Dalam Al-Qur’an, lafal al-ghayz beserta derivasinya berjumlah sebanyak 11 kali pada 8 surat, 8 lafal dalam berbagai bentuknya terdapat dalam surat-surat madaniyah dan 3 kata lainya beserta bentuknya berada dalam surat-surat makkiyah.[1]
Lafal al-ghayz terdapat pada QS. Ali Imran: 134
الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكَاظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ
Artinya: (yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan. (QS. Ali Imran [3]: 134)
Teori semantik Toshihiko Izutsu menganalisis dengan berfokus pada kata kunci dalam Al-Qur’an untuk memahami pandangan dunia Al-Qur’an. Mengkaji lafal al-ghayz menggunakan teori semantik Toshihiko Izutsu akan membuka makna al-ghayz tidak hanya secara leksikal saja. Teori tersebut akan memberi pemahaman yang holistik dan mendalam. Izutsu memiliki konsep semantik yang sampai pada weltanschauung Al-Qur’an (pandangan dunia Al-Qur’an).
Teori Semantik Toshihiko Izutsu
Toshihiko Izutsu lahir di Jepang pada tanggal 4 Mei 1914, dalam lingkungan agama Zen. Izutsu adalah seorang intelektual yang terkenal dengan pengetahuannya mengenai Islam. Ia juga mahir dalam bidang perbandingan filsafat.
Toshihiko Izutsu bukanlah tokoh pertama yang menerapkan semantik dalam mengkaji Al-Qur’an. Ia mengembangkan gagasan Amin al-Khuli, seorang mufasir klasik, menggunakan metode kebahasaan. Teori yang dikembangkan Toshihiko Izutsu dikenal dengan teori Semantik Al-Qur’an.[2]
Definisi semantik menurut pandangan Toshihiko Izutsu adalah kajian analisis terhadap istilah-istilah bahasa dengan suatu pandangan, sampai pada pengertian konseptual weltanschauung masyarakat yang menggunakan bahasa tersebut. Bahasa bukan hanya sebagai alat bicara dan berfikir. Melainkan suatu yang lebih penting bagi penafsiran dunia yang melingkupinya. Kajian semantik berfokus pada makna bahasa, baik dalam arti tekstual maupun arti kontekstual.[3]
Konsep semantik Izutsu terhadap Al-Qur’an memperhatikan empat hal penting yaitu:
Pertama, keterpaduan konsep individual. Konsep-konsep dalam Al-Qur’an yang saling bergantungan menghasilkan makna konkret yang menyeluruh. Untuk menganalisis konsep-konsep kunci individual dalam Al-Qur’an, peneliti maupun siapa saja tidak boleh kehilangan wawasan hubungan yang saling memberi muatan dalam keseluruhan sistem.[4]
Kedua, makna dasar dan makna relasional. Menurut Toshihiko Izutsu, maksudnya adalah sesuatu yang melekat pada kata dan memiliki hubungan makna. Makna relasional merupakan makna konotatif sebuah kata dasar berupa kata-kata baru yang ditambahkan pada makna yang sudah ada. Untuk menentukan makna relasional, dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu analisis sintagmatik dan analisis paradigmatik.[5]
Ketiga, sinkronik dan diakronik. Ialah suatu analisis terhadap waktu atau sejarah. Menjelaskan mengenai perkembangan suatu kosakata yang dipahami oleh masyarakat tertentu pada masa tertentu. Karena kosakata membawa pandangan dunia, kultur, dan prasangka-prasangka masyarakat dalam memaknainya.[6]
Keempat, weltanschauung, yaitu struktur budaya yang berlaku di masyarakat. Ia juga merupakan tujuan yang dicapai dan berkaitan dengan visi misi yang disampaikan oleh Al-Qur’an.
Lafal al-Ghayz dalam Aplikasi Semantik Toshihiko Izutsu
Penerapan teori Toshihiko Izutsu dapat dilakukan dengan tiga tahapan. Berikut analisis kata al-ghayz dengan mengimplementasikan teori semantik Toshihiko Izutsu.
1. Makna Dasar al-Ghayz
Disebut sebagai makna secara etimologi. Untuk mengetahui makna dasar dapat menggunakan makna secara leksikal. Berikut makna kata al-ghayz secara leksikal yang penulis uraikan dalam bentuk tabel sederhana.
| lafal | Semantik | Sintaksis | Konteks |
| الْغَيْظَ | أشَدُّ غَضَب | Kemarahan besar | Kemarahan yang hebat, terjadi ketika bahaya menyerang harta, anak, kehormatan, dan harga diri (Tafsir al-Munir karya Wahbah Zuḥaili) |
| الحَرَارَةُ | Kemarahan yang mengisi hati dengan balas dendam dalam perkataan maupun perbuatan. (Tafsir Taisir al-Karim al-Rahman) | ||
| الغَضَب | |||
| لغَضَب كا من العا جز |
Pada dasarnya, lafal al-ghayz memiliki makna “kemarahan”. Al-Ashfahani menjelaskan dalam kamus Mufradat fi Alfazh Al-Quran bahwa lafal al-ghayz memiliki makna kemarahan yang besar, suatu kondisi yang panas.[7] Pemaknaan ini selaras dengan perkataan Ibnu Manzur dalam kitab Lisan al-Arab. Dalam kitab tersebut, Ibnu Manzur menyatakan bahwa al-ghayz adalah kemarahan besar dengan dendam.
