Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Sistem Saraf Manusia dalam Al-Qur’an Perspektif Tafsir al-Jawahir

Saraf Manusia
Sumber: id.pinterest.com

Manusia adalah makhluk paling sempurna karena memiliki kemampuan berpikir yang memungkinkannya membedakan baik dan buruk sesuai petunjuk Tuhan, serta otak yang kompleks untuk mengatur emosi, perilaku, dan fungsi tubuh. Berkaitan dengan hal ini, Al-Qur’an merupakan sumber ilmu pengetahuan yang memiliki kebenaran mutlak, tidak hanya membahas aspek ibadah dan muamalah, tetapi juga memuat wawasan ilmiah berupa fakta-fakta sains. Petunjuk ilmiah tersebut tersaji dalam ayat-ayat Al-Qur’an yang tersebar di berbagai surat. Kita dapat menyebut ayat tersebut sebagai ayat-ayat kauniyah. Salah satu bentuk isyarat ilmiah yang terdapat pada Al-Qur’an berkaitan dengan sel saraf.[1]

Sistem Saraf dalam Sains

Sistem saraf adalah jaringan neuron yang saling terhubung dan bekerja mengirimkan sinyal ke seluruh tubuh. Ia mengatur sensasi, persepsi, pemikiran, dan perilaku, serta mengolah rangsangan dari lingkungan luar maupun dalam tubuh untuk menghasilkan respons yang sesuai. Karena seluruh organ berada di bawah kendalinya, kerusakan akibat racun dapat mengganggu berbagai fungsi tubuh.[2] Pada manusia, sistem saraf terbagi menjadi sistem saraf pusat (otak dan sumsum tulang belakang) dan sistem saraf tepi (somatik dan otonom).[3]

Sistem saraf pusat berfungsi memproses semua rangsangan tubuh. Otak dan sumsum tulang belakang dilindungi oleh tulang serta tiga lapisan meninges (duramater, arachnoid, dan piamater) dengan cairan serebrospinal sebagai pelindung tambahan.[4] Otak sebagai pusat kendali tubuh mengatur berpikir, emosi, gerakan, dan fungsi organ, terdiri dari otak besar, otak kecil, dan medula oblongata.

Otak besar (cerebrum) mengatur memori, pikiran, perasaan, gerakan, dan kepribadian melalui dua hemisfer dan cortex cerebri yang terbagi menjadi lobus frontal, parietal, temporal, dan oksipital. Otak kecil (cerebellum) berfungsi menjaga keseimbangan dan koordinasi gerak. Medula oblongata menghubungkan otak dengan sumsum tulang belakang serta mengatur jantung, pernapasan, dan suhu tubuh. Sumsum tulang belakang menghantarkan impuls antara otak dan tubuh serta menjadi pusat gerak refleks.[5]

Baca Juga  Tafsir Ilmi Q.S Ar-rum Ayat 54: Perkembangan Fisik Manusia

Sistem saraf perifer menghubungkan tubuh dengan sistem saraf pusat. Ia terdiri atas saraf di luar otak serta sumsum tulang belakang, termasuk saraf kranial, saraf spinal, ganglion, reseptor sensorik, serta sistem saraf otonom (simpatik dan parasimpatik). Sistem ini membawa informasi sensorik ke pusat dan mengirim respons motorik ke organ tubuh.[6] Ganglion adalah kumpulan neuron di luar sistem saraf pusat, terdiri atas ganglion sensorik dan otonom. Ganglion simpatik berada sepanjang tulang belakang, sedangkan ganglion parasimpatik terletak dekat atau di dalam organ. Sel ganglion berinti bulat atau lonjong dan dikelilingi sel satelit sebagai penunjang.[7]

