Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Bencana Alam, Ayat Kauniyah, dan Renungan bagi Orang yang Berakal

Ayat Kauniyah
Sumber: https://lestari.kompas.com/

Akhir-akhir ini, masyarakat Indonesia kembali diramaikan oleh pemberitaan mengenai berbagai bencana alam, mulai dari gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT), kebakaran hutan di Kalimantan, hingga aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda. Sebagai negara yang berada di kawasan Cincin Api Pasifik (Ring of Fire) dan dilalui garis khatulistiwa, Indonesia memiliki kondisi geografis dan geologis yang menjadikannya rentan terhadap berbagai bencana alam. Terlebih lagi, Indonesia memiliki banyak gunung berapi aktif, sehingga peristiwa erupsi gunung berapi bukanlah fenomena yang asing bagi masyarakat. Sejarah bahkan mencatat sejumlah letusan gunung berapi dahsyat di Indonesia, salah satunya letusan Gunung Tambora pada 1815 yang dampaknya dirasakan hingga ke berbagai belahan dunia.

Alam semesta, pada dasarnya, memiliki hukum dan mekanismenya sendiri. Dengan demikian, berbagai fenomena alam, termasuk bencana, merupakan bagian dari dinamika dan konsekuensi dari hukum alam yang berlaku di muka bumi. Namun, dalam memahami bencana alam, masih ditemukan berbagai kesalahpahaman di tengah masyarakat. Dalam kondisi tertentu, bencana juga dapat diperparah oleh ulah manusia itu sendiri, seperti banjir dan tanah longsor. BNPB menjelaskan bahwa, selain curah hujan sebagai faktor alam, kerusakan lingkungan, alih fungsi lahan, buruknya pengelolaan sampah, serta pengelolaan daerah aliran sungai yang tidak baik turut meningkatkan risiko terjadinya banjir dan longsor.[1]

Dalam konteks tersebut, ayat kauniyah atau ayat semesta memberikan banyak isyarat kepada kita dalam memahami bencana alam yang terjadi di muka bumi ini. Sehingga, kita perlu membaca bencana alam yang terjadi beberapa waktu belakangan dengan pendekatan ayat-ayat tersebut. Cara baca ini, harapannya, menjadi langkah preventif terhadap kemunculan kesalahpahaman terhadap bencana alam yang terjadi.

Baca Juga  Tafsir Faid Al Rahman vs Era 5.0

Memahami Ayat-ayat Kauniyah

Al-Qur’an diturunkan kepada kita, tidak lain dan tidak bukan, sebagai  hudan linnaas wa bayyinat (QS 2:185). Ibn Katsir, dalam Tafsir Al-Qur’an al-Adzim, menjabarkan bahwa diksi tersebut bermakna: bukti, petunjuk, atau hujah yang nyata, jelas, dan terang bagi siapa saja yang memahami dan merenungkannya.[2] Maka, seyogyanya setiap insan mengambil pelajaran yang terkandung di setiap ayat.

Ayat-ayat Al-Qur’an memiliki arti dan makna yang berbeda-beda. Diksi ‘ayat’ sendiri, secara kebahasaan, bermakna tanda yang menunjukan sesuatu.[3] Karenanya, ayat-ayat yang ada di Al-Qur’an bermakna petunjuk bagi siapapun yang ingin mencari jawaban atas setiap persoalan yang ada di alam semesta ini.

Menurut Muhammad Amin al-Syinqithi—mufasir Mauritania—dalam al-Adzb al-Munir,[4] ayat-ayat dalam Al-Qur’an terklasifikasikan menjadi dua—al-ayat al-kauniyah dan al-ayat ad-diniyah assyar’iyah. Ayat kauniyah sendiri bermakna sebuah pertanda yang Allah tetapkan melalui ciptaan dan ketetapan-Nya, untuk menjelaskan kepada makhluk-Nya bahwa Dia-lah satu-satunya Rabb dan Zat yang berhak disembah.[5]

Salah satu contoh ayat kauniyah adalah surah Al-Baqarah ayat 164. Ayat ini berbicara mengenai berbagai fenomena alam: pergantian siang dan malam, pelayaran, turunnya hujan dari langit untuk membawa keberkahan dan menghidupi bumi, penciptaan hewan, serta angin yang menjadi pertanda turunnya hujan. Menariknya, ayat ini ditutup dengan kalimat li qaumin ya’qilun—hanya orang-orang yang berakal saja yang dapat memahami fenomena-fenomena tersebut sebagai tanda-tanda kekuasaan Allah. Dan masih banyak ayat-ayat kauniyah yang lain di dalam Al Qur’an.

