Ali bin Abi Talib merupakan salah satu sahabat sekaligus kerabat terbaik yang pernah dimiliki Nabi. Ia adalah simbol dari kedalaman ilmu dan keteguhan sikap. Oleh sejarah ia dikenang sebagai bāb al-‘ilm (gerbang menuju pengetahuan). Nasihat-nasihatnya, terutama yang tertuang dalam Nahj al-Balāghah, menjadi pegangan banyak manusia dalam mengarungi kehidupan. Di dalamnya ia tidak hanya menuangkan nasihat-nasihat yang berkaitan dengan agama, tapi juga menyasar hal-ihwal sosial, politik dan kebudayaan. Salah satu persoalan yang mendapat perhatian serius Ali bin Abi Talib adalah kemiskinan.
Sejak dulu hingga sekarang kemiskinan menjadi masalah yang amat krusial bagi manusia. Sebab dampak yang diberikannya amat sangat berbahaya. Tidak hanya pada kondisi ekonomi seseorang, tapi juga mental dan moralitasnya. Barang kali ada sebagian orang yang selamat dari ujian kemiskinan. Namun kebanyakan dari mereka justru jatuh dan terjerembab dalam tindakan nista. Pencurian, pembegalan, menjilat dan korupsi yang hari ini kita liat tidak lain adalah akibat atau dampak nyata yang diberikan kemiskinan. Orang yang berada dalam lingkaran kemiskinan tidak jarang rela melakukan apa saja demi mendapatkan penghidupan.
Salah satu ungkapan reflektif yang cukup tajam dilontarkan Ali bin Abi Talib soal kemiskinan ialah saat ia menyebut bahwa “kemiskinan di negeri sendiri terasa seperti keterasingan”. Ungkapan ini mencerminkan kondisi yang banyak kita saksikan hari ini. Secara kasat mata, kita mungkin boleh berbangga diri sebagai masyarakat asli dan pemilik sah Indonesia. Namun berbanding terbalik ketika kita melihat penguasaan ekonomi atas negeri ini. Secara statistik, harta kekayaan Indonesia lebih banyak dimiliki oleh pihak asing, Inilah yang dimaksud oleh Ali bin Abi Talib sebagai keterasingan di negeri di sendiri. Kita menjadi asing bukan karena kita adalah pendatang, tapi kita merasa tak memiliki akses apapun atas negeri sendiri.
Secara struktural, ini tentu bukan kesalahan kita. Pemerintah, sebagai orang yang mengurus negara dan segala hal yang terkait dengannya (terutama aspek ekonomi), mesti bertanggung jawab atas seluruh keterasingan yang dialami rakyatnya. Membiarkan asing sebebas-bebasnya mengeksploitasi isi kekayaan Indonesia dan tidak membiarkan rakyatnya bertumbuh adalah kejahatan terbesar negara. Perkembangan dan pertumbuhan masyarakat, khususnya secara kualitas, mesti mendapat perhatian serius dari negara. Negara mesti mencari bahkan menciptakan anak-anak negeri yang berkapasitas di dunia bisnis dan memberinya kesempatan seluas-luasnya untuk bersaing pihak asing.
Kemiskinan telah membuat seseorang tersungkur. Jangankan berpikir untuk memperbaiki kualitas dan berkontribusi pada negara, menyelesaikan urusan dapur saja mereka masih kewalahan. Orang-orang semacam ini bukan satu dua orang di negeri ini. Baik di media sosial dan dunia nyata kita melihat betapa banyak anak negeri yang berbakat terpaksa harus membunuh mimpi dan harapannya karena ketidakberdayaan. Kemiskinan selalu menjadi pemutus dan pemupus terbaik atas mimpi anak-anak manusia. Ia sangat sanggup untuk mematahkan mental seseorang. Di kesempatan yang lain, kondisi yang serba kurang telah menjadi ujian yang paling serius bagi daya tahan iman. Kemiskinan yang ada telah mendorongnya melakukan tindakan nista. Salah satu tindakan yang jamak dilakukan adalah korupsi.
Harus diakui bahwa persoalan ini sangat jauh dari kata sederhana. Ia dilakukan tidak semata-mata karena yang bersangkutan miskin. Melampaui itu, ada persoalan mental yang perlu penataan serius. Terutama soal keserakahan dan perasaan tidak pernah merasa cukup. Cukup menjadi kata kunci yang paling utama di sini. Sebab sebanyak apapun harta yang dimiliki, jika selalu merasa tidak cukup dan merasa perlu mencari lebih banyak lagi, alamat memilih jalan pintas dan menempuh cara-cara yang menghalalkan segala cara, akan segera dilakukan. Sikap serakah selalu menuntut lebih daripada yang dimiliki. Bahkan Nabi mengatakan, andaikata manusia diberi dua lembah harta, maka ia akan mencari lembah ketiga. Ketamakan tidak pernah mengenal batas. Bahkan secara keras Nabi menyebut perut manusia tidak akan pernah puas sampai kecuali dengan debu (masuk dalam kubur).[1]
Ibnu Hajar ketika menjelaskan ayat ini mengatakan bahwa ada banyak yang bisa menjadi pintu tumbuhnya sifat tamak atau serakah. Salah satunya adalah mata. Dengan mata seseorang dapat melihat berbagai macam kenyamanan dan kenikmatan duniawi. Di sinilah semuanya bermula. Ia tergoda dan tertarik untuk mendapatkan hal yang sama.[2]Makanya tidak salah jika dalam hadis yang lain manusia diperintahkan melihat orang yang di bawah mereka agar lebih banyak bersyukur dan merasa cukup.[3] Sebab jika selalu melihat ke atas, maka yang timbul adalah sifat iri dengki dan melahirkan sifat tamak secara pelan-pelan.
Dengan seruan moral yang ditampilkan di atas, seseorang harus insyaf bahwa untuk menyelamatkan diri dari kemiskinan baik materi dan mental, selain ikhtiar yang keras, kita juga membutuhkan penataan mental yang serius. Sebab apalah harta yang banyak jika ternyata kita masih terus merasa kurang dan kurang. Mengonsolidasikan sikap qana’ah dan syukur dalam hidup adalah tugas utama yang mesti terus dikerjakan. Dengan dua sikap tersebut, kita tidak hanya memiliki keberlimpahan harta, tapi juga kelapangan hidup.
[1] Abī ‘Abdillah Muhammad bin Isma’il al-Bukhāri. Sahīh Bukhāri. Mesir: Dar al-Lu’lu’ah, 1446 H/2025 M, h. 1074
[2] Ibn Hajar al-‘Asqalani. Fath al-Bārī bī Syarh Shahīh al-Bukhãrī, Jilid 11. Riyadh: Dar al-Salām, h. 308.
[3] Abī al-Husain Muslim bin al-Hajjāj al-Qusyairi an-Naisaburi. Sahīh Muslim. Riyadh: Bait al-Afkār ad-Duwaliyah, 1419 H/1998 M, h. 1188

























Kanal Tafsir Berkemajuan
Sebuah media Islam yang mempromosikan tafsir yang progresif dan kontekstual. Hadir sebagai respon atas maraknya tafsir-tafsir keagamaan yang kaku dan konservatif.