Sistem Saraf dalam Al-Qur’an

Dalam Al-Qur’an, pembahasan mengenai sistem saraf juga tersirat dalam beberapa ayat. Perbedaan utama antara manusia dan hewan terletak pada keberadaan akal dan kemampuan berpikir. Manusia diciptakan oleh Allah Swt. sebagai makhluk yang sempurna karena dianugerahi akal dan hawa nafsu. Allah memberikan otak sebagai bagian dari sistem saraf, khususnya sistem saraf pusat, yang berperan dalam mengirimkan sinyal dan informasi ke sistem saraf tepi sehingga manusia dapat merespons rangsangan dan melakukan berbagai aktivitas. Beberapa ayat Al-Qur’an yang menyinggung tentang sel saraf ialah QS. Hud:56, Al-‘Alaq:15–16, dan Ar-Rahman:41.[8]

Surah Al-‘Alaq:15–16 menggambarkan Abu Jahal sebagai pendusta dan durhaka, di mana ubun-ubunnya sebagai simbol kendali perilaku akan ditarik sebagai hukuman. Dalam budaya Arab, menarik ubun-ubun melambangkan merendahkan seseorang. Ar-Rahman:41 menjelaskan bahwa orang kafir akan diseret dengan ubun-ubun mereka menuju neraka, yang menunjukkan bahwa bagian tersebut mewakili seluruh tubuh. Hud:56 menegaskan bahwa kendali manusia tetap bergantung sepenuhnya pada kekuasaan Allah; otak hanya berfungsi karena izin-Nya.

Menurut Keith L. Moore, lobus frontal adalah pusat pengambilan keputusan, sementara anggota tubuh lain hanya menjalankan perintahnya. Namun, segala keputusan manusia tetap berada dalam kehendak Allah. Sistem saraf menjadi bukti kesempurnaan ciptaan-Nya dan masih menyimpan banyak rahasia. Karena itu, manusia wajib mensyukuri dan menjaganya melalui perilaku yang baik sebagai bentuk ketakwaan kepada Allah.[9]

Baca Juga  Lebih Dekat Dengan Sains Melalui Tafsir Al-Jawahir

Penafsiran Ayat-Ayat tentang Sistem Saraf dalam Tafsir Al-Jawahir

Syekh Ṭanṭhāwī Jauharī (1870–1940) adalah ulama Mesir berpikiran terbuka yang dikenal menaruh perhatian besar pada fenomena alam. Hal ini tercermin dalam karya tafsirnya, Al-Jawāhir fī Tafsīr al-Qur’ān al-Karīm, yang membahas banyak hal terkait ilmu pengetahuan alam. Karena tafsir inilah kemudian ia masyhur sebagai seorang filsuf. Tafsir al-Jawāhir terdiri atas 25 jilid dan satu jilid tambahan. Al-Jawahir termasuk tafsir bil ra’yi bercorak ilmiah, menggunakan metode taḥlīlī, dan menafsirkan ayat secara rinci. Nama “al-Jawāhir” menggambarkan ayat-ayat kauniyah sebagai mutiara berisi isyarat ilmiah. Dalam menafsirkan ayat tentang sistem saraf, Ṭanṭhāwī menjelaskan istilah nashiyah (ubun-ubun) pada Hud:56 dan Ar-Rahman:41 sebagai bagian depan kepala yang terkait dengan fungsi sel saraf.[10]

Tafsir al-Jawahir terhadap QS. Hud:56

اِنِّيْ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللّٰهِ رَبِّيْ وَرَبِّكُمْۗ مَا مِنْ دَاۤبَّةٍ اِلَّا هُوَ اٰخِذٌۢ بِنَاصِيَتِهَاۗ اِنَّ رَبِّيْ عَلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍ

Artinya: “Sesungguhnya aku bertawakal kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak satu pun makhluk yang bergerak (di atas bumi) melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya (menguasainya). Sesungguhnya Tuhanku di jalan yang lurus (adil).”

