Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Tiga Hewan Menarik yang Disebutkan dalam Al-Qur’an

Sumber: istockphoto.com

Hewan  salah satu jenis makhluk hidup yang berada di alam semesta. Dalam kamus Besar Bahasa Indonesia hewan diartikan dengan bintang, sedangkan binatang diartikan makhluk bernyawa yang mampu bergerak (berpindah tempat) dan mampu bereaksi terhadap rangsangan, tetapi tidak berakal budi.

Hewan termasuk bagian dari ayat-ayat kauniyah yang sangat berkaitan dengan manusia. Selain manfaatnya, hewan juga merupakan tanda-tanda kekuasaan Allah yang dapat dilihat langsung oleh manusia. Apalagi, berbagai hewan yang telah disebutkan dalam Al-Qur’an telah dikhususkan manfaatnya untuk kebaikan manusia. Berikut tiga hewan yang menarik untuk dikaji yang terdapat dalam Al-Qur’an:

Ular

Ular disebutkan beberapa kali dalam Al-Qur’an, memiliki kaitannya dengan kisah mukjizat Nabi Musa, salah satunya yaitu QS. al-Qasas ayat 31

وَأَنۡ أَلۡقِ عَصَاكَۚ فَلَمَّا رَءَاهَا تَهۡتَزُّ كَأَنَّهَا جَآنٌّ وَلَّىٰ مُدۡبِرًا وَلَمۡ يُعَقِّبۡۚ يَٰمُوسَىٰٓ أَقۡبِلۡ وَلَا تَخَفۡۖ إِنَّكَ مِنَ ٱلۡأٓمِنِينَ 

Artinya: “dan lemparkanlah tongkatmu. Maka tatkala (tongkat itu menjadi ular dan) Musa melihatnya bergerak-gerak seolah-olah dia seekor ular yang gesit, larilah ia berbalik ke belakang tanpa menoleh. (Kemudian Musa diseru): “Hai Musa datanglah kepada-Ku dan janganlah kamu takut. Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang aman”.

Ular disebut dengan redaksi su’ban, hayyan dan jan. dalam cerita Nabi Musa dikisahkan bahwa tongkat yang ia lemparkan berubah menjadi seekor ular yang merayap (hayyatun tas’a) (taha: 20). Ditempat lain disebutkan tongkat itu bergerak-gerak laksana seekor ular yang gesit (ka’annaha jan) (al-Qasas: 31). Disebutkan pula bahwa tongkat itu berubah menjadi ular yang sebenarnya (su’banun mubin) (al-A’raf: 107, asy-Syu’ara: 32). Perbedaan ungkapan itu bisa dipahami dengan menjadikan beberapa peristiwa itu sebagai sebuah proses. Artinya, pada awalnya tongkat itu berubah menjadi seekor ular kecil yang gesit dan akhirnya menjadi ular besar yang sebenarnya.

Baca Juga  Embrio Transportasi Modern dalam Al-Quran

Dalam tafsir Al-Muyassar dijelaskan bahwa Dan lemparkanlah tongkatmu.” Lalu Musa melemparkannya, maka tongkat itu berubah menjadi seekor ular yang bergerak-gerak cepat. Ketika Musa melihatnya bergerak-gerak seakan-akan dari bangsa ular, ia berbalik lalu menjauh darinya, dan ia tidak menoleh ke belakang karena rasa takut. Maka Tuhannya memangilnya, “Wahai Musa kembalilah kamu kepada-Ku, dan jangan takut. Sesungguhnya kamu itu termasuk orang-orang yang aman dari segala hal yang buruk.

Ular termasuk dalam kelompok Reptilia, yang diklasifikasikan dalam ordo Squamata dan termasuk dalam sub-ordo Ular (Ophidia). Jenis ular disini ada 5 yakni: ular king cobra, ular kobra meludah sumatera, ular sendok jawa, ular hijau dan ular sanca kembang.

Semut

Semut dalam Al-Qur’an disebutkan dalam QS. An-Naml:  18 dan 19. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam surat An-Naml [27]: 18.

حَتّٰىٓ اِذَآ اَتَوْا عَلٰى وَادِ النَّمْلِۙ قَالَتْ نَمْلَةٌ يّٰٓاَيُّهَا النَّمْلُ ادْخُلُوْا مَسٰكِنَكُمْۚ  لَا يَحْطِمَنَّكُمْ سُلَيْمٰنُ وَجُنُوْدُه وَهُمْ لَا يَشْعُرُوْنَ

Hingga ketika sampai di lembah semut, ratu semut berkata, “Wahai para semut, masuklah ke dalam sarangmu agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan bala tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadarinya.

Tafsir Ibnu Katsir menjelaskan Ayat ini menerangkan bahwa pada suatu ketika Sulaiman berjalan dengan tentaranya pada suatu daerah, yang menurut Qatadah, merupakan suatu daerah di lembah Syam. Dalam keadaan yang demikian, tiba-tiba Sulaiman mendengar suara raja semut yang memerintahkan kepada rakyatnya agar segera memasuki liangnya masing-masing, agar tidak terinjak oleh Sulaiman dan bala tentaranya. Sulaiman dan tentaranya bisa menginjak mereka tanpa menyadarinya, karena semut makhluk yang amat kecil, sehingga Sulaiman dan bala tentaranya tidak melihatnya.