Lafal al-ghayz dalam QS. Ali Imran: 134, menurut tafsir al-Munir karya Wahbah Zuḥaili, berarti أشد أنواع الغضب, yaitu kemarahan yang parah. Lebih rincinya yaitu kemarahan yang berakar dari adanya bahaya yang menyerang harta, anak, kehormatan, dan harga diri.[8]
2. Makna Relasional al-Ghayz
Tahapan selanjutnya yaitu mencari makna relasional. Menurut Toshihiko Izutsu, makna relasional adalah suatu makna konotatif yang ditambahkan ke makna yang sudah ada. Untuk menentukan makna relasional, dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu analisis sintagmatik dan analisis paradigmatik. Makna relasional kata al-ghayz berupa sinonim maupun antonim kata tersebut yang terdapat dalam Al-Qur’an.
| lafal | Relasional | Interpretasi |
| الْغَيْظَ | الغَضَب | Kemarahan yang terukur dan tidak meninggalkan dendam |
| سخط | Kemarahan intens, membutuhkan hukuman. |
***
3. Weltanschauung (Dunia Makna) al-Ghayz
Setelah mengetahui makna dasar dan makna relasional lafal al-ghayz, pada tahap ini akan diuraikan tentang dunia makna. Weltanschauung merupakan tujuan yang ingin dicapai, yaitu berkaitan dengan visi misi yang ingin disampaikan oleh Al-Qur’an. Pesan yang disampaikan Al-Qur’an sesuai lafal al-ghayz melalui medan semantiknya.
Manusia tidak bisa lepas dari sifat marah. Meluapkan rasa marah diperbolehkan asalkan masih dalam kemarahan yang terukur, tidak menyisakan rasa dendam. Sebuah kemarahan tidak diperbolehkan ketika kemarahan itu berlarut-larut dengan menyimpan dendam. Jika hal demikian terjadi, maka haruslah segera diselesaikan dengan perkataan maaf. Allah dalam firman-Nya memerintahkan agar menahan amarah, karena menahan amarah merupakan tanda bahwa insan tersebut bertakwa. Meskipun marah tetap diperbolehkan dengan ketentuan di atas, menahan amarah lebih baik daripada mengungkapkan kemarahan.
Kesimpulan
Marah adalah kenyataan naluriah bagi manusia, sehingga tidak mungkin manusia akan terbebas dari rasa marah. Menahan amarah merupakan bagian dari ketakwaan seseorang. Konsep semantik Izutsu terhadap Al-Qur’an dengan memperhatikan empat hal penting yaitu: keterpaduan konsep individual, makna dasar, makna relasional, dan weltanschauung. Kembalikan kepada Al-Qur’an yang memberikan pujian bagi orang orang yang dapat menahan amarahnya. Karena salah satu sifat seorang yang bertakwa adalah pandai dalam hal menahan amarah dan mudah memaafkan sesama manusia.
[1] Alami Zadah Faydullah, Fath Al-Rahman li Talib Ayat Al-Qur’an, (Lebanon: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 2012), h. 555.
[2] Siti Fahimah, “Al-Qur’an dan Semantik Toshihiko Izutsu”, Jurnal Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir,No 2, Vol 3, (2020), h. 1199.
[3] Suwarno, “Relevansi Pendekatan Semantik Toshihiko Izutsu dalam menafsirkan Al-Qur’an”, Jurnal Ilmu Al-Qur’an Dan Tafsir, Vol. 2, No. 2, (September, 2022), h. 177.
[4] Toshihiko Izutsu, Relasi Tuhan dan Manusia, Machasin, (Kopen-Banteng: Tiara Wacana Yogya, 1997), h. 4.
[5] Muhammad Khubbah Fairus, “Konsep Hijrah dalam Al-Qur’an”, (Skripsi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, 2021), h. 27-28.
[6] Ibid.
[7] Ar-Raghib Al-Ashfahani, Mufradaat Alfadz Al-Qur’an, (Ashfani: Dar al-Fikr, 2008), h. 619.
[8] Mushtafa al Zuhaili, Tafsir Al Munir, Jilid 2,(Damakus: Dar Al Fikr, 2014), h. 407.
Editor: Tim Redaksi Tajdeed ID

























Kanal Tafsir Berkemajuan
Sebuah media Islam yang mempromosikan tafsir yang progresif dan kontekstual. Hadir sebagai respon atas maraknya tafsir-tafsir keagamaan yang kaku dan konservatif.