Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Batas Kebebasan Manusia: Moralitas Di Ujung Tanduk?

Kebebasan
Gambar: Chat GPT

Salah satu persoalan purba yang tak henti-hentinya membanjiri perdebatan manusia ialah tentang kebebasan. Sudah tak terhitung buku yang ditulis oleh filosof atau teolog tentangnya. Beragam motif berada di balik penulisannya. Ada yang demi mengekang dan menundukannya, ada pula yang demi membela dan memperjuangkannya. Di abad ini uraian tentangnya juga menjurus pada kekhawatiran, apakah kebebasan telah menjelma momok yang menakutkan dan membahayakan masyarakat dan alam?

Tulisan ini tentunya tidak mengarah pada penghakiman atau pemasungan terhadap kebebasan. Arah yang ingin dituju ialah bagaimana kesadaran akan kebebasan bisa memberi dampak yang tak pernah dibayangkan. Suatu dampak yang tidak hanya membahayakan diri sendiri, tapi juga masyarakat sekitar. Tidak jarang atas nama kebebasan kita melakukan hal-hal yang bersifat amoral. Pada titik ini, bagaimana cara ideal memandang kebebasan? Al-Qur’an, dalam pandangan penulis, menyediakan berbagai alternatif pandangan untuk merefresh pikiran soal kebebasan hari ini. 

Kebebasan dalam Islam

Salah satu keyakinan yang kuat menghunjam pada diri seorang muslim ialah bahwa kebebasannya bukan sesuatu yang tanpa batas. Ia dipandu oleh nilai-nilai moral yang ada dalam Al-Qur’an dan sunnah Nabi. Hal ini tentunya telah menjadi garis pembeda antara kebebasan versi Islam dan paham-paham lainnya. Ia tidak berdiri di atas pandangan kebebasan yang membolehkan segala. Tapi memagarinya dengan ilmu dan moral. Benar atau tidak (logika), baik atau tidak (moral), masih menjadi pertimbangan. Mungkin ada yang menyanggah, bukankah baik atau tidak adalah sesuatu yang relatif? Di sini Islam menjelaskan bahwa yang hak itu jelas dan batil itu jelas. Dalam kajian etika atau filsafat moral, manusia dinilai punya kemampuan bawaan untuk memetakan mana tindakan bermoral dan tidak. 

Baca Juga  Refleksi Konsep Gender dalam QS. Ali Imran (3): 36

Dalam Islam salah satu pertukaran pikiran yang terus diingat sepanjang masa ialah antata Qadariyah dan Jabariyah. Qadariyah berada di posisi yang membela kebebasan dan manusia punya kehendak untuk menentukan nasibnya. Tidak sebagaimana anggapan orang, manusia bukanlah mahluk yang pasif. Kehendak bebas yang ada pada dirinya telah membuatnya menjadi mahluk yang adi daya sehingga memiliki kontrol atas hidup. Kontras dengan itu, Jabariyah berpandangan bahwa manusia tidak memiliki daya dan upaya selain menjalani takdir dari Allah. Allah meminta bergerak, ia bergerak. Jika Allah meminta diam, ia diam. Di posisi ini ia ditempatkan seolah-olah tidak punya pilihan. Ia laksana kapas yang selalu mengikuti ke mana angin menghembuskannya.[1]

***

Al-Qur’an sendiri sejatinya tidak berada di dua posisi ekstrem tersebut. Ia tetap menetapkan dan menegaskan bahwa Allah adalah Tuhan yang Maha Kuasa. Kekuasaan Tuhan diukur dari sejauh mana ia memiliki akses dan kontrol terhadap mahluk atau ciptaan-Nya.[2] Maka, demikian HAMKA, menganggap manusia sepenuhnya bebas adalah salah satu cara menunjukkan kekurangan dan ketidakkuasaan Tuhan.[3] Dalam Al-Qur’an manusia tetap diposisikan sebagai persona yang memiliki kehendak bebas untuk menentukan pilihan hidup, namun ia tidak lupa bahwa yang menggerakkannya dan membuatnya dapat merealisasikan pilihan-pilihan hidupnya adalah Allah.

Refleksi Moralitas Kita

Posisi Islam ini mesti dibaca sebagai sesuatu yang ideal. Karena ia tidak mengandaikan kebebasan yang tanpa batas. Ia memberikan pedoman tentang menjalani kebebasan yang terukur. Kesadarannya akan kebebasan tidak berpusat pada dirinya, melainkan pada Tuhan sebagai yang Maha Kuasa dan Maha Menentukan. Hal ini penting untuk menjauhkannya dari nilai-nilai serta pikiran-pikiran yang merusak. Tanpa pedoman serta kendali yang jelas, manusia sering jatuh pada tindakan yang picik dan merusak.[4] Ia mesti memahami bahwa kebebasan bukanlah suatu yang liar. Kebebasan selalu berdiri di antara situasi-situasi yang membuatnya berpikir ulang tentang arah dan langkah. Sebagai contoh, kita tak bisa bebas merokok di sembarang tempat. Hanya pada tempat-tempat atau lingkungan-lingkungan tertentu. Ini telah menunjukkan bahwa kebebasan selalu ditentukan oleh di mana keputusan bebas itu dipilih.

Baca Juga  Memberangus Mitos Menyemai Maslahat (2)

Dalam konteks hari ini, kesadaran bahwa kita tak sepenuhnya bebas dan senantiasa dituntun oleh nilai-nilai baik agama atau tradisi, sangat penting adanya. Harga yang dibayar atas kebebasan yang liar tidak selalu murah. Atas nama kebebasan seseorang bisa dengan mudah menebang pohon secara brutal. Atas nama kebebasan seseorang tidak jarang menyengsarakan banyak orang dengan korupsi. LGBT yang hari ini kita liat gentayangan dengan leluasa adalah buah dari kebebasan tersebut. Manusia jadi kehilangan panduan dan kompas moral atas hidupnya. Seandainya ia tetap memiliki kendali atas diri, ia tak akan menempuh jalan-jalan di atas. Jalan yang tidak hanya bahaya tapi juga membahayakan orang. 

***

Di saat banyak orang kesusahan mencari kerja dan tidak mudah mendapat kebutuhan makan, ada segelintir yang rela melakukan tindakan korupsi atas ruang rakyat di angka ratusan, miliyaran hingga triluanan. Saat banyak orang menggantungkan kehidupannya atas alam, para pejabat justru membuat kebijakan yang merusak alam demi menguntungkan para investor. Tindakan-tindakan ini tidak akan dipilih atau dilakukan jika ia tidak merasa memiliki kebebasan penuh atas dirinya. Padahal jika ia sadar dan meyakini secara dalam nilai-nilai yang ada, ia akan jauh dari tindakan merugikan yang demikian dan berpikir puluhan kali sebelum melakukannya.


[1] Hamka. Pelajaran Agama Islam, Jilid 3. Jakarta: Republika, 2018, h. 96  

[2] Muhammad Abdūh. Risālah at-Tauhīd. Beirut: Dar al-Syurūq, 1414 H., h. 45 

[3] Hamka. Pelajaran Agama Islam, Jilid 3. Jakarta: Republika, 2018, h. 96

[4] M. Quraish Shihab. Islam & Lingkungan. Tangerang Selatan: Lentera Hati, 2023, h. 143