Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Resiliensi: Seni Bertumbuh Bersama Ujian

Ujian
Sumber: id.pinterest.com

Manusia modern cenderung memersepsikan ujian sebagai anomali kehidupan. Bagi mereka, ujian adalah sesuatu yang seharusnya tidak terjadi atau minimal harus dihindari. Dalam budaya yang menyanjung kenyamanan, kecepatan, dan kepastian, penderitaan sering kali dipersepsikan sebagai sebuah kegagalan sistem, baik sistem sosial, psikologis, maupun spiritual.

Namun, Al-Qur’an sejak awal justru meletakkan ujian sebagai bagian inheren dari eksistensi manusia. QS. Al-Insan:2 menegaskan hal ini secara tegas sekaligus halus, dengan menghadirkan kerangka antropologis dan teologis yang mendalam.

Manusia: Dari “Bukan Apa-Apa” Menuju Kesadaran

Pada ayat pertama QS. Al-Insan, Allah menegaskan bahwa manusia pada awalnya bukanlah apa-apa. Menurut sebagian ahli tafsir, hal ini merujuk pada keadaan manusia (Nabi Adam As.) sebelum penciptaan, yakni hanya berupa tanah yang berbentuk, namun belum ditiupkan ruh padanya.[1]

Selanjutnya, ayat kedua mengajak kita untuk merenungi mekanisme penciptaan dan kehidupan manusia. Ayat ini diawali dengan perenungan terhadap konteks penciptaan manusia selain Nabi Adam dan Isa As. Ayat tersebut menjelaskan bahwa manusia tercipta dari proses fertilisasi atau percampuran antara sel sperma dan sel telur.[2]

Proses penciptaan manusia di atas setidaknya menunjukkan dua hal. Pertama, frasa nuthfah amsyaj menunjukkan kompleksitas manusia sejak awal penciptaannya. Kedua, menunjukkan bahwa manusia pada mulanya berada dalam kondisi yang sangat rapih, tidak berarti, dan bahkan nyaris tidak diperhitungkan.

Ujian sebagai Mekanisme Pembentukan

Ayat ini kemudian berlanjut,

نَّبْتَلِيْهِ فَجَعَلْنٰهُ سَمِيْعًا ۢ بَصِيْرًا

“…Kami hendak mengujinya, karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat.

Baca Juga  Hikmah Dibalik Dari Ujian Buruk

Menariknya, ayat ini menegaskan bahwa ujian adalah bagian inheren dari kehidupan manusia. Sebagaimana dikatakan oleh Hamka dalam Tafsir al-Azhar bahwa ujian telah ‘mendampingi’ manusia tepat setelah dia lahir dari rahim ibunya.[3] Maka dari itu, sebagaimana telah disebutkan di awal, ujian bukanlah gangguan terhadap rencana hidup, melainkan bagian dari desain Allah untuk ‘membentuk’ manusia.

Dalam perspektif ini, ujian tidak identik dengan hukuman, apalagi tanda kebencian Tuhan. Sebaliknya, ujian adalah mekanisme pembentukan (formative process). Melalui ujian, potensi manusia diuji, disaring, dan diarahkan. Tanpanya, manusia akan tetap berada pada level biologis semata: ia hidup, tetapi belum sungguh-sungguh ‘menjadi’.

“Mendengar” dan “Melihat” sebagai Buah Ujian

Berbagai literatur tafsir klasik, seperti Tafsir Ibnu Katsir, pada umumnya menempatkan pendengaran dan penglihatan sebagai anugerah ilahi yang diberikan karena manusia akan diuji, yakni sebagai perangkat epistemik dan moral agar ia mampu memahami perintah dan larangan, serta layak dimintai pertanggungjawaban.[4]

Namun jika dilihat melalui perspektif yang lebih luas, ujian bukan hanya sekedar beban taklif syar’i, tetapi juga dinamika hidup yang dialami oleh seorang manusia setiap harinya. Oleh karena itu, agaknya pemaknaan ini perlu diperluas agar lebih memberikan insight bagi pembaca di era kontemporer.

Menariknya, ayat ini mendahulukan “ujian” baru setelahnya “Kami jadikan dia mendengar dan melihat”, bukan sebaliknya. Ini seakan menyiratkan pesan mendalam bahwa manusia baru akan benar-benar “mendengar” dan “melihat” setelah ia berhadapan dengan ujian. Tanpanya, pendengaran hanya menjadi instrumen menerima suara dan penglihatan sekadar menangkap bentuk. Ujianlah yang mengubah keduanya menjadi instrumen makna.

Dalam konteks kehidupan, banyak orang yang baru memahami hakikat sabar setelah diuji, mengenal arti syukur setelah kehilangan, dan menyadari nilai kebenaran setelah berada di persimpangan sulit. Dengan kata lain, ujian berfungsi sebagai lensa eksistensial yang mempertajam cara manusia memandang hidup dan menaikkan levelnya dari hidup sekedar hidup, menjadi hidup yang bermakna.

Baca Juga  Belajar Keindahan Puasa Lewat Kisah Keluarga Nabi dalam Al-Qur’an

Resiliensi: Bertumbuh, Bukan Sekadar Bertahan

QS. Al-Insan:2 mengajarkan bahwa kehidupan manusia sejak awal memang dirancang sebagai ruang ujian. Manusia bermula dari ketiadaan, bergerak melalui proses yang rapuh, lalu ditempa oleh berbagai ujian untuk mengasah dan mengaktualisasikan potensi yang dia miliki. Maka, berdasarkan kerangka ini, sikap resilien—tangguh, mampu bangkit dari situasi sulit—adalah keterampilan dasar yang perlu dimiliki.

Ujian akan selalu hadir dalam berbagai bentuk, seperti kegagalan, kehilangan, ketidakpastian, dan luka batin. Namun, Al-Qur’an mengingatkan bahwa justru melalui ujian itulah manusia berkesempatan untuk benar-benar menjadi manusia; makhluk yang sadar, reflektif, dan bermakna. Bukan hanya hidup untuk sekedar ‘hidup’.

Menjadi resilien bukan berarti meniadakan rasa sakit dan kebal dari berbagai penderitaan, tetapi mengajak manusia untuk tidak berhenti pada penderitaan itu sendiri dan menemukan kebijaksanaan dari segala ujian.


Daftar Pustaka

[1] Hamka, Tafsir al-Azhar (Singapura: Pustaka Nasional PTE LTD, tt), Vol. 10, 7784.

[2] Muhammad Mutawalli al-Sya’rawi, Tafsir al-Sya’rawi (Kairo: Akhbar al-Yaum, 1991), 16599.

[3] Hamka, Tafsir al-Azhar, Vol. 10, 7786.

[4] Isma’il bin ‘Umar bin Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim (Riyadh: Dar Thayyibah li al-Nasyr wa al-Tauzi’, 1999), Vol. 8, 285-286.

Editor: Tim Redaksi Tajdeed ID