Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Ciri, Sudut Pandang, dan Respons Ulama atas Riwayat Israiliat

Ilustrasi Israiliat
Sumber: id.pinterest.com

Para pengkaji Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir tentu tidak asing lagi dengan istilah “israiliat.” Israiliat sendiri memliki arti kisah atau cerita yang diriwayatkan dari peradaban atau kitab kaum Yahudi atau Nasrani.[1] Pada kesempatan kali ini, penulis akan menguraikan kajian yang tidak kalah urgennya, namun masih terlupakan oleh para peminat kajian tafsir. Yakni, pertama, seperti apakah ciri-ciri riwayat israiliat itu? Kedua, apa saja sudut pandang yang ada dalam riwayat israiliat? Ketiga, bagaimana respons para ulama terhadap riwayat israiliat? Berikut penjelasan dari masing-masing pertanyaan tersebut.

Ciri-Ciri Riwayat Israiliat

Menurut Rosihon Anwar, ciri-ciri riwayat israiliatdapat diketahui melalui dua istilah utama, yaitu segi sanad riwayat dan matan riwayatnya.

Dari segi sanad, riwayat israiliatbisa ditelusuri melalui perawi pertamanya. Adakalanya perawi pertama itu berasal dari ahlulkitab. Perawi ini kemudian dijadikan sebagai sumber primer riwayat tersebut. Dalam bentuk lain, perawi pertama memang bukan ahlulkitab, seperti sahabat, tabiin, dan tabi’ tabi’in, namun mereka dikenal sering meriwayatkan dari ahlulkitab. Karenanya, perawi ini dianggap sebagai sumber sekunder. Selain itu, pada umumnya, sanad riwayat israiliattidak sampai kepada nabi Muhammad Saw.

Sedangkan dari segi matan, riwayat israiliatacapkali memuat kisah-kisah yang aneh dan asing yang bertentangan dengan prinsip Al-Qur’an maupun hadis sahih. Di antaranya seperti kisah-kisah umat terdahulu, khususnya peristiwa-peristiwa sebelum diutusnya Nabi Saw. Di samping itu, secara umum, narasi matan riwayat tersebut cenderung panjang dan detail. Hal ini menimbulkan bahwa riwayat tersebut memuat unsur dramatis atau informasi tambahan yang sebenarnya tidak ada.[2]

Klasifikasi Sudut Pandang Riwayat Israiliat

Menurut Husain az-Zahabi (w. 1397 H), secara garis besar, riwayat-riwayat israiliat yang selama ini bertebaran dalam kitab-kitab tafsir dapat dikelompokkan menjadi tiga sudut pandang.

Baca Juga  Telaah Perkembangan Pemikiran Tafsir Era Kontemporer

Pertama, aspek kualitas sanad. Kategori ini mencakup riwayat israiliatyang sahih dan daif. Contoh sanad yang sahih ialah riwayat yang dikutip Ibn katsir bahwa Atha berkata: “Aku bertemu dengan Abdullah bin Umar bin Ash sekaligus bertanya, “Ceritakanlah kepadaku tentang sifat Rasulullah Saw. yang dijelaskan dalam Taurat.” Ia menjawab, “Tentu, demi Allah, yang dijelaskan dalam Taurat sama seperti yang dijelaskan dalam Al-Qur’an.” Wahai Nabi, sesungguhnya kami mengutusmu sebagai saksi, pemberi kabar gembira, pemberi peringatan, dan pemelihara ummi. Engkau adalah hamba-Ku, namamu dikagumi. Engkau tidak kasar serta tidak pula keras. Allah tidak akan mencabut nyawamu sebelum agama Islam tegak kokoh, yakni setelah diucapkannya kalimat tauhid. Dengan perantaramu pula, Allah membuka hati dan telinga yang tertutup serta mata yang buta.”[3]

Sementara contoh sanad riwayat yang daif adalah penafsiran lafaz Qaf (ق) dalam surah Qaf ayat pertama yang diriwayatkan oleh Ibn Hatim: “Di balik bumi ini, Allah menciptakan lautan yang melingkupinya. Di dasar laut, Allah telah menciptakan pula gunung yang bernama Qaf. Langit dan bumi menjadi tegak karena di atasnya. Di bawahnya Allah menciptakan langit yang mirip seperti bumi yang berjumlah tujuh lapis. Lalu, di bawahnya lagi Allah menciptakan gunung yang bernama Qaf. Langit kedua ini tegak di atasnya. Sehingga jumlah semuanya tujuh lapis bumi, tujuh lautan, tujuh gunung, dan tujuh lapis langit.”[4]

***

Kedua, aspek keterkaitannya dengan Islam. Bagian ini meliputi riwayat israiliatyang sesuai dengan Islam, yang tidak sesuai dengan Islam, maupunyang bukan keduanya. Contoh israiliatyang sesuai dengan Islam adalah riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi Muhammad Saw. memiliki sifat-sifat yang lemah lembut, pemurah, dan tidak keras.

