Telah kita ketahui, bahwasannya Al-Qur’an diturunkan kepada Rasulullah SAW dalam bentuk berbahasa Arab yang sangat sempurna baik dalam aspek tatanan bahasa maupun kesusastraan Arab. Hal ini bertujuan agar Rasulullah SAW mudah dalam memahami dan juga memudahkan Rasulullah SAW untuk mengajarkannya kepada seluruh umat manusia. Sebagai seorang Mufassir, urgensi analisis kebahasaan dan penguasaan terhadap pengetahuan bahasa Arab menjadi syarat pertama dan mutlak dalam memahami al-Qur’an. Oleh sebab itulah, sebagian dari para mufassir memfokuskan perhatiannya dengan mengadakan penelitian-peneliatian dan pengkajian melalui struktur bahasa Arab yang digunakan al-Qur’an. Banyak sekali makna-makna kata yang terkandung dalam Al-Qur’an, salah satunya yaitu kata Kadzib.
Derivasi Kata Kadzib
Dapat kita ketahui, bahwasannya kata kadzib dalam Al-Qur’an memiliki bermacam-macam makna sesuai dengan latar belakang diturunnya ayat Al-Qur’an pada saat itu. Makna kata kadzib yang secara etimologi dan terminologi memiliki arti kata yang sangat banyak. Al-Raghib al-Ashfahany dalam kitabnya Mufardat fi Gharaib al-Qur‘an mengatakan bahwa al-Kadzib juga mempunyai beberapa pengertian:
- Al-Kadzib dapat diartikan pendustaan pada perkataan dan perbuatan. Hal ini terdapat dalam firman Allah SWT QS. An-Nahl:105. Arti dari kata al-kadzib dalam ayat ini adalah mereka mengada-adakan kebohongan terhadap perkataan sekaligus perbuatannya.
- Al-Kadzib diartikan pendustaan pada keyakinan, bukan pada perkataan. Hal ini terdapat dalam firman Allah SWT QS. Al-Waqi’ah:2. Maksud dari ayat ini adalah bahwa mereka menyangkal atau mendustakan kejadian hari kiamat pada keyakinan mereka, bukan pada perkataannya.
- Al-Kadzib juga diartikan sebagai pendustaan terhadap perbuataan itu sendiri. Hal ini juga terdapat dalam firman Allah SWT QS. Al-‘Alaq:16. Arti kata al-kadzib pada ayat ini menjelaskan bahwasannya mereka disiksa akibat dari perbuatan dustanya.
Apabila dianalisa lebih jauh dan dalam lagi mengenai makna al-Kadzib dalam al-Qur‘an, maka dapat dilihat secara umum bahwa makna al-Kadzib memiliki makna kufur, hal ini terjadi karena terdapat pengingkaran dan pendustaan terhadap ayat-ayat Allah, walaupun tidak semua bentuk kata al-Kadzib yang telah digambarkan oleh al-Qur‘an memiliki makna kufur, karena beberapa bentuk lafadz al-Kadzib juga memiliki makna lain seperti makna Munafik. Jikalau kata al-Kadzib yang memiliki makna kufur biasanya ditujukan kepada orang-orang kafir dengan kekufurannya.
Analisis Gramatikal Kata Kadzib
Setiap bentuk kata mempunyai karakter dan segi-segi yang berbeda dan tertentu. Karena hal yang demikian itulah, banyaknya bentuk kata yang dipakai dalam al-Qur’an dimaksudkan untuk menunjukkan penegasan-penegasan tertentu dan juga tekanan-tekanan tertentu. Baik bentuk kata tersebut berupa fi’il madhi maupun mudhorik, misalnya bentuk kata itu mengandung waktu tetentu seperti waktu lampau (berupa fiil madhi), kini dan akan datang (berupa fi’il mudhorik).
Fiil madhi memiliki beberapa segi, segi pertama mengandung makna bahwa objek yang dituju telah melakukan kedustaan, baik itu umat terdahulu, sebelum umat Nabi Muhammad SAW maupun umat setelahnya. Disamping itu, fi’il madhi juga mengandung informasi mengenai pendustaan, hal ini diungkap dalam berbagai macam bentuk yang sangat beragam, mulai dari perbuatan syirik sampai pada pelanggaran terhadap larangan-larangan Allah SWT. Pelakunya pun tidak hanya orang-orang yang berada di luar keimanan atau tidak beriman, tetapi juga dilakukan oleh orang-orang yang menyatakan bahwa dirinya beriman, tetapi dalam bentuk ini yang paling dominan adalah dilakukan oleh orang-orang yang berada di luar keimanan. Contoh dari bentuk ini adalah:
Fi’il mudhori‘ mengandung perbuatan yang dilakukan oleh pelaku tersebut akan terjadi. Pada umumnya bentuk ini berkaitan dengan pembalasan Tuhan yang dilakukan dengan cara tidak ada kedholiman sedikitpun, tetapi tidak akan selalu demikian, beberapa perbuatan kadzib yang terjadi diungkapkan dengan kata ini. Penggunaan kata dalam bentuk fi’il mudhori’ menunjukkan bahwa peristiwa itu terjadi pada masa lampau, hal ini bertujuan untuk menunjukkan bahwasannya kata itu menggambarkan salah satu dari dua hal yaitu keindahan peristiwa itu atau kejelekan peristiwa itu. Perbuatan kadzib adalah pengingkaran terhadap ayat-ayat Allah. Makna kata al-kadzib jika menggunakan kata kerja mudhori’, maka al-Qur’an menggambarkan betapa jelek dan nekatnya perbuatan mendustakan dan mengingkari ayat Allah.
Editor: An-Najmi



























Leave a Reply