Bencana Alam: Sebuah Peringatan bagi Orang yang Berakal

Al-Qur’an mengajarkan kepada kita untuk mempelajari dan merenungi setiap ayat yang diturunkan Allah. Sebagian ayat hadir sebagai bisyarah (kabar gembira), sementara sebagian lainnya menjadi tanbihat (peringatan). Pada Al-Hasyr: 9, misalnya, Allah menggunakan term ulil abshar yang didahului dengan diksi fa’tabiru. Susunan demikian membentuk makna: “Maka ambillah pelajaran, wahai orang-orang yang memiliki penglihatan yang tajam.”

Baca Juga  Syarat Mufasir Jika Ingin Menafsirkan Al-Qur'an

Ayat tersebut mengajarkan kepada kita bahwa setiap peristiwa yang terjadi di alam semesta memiliki ibrah yang dapat diambil dan dipetik. Makna ibrah, yang berasal dari kata ‘abbara, sebagaimana dijelaskan Ibn Rusyd dalam Fashl al-Maqal, berkaitan dengan makna qiyas.[6] Ketika berbicara tentang qiyas, baik dalam perspektif para fukaha maupun para filsuf, kita menemukan adanya penekanan pada pentingnya penggunaan akal yang sehat dalam menganalogikan dan memahami sesuatu. Sekali lagi, semuanya kembali kepada akal.

Berkaitan dengan bencana alam yang terjadi akhir-akhir ini, sudah sepatutnya kita merenungkannya secara lebih mendalam. Di dalam surah Ali ‘Imran ayat 190, Allah mengajak kita untuk merenungi berbagai fenomena yang terjadi di alam semesta sebagai bagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya. Dalam ayat tersebut, Allah menggunakan istilah ulul albab yang maknanya tidak jauh berbeda dengan ulil abshar. Menurut Az-Zamakhsyari, diksi tersebut merujuk kepada orang-orang yang membuka mata batin mereka untuk mengamati, menalar, dan mengambil pelajaran, bukan memandang segala sesuatu seperti binatang yang hanya melihat tanpa kesadaran terhadap berbagai keajaiban dan ciptaan yang terkandung di alam semesta.[7]

***

Kembali lagi kepada persoalan akal. Terkadang kita terlalu mudah memvonis bahwa bencana alam yang terjadi datang begitu saja tanpa sebab. Padahal, bukankah terdapat sejumlah bencana yang terjadi sebagai akibat dari kerusakan yang kita perbuat sendiri? Allah berfirman dalam Surah Asy-Syura ayat 30: “Dan segala musibah yang menimpa kamu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri. Dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).”

Watak manusia yang gemar melakukan kerusakan pada akhirnya dapat mendatangkan berbagai kerusakan yang menimpa kehidupan manusia itu sendiri. Alam semesta memiliki hukum dan mekanismenya sendiri. Bahkan, dalam Islam, kita mengenal konsep sunnatullah, yaitu ketetapan atau hukum Allah yang berlaku di alam semesta dan berjalan secara teratur.

Baca Juga  Langkah Nyata Kemendikdasmen Menggelar Pendidikan Bermutu untuk Semua

Penggundulan hutan dan aktivitas penambangan yang dilakukan secara berlebihan, misalnya, dapat menyebabkan longsor. Demikian pula penumpukan sampah dalam jumlah besar dapat menjadi salah satu faktor yang memicu terjadinya banjir. Karena itu, tidak mengherankan apabila sejak awal manusia telah digambarkan memiliki potensi untuk melakukan kerusakan di muka bumi. Hal ini bahkan menjadi salah satu alasan yang mengilhami pertanyaan malaikat terkait amanah yang diberikan kepada Bani Adam (QS. Al-Baqarah ayat 30).

Pada akhirnya, kita sebagai insan yang dianugerahi akal dituntut untuk tidak sekadar melihat berbagai peristiwa yang terjadi, tetapi juga mengamati, menalar, dan mengambil pelajaran darinya.


Catatan Kaki

[1] Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), “Potensi Ancaman Bencana,” diakses 11 September 2026, https://www.bnpb.go.id/potensi-ancaman-bencana.

[2] Ibn Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, (Dār al-Tayyibah, 1990), hlm. 502.

[3] Ibn Manzur, Lisan al-Arab, Jilid 14, (Beirut: Dar al Shadir, 1414 H), hlm. 61.

[4] Kitab ini merupakan catatan materi Majelis Tafsir Syaikh Muhammad Amin Al-Syinqithi.

[5] Asy-Syinqithi, Al-‘Adzb al-Munir, (Riyadh: Dār Aṭā’āt al-‘Ilm, 2019), hlm. 91.

[6] Ibn Rusyd, Fashl al-Maqāl, (Beirut: Markaz Dirāsāt al-Wiḥdah al-‘Arabiyyah, 1997), hlm. 87.

[7] Az-Zamakhsyari, Al Kasyaf, hlm. 348.

Editor: Tim Redaksi Tajdeed ID