Baca Juga  Membuka Dogma Beragama: Antara Identitas dan Kesadaran

Sedangkan contoh israiliatyang tidak sesuai dengan Islam ialah riwayat Ibn Jarir dari Basyir tentang kisah Nabi Sulaiman As. yang disebutkan melakukan perbuatan yang tidak pantas dilakukan seorang nabi, seperti minum arak. Terakhir, contoh israiliatyang bukan keduanya ialah sebuah riwayat dari Ibn Abbas dari Ka’ab al-Akhbar tentang orang pertama yang membangun Ka’bah, yaitu Nabi Syits As.

Ketiga, aspek materi atau isi. Bagian ini mencakup riwayat israiliatyang berkaitan dengan akidah, hukum, dan kisah-kisah. Isi riwayat yang berhubungan dengan akidah, misalnya, ialah israiliatterkait QS. az-Zumar:67 yang menjelaskan seorang tokoh Yahudi yang mendatangi Nabi Saw. seraya mengatakan bahwa langit diciptakan di atas jari. Adapun israiliatyang berkaitan dengan hukum, contohnya, ialah riwayatdari Abdullah bin Umar yang mengatakan adanya hukum rajam dalam Taurat. Sementara itu, terdapat pula israiliatyang berhubungan dengan kisah-kisah.[5]

Respons Ulama terhadap Riwayat Israiliat

Merespons munculnya riwayat-riwayat israiliat, para ulama berbeda pendapat tentang kebolehan periwayatannya. Secara garis besar, sebagian ulama memperbolehkannya. Hal ini berdasarkan pada riwayat Imam Bukhari dari Abdullah bin Amr: “Sampaikanlah apa yang datang dariku walaupun satu ayat. Dan ceritakanlah apa yang kamu dengar dari Bani Isra’il, di mana hal itu tidak ada salahnya. Barangsiapa berdusta atas namaku, maka hendaknya dia menyiapkan tempat duduknya di neraka.“[6]

Namun, terdapat pula sebagian ulama yang melarangnya dengan berdasarkan pada riwayat Imam Bukhari dari Abu Hurairah: “Ahlulkitab membaca Taurat dengan bahasa Ibrani dan mereka menafsirkankannya dengan bahasa Arab kepada pemeluk Islam. Maka Rasulullah Saw. bersabda: “Janganlah kamu membenarkan ahlulkitab dan jangan pula mendustakan mereka”. Namun, katakanlah: “Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami.[7]

Baca Juga  Mufasir Muhammadiyah (1): Yunan Yusuf dan Tafsir Terbaliknya

Mengutip Rasyid Ridha (w. 1935 M), dapat disimpulkan bahwa sebenarnya kedua hadis di atas tidaklah saling kontradiksi. Namun, para ulama menerangkan jika memang israiliat itu bertentangan dengan Islam, maka itulah yang dilarang. Sebaliknya, jika memang sejalan dengan Islam, maka itulah yang diperbolehkan.[8]Wallahu A’lam Bissowab.


Daftar Pustaka

[1] Muhammad Abu Syahbah, Israiliyyat wa al-Mauduat fi Kutub al-Tafsir, (Cairo: Maktabah al-Sunnah, 1408), h. 14.

[2] Rosihon Anwar, Melacak Unsur-Unsur Israiliyyat, (Bandung: Pustaka Setia, 1999), h. 29.

[3] Ibn Kasir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, (Lebanon: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1998), j. 2, h. 253.

[4] Ibn Kasir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, (Lebanon: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1998), j. 2, h. 221.

[5] Rosihon Anwar, Melacak Unsur-Unsur Israiliyyat, (Bandung: Pustaka Setia, 1999), h. 33.

[6] Muhammad ibn Ismail al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, (Damaskus: Dar Ibn Kasir, 1414), j. 3, h. 1275.

[7] Muhammad ibn Ismail al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, (Damaskus: Dar Ibn Kasir, 1414), j. 4, h. 1630.

[8] Rasyid Ridha, Tafsir al-Manar, (Mesir: Haiah Misriyyah, 1990), j. 4, h. 33.

Editor: Tim Redaksi Tajdeed ID