Thantawi menafsirkan ayat ini dengan pendekatan ilmiah dan teologis. Ia menjelaskan bahwa kata nashiyah menunjukkan ketundukan total makhluk kepada Allah. Secara biologis, ubun-ubun berkaitan dengan lobus frontal, pusat pengendali perilaku dan keputusan manusia. Karena itu, makna “Allah memegang ubun-ubun” menegaskan bahwa kehendak dan arah hidup manusia berada di bawah kekuasaan-Nya. Tafsir ini menunjukkan integrasi antara anatomi otak dan tauhid, serta bahwa temuan ilmu modern semakin menguatkan isyarat Al-Qur’an.[11]

Tafsir al-Jawahir terhadap QS. Ar-Rahman:41

يُعْرَفُ الْمُجْرِمُوْنَ بِسِيْمٰهُمْ فَيُؤْخَذُ بِالنَّوَاصِيْ وَالْاَقْدَامِۚ

Artinya: “Para pendosa dikenali dengan tanda-tandanya, lalu direnggut ubun-ubun dan kakinya.”

Thantawi menafsirkan ayat ini dengan mengaitkannya pada konsep keadilan dan identitas manusia. Menurutnya, “tanda-tanda orang berdosa” tidak hanya bermakna moral, tetapi juga ilmiah. Pasalnya, setiap manusia memiliki ciri biologis unik, seperti sidik jari, wajah, dan ekspresi yang dapat menjadi penanda. Ia melihat ayat ini sebagai isyarat terhadap biometri, genetika, dan sistem saraf sebagai dasar identitas manusia. Ungkapan “dipegang ubun-ubun dan kakinya” menunjukkan totalitas penyerahan diri di hadapan keadilan Allah. Tafsir ini mencerminkan gaya Thantawi yang menghubungkan ayat dengan temuan ilmiah sekaligus menjaga makna spiritualnya.[12]

Baca Juga  Katak, Ular, dan Kalajengking: Pesan Alam dalam Tafsir Al-Qur'an

Daftar Pustaka

[1] Maulidya Hasanah, “Perspektif Al-Qur’an tentang Sel Saraf dalam Kajian Integrasi Agama dan Sains”, Karakter : Jurnal Riset Ilmu Pendidikan Islam, Vol. 01, No. 03 (Agustus, 2024), 1.

[2] Raimundus Chalik, Anatomi Fisiologi Manusia (Jakarta: Kemenkes RI, 2016), 57.

[3] Sri Sutarni, Neurotoksikologi Klinis (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press), 35.

[4] Djoko Ariswowyom IPA Terpadu (Biologi, Kimia, Fisika) (Bandung, PT Grafindo Media Pratama, 2007), 54.

[5] Miftahul Jannah, “Perkembangan Otak Pada Masa Anak Usia Dini: Kajian Dasar Neurologi dan Islam”, Bunayya: jurnal Pendidikan Anak, Vol. 09, Vol. 01 (Juli, 2023), 174-176.

[6] Syalwa Meutia, dkk, “Sistem Syaraf Pusat dan Perifer”, Medula, Vol. 11, No. 03 (Oktober, 2023), 309.

[7] Ibid., 310.

[8] Ahmad Farid, “Tatanan Skema Neuron Dan Benak (Syaraf & Otak) Makhluk Hidup Dalam AlQur’an”, JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN KEBUDAYAN DAN AGAMA, Vol. 01, No. 04 (Oktober, 2023), 104.

[9] Adinda Retno Wulan, “Sistem Saraf Manusia dalam Perspektif Al-Qur’an”, Jurnal Cahaya Mandalika (JCM), Vol. 03, No. 02 (TB, 2022), 3.

[10] Siti Fahima, “Al-Jawahir Fi Tafsiril Al-Qur’anil Karim Karya Tanthawi Jauhari: Kajian Tafsir Ilmi”, Jurnal Al-Furqon, Vol 06, No. 01 (Juni 2023), 5.

[11] Tantawi Jauhari, Al-Jawahir Fi Tafsir Al-Qur’an, Jilid 3 (Beirut: Dar AlKotob Al-Ilmiyah, 2016), 165.

[12] Tantawi Jauhari, Al-Jawahir Fi Tafsir Al-Qur’an, Jilid 12, 74.

Editor: Tim Redaksi Tajdeed ID