Baca Juga  Hewan dalam Al-Quran: Telaah atas Lafaz Thayr (Burung)

***

Ayat ini memperlihatkan adanya komunikasi di antara semut dan kehidupan sosial di bawah kepemimpinan rajanya. Penelitian mengungkapkan bahwa untuk melaksanakan kehidupan sosial yang sangat terorganisasi ini, semut mempunyai kemampuan komunikasi yang canggih. Di bagian kepala semut terdapat seperangkat alat peraba yang dapat mengenali sinyal kimia maupun visual.

Otaknya terdiri atas sekitar setengah juta simpul syaraf, mempunyai mata yang berfungsi baik, dan sungut yang berfungsi sebagai hidung untuk mencium atau ujung jari untuk meraba. Tonjolan-tonjolan yang terletak di bawah mulutnya berfungsi sebagai pencecap. Sedang rambut-rambut yang ada di tubuhnya bereaksi terhadap sentuhan. Walaupun banyak organ yang dimiliki semut untuk berkomunikasi, namun komunikasi utama yang dilakukan adalah komunikasi kimiawi. Mereka berkomunikasi dengan menggunakan feromon, suatu senyawa kimia seperti hormon yang mengeluarkan bau dan dihasilkan oleh salah satu kelenjar di dalam tubuh semut itu. Dengan menggunakan hormon inilah semut berkomunikasi.

Apabila seekor semut mengeluarkan feromon, maka semut lainnya akan menerimanya dengan cara mencium baunya atau menyentuhnya, dan bereaksi terhadapnya. Hingga, katika Sulaiman dan balatentaranya tiba di lembah semut, salah seekor semut itu berkata, Wahai semut-semut sekalian, masuklah ke tempat persembunyian kalian, agar tidak binasa oleh Sulaiman dan balatentaranya karena mereka tidak merasakan keberadaan kalian!

Semut merupakan serangga sosial yang termasuk ke dalam famili formicidae, yang mana merupakan serangga omnivore.  Dalam surat Al-Naml ayat 18 tafsir Al-Azhar menjelaskan semut dimusim panas atau mendekati musim dingin sangat aktif mengumpulkan makanan.

Burung hud-hud

Berbicara mengenai burung hud-hud, tidak akan lepas dengan kisah nabi Sulaiman. Burung hud-hud memiliki peran yang besar dalam kisah hidup dan kepemimpinan nabi Sulaiman. Burung hud-hud membantu menaklukkan negeri Saba yang dipimpin oleh Ratu Bilqis tanpa senjata apapun. Allah memberikan kelebihan kepada burung hud-hud berupa penglihatan tajam yang dapat menyibak kegelapan bumi untuk mencari sumber air. Burung hud-hud menjadi tentara yang sangat setia kepada Nabi Sulaiman hingga akhir hayatnya. Burung hud-hud bukanlah tentara biasa, melainkan untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya mengenai sesuatu yang seharusnya nabi Sulaiman ketahui. Selain itu juga sebagai pengantar surat yang dikirim Nabi Sulaiman untuk Ratu Bilqis, juga menjadi pencerita yang baik ketika ditanya tentang Ratu Bilqis dan kerajaannya.

Baca Juga  Melestarikan Hutan, Melindungi Masa Depan dengan Bersyukur

Terdapat beberapa ayat yang menjelaskan kisah Nabi Sulaiman dengan burung hud-hud, namun ayat-ayat tersebut tidak menyebutkn secara langsung bahwa nama burung tersebut adalah hud-hud. Nama hud-hud disebutkan dalam QS. An-Naml: 20, berikut penjelasan menurut beberapa mufasir.

وَتَفَقَّدَ ٱلطَّيْرَ فَقَالَ مَا لِىَ لَآ أَرَى ٱلْهُدْهُدَ أَمْ كَانَ مِنَ ٱلْغَآئِبِينَ

Artinya: Dan dia memeriksa burung-burung lalu berkata: “Mengapa aku tidak melihat hud-hud, apakah dia termasuk yang tidak hadir?

Tafsir Al-Azhar, Hamka menjelaskan burung hud-hud dalam bahasa Melayu (Indonesia) bernama burung Takur. Memiliki paruh yang dapat menembus batang pohon kelapa yang dijadikan sebagai sarang. Memiliki bunyi satu satu bukan panjang, yang memberi tahukan bawa nama burung tersebut adalah hud-hud. Burung Takur ini juga memiliki mata yang tajam, dapat mengetahui keberadaan air di dalam bumi walau terlihat kering. Tafsir Al-Azhar menyebutkan bahwa beberapa ahli tafsir mengatakan Nabi Sulaiman sangat membutuhkan burung hud-hud dalam perjalanan untuk memberi petunjuk letak air.

Editor: An-Najmi