh Allah SWT. Oleh sebab itu penulis akan menganalisis lebih lanjut mengenai semantik relasi hiponim pada surat Al-An’am ayat 38.
“Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat-umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatupun di dalam Al Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan. (Q.S. al-An’am (6): 38”
Analisis pertama, surat Al-An’am ayat 38 pada kata ‘burung-burung’ mempunyai arti lainnya yaitu sebuah binatang yang mempunyai bulu dan sayap untuk terbang. Kata ‘burung’ tersebut termasuk ke dalam jenis binatang, sehingga kata yang digunakan dalam judul tersebut mempunyai makna lain, oleh sebab itu kata tersebut diklasifikasikan ke dalam makna relasi hiponim.
Analisis kedua, surat Al-An’am ayat 38 pada kata “Umat” mempunyai arti lainnya yaitu sebuah perkumpulan masyarakat atau bangsa. Kata ‘umat’ tersebut termasuk ke dalam jenis manusia, sehingga kata yang digunakan dalam judul tersebut mempunyai makna lain, oleh sebab itu kata tersebut diklasifikasikan ke dalam makna relasi hiponim.
Analisis ketiga, surat Al-An’am ayat 38 pada kata “Sayapnya” mempunyai arti lainnya yaitu sebagai elemen yang dapat digunakan sebagai pembangkit gaya aerodinamika untuk mengontrol gerak benda. Kata ‘Sayap’ tersebut termasuk ke dalam jenis anatomi tubuh hewan, sehingga kata yang digunakan dalam judul tersebut mempunyai makna lain, oleh sebab itu kata tersebut diklasifikasikan ke dalam makna relasi hiponim.
Analisis keempat, surat Al-An’am ayat 38 pada kata “Terbang” mempunyai arti lainnya yaitu sebagai salah satu hal yang dapat bergerak melayang menggunakan sayap. Kata ‘terbang” termasuk ke dalam jenis makna lain, oleh sebab itu kata tersebut diklasifikasikan ke dalam makna relasi hipernim.
Analisis kelima, surat Al-An’am ayat 38 pada kata “Bumi” mempunyai arti lainnya yaitu sebagai salah satu planet yang berada dalam tatanan tata surya. Kata ‘bumi’ tersebut termasuk ke dalam jenis tempat tinggal manusia dalam sebuah planet, sehingga kata yang digunakan dalam judul tersebut mempunyai makna lain, oleh sebab itu kata tersebut diklasifikasikan ke dalam makna relasi hiponim.
Editor: An-Najmi



























Leave a Reply