Dalam catatan sejarah, semangat renaisans mengantarkan manusia ke dalam babak baru kehidupan, yang mana ditandai dengan kebebasan berfikir, sehingga manusia begitu optimis bahwa segala problematika yang terjadi dapat diatasi dengan rasio. Hal inilah yang menandai sebuah fase baru dalam kehidupan manusia yang disebut sebagai era modern.
Pada awalnya kehadiran modernitas digadang-gadang layaknya sebuah pelita bagi kehidupan manusia. Modernitas hadir dengan sebuah bentuk akan penuntasan manusia dari problematika yang telah dialami manusia. Namun, seiring berkembangnya zaman, modernitas justru menyimpan sebuah problematika lain yang lebih besar.
Dari problematika tersebut, Al-Quran sejak 14 abad yang lalu telah memberikan isyarat mengenai pengentasan dari problematika tersebut yaitu dengan konsep wasathiyyah. Untuk membumikan bagaimana wasathiyyah mampu mengentaskan problematika modernitas, maka hal yang diperlukan adalah mengkaji tafsir sosiologi mengenai makna dan bagaimana modernitas hadir serta hidup dalam masyarakat.
Memaknai Modernitas
Untuk Mengenali wajah modernitas hendaknya kita melihat terlebih dahulu bagaimana definisi serta karakteristik dari modernitas itu sendiri. Ditinjau dari definisinya istilah modernitas sedikit banyak mengandung tidak kepastian. Hal ini dapat dilihat dari segi maknanya, yang berarti just now atau most recent. Dari definisi inilah modernitas membawa ketidakjelasan kapan dia berawal dan lahir menjadi sebuah realitas dalam masyarakat, sehingga tidak ada kepastian serta kebakuan kapan istilah tersebut berlaku. Mungkin 100 tahun lalu seseorang bisa menyebut bahwa pada hari itu adalah modern, tetapi jika ditinjau dari kaca mata sekarang bisa jadi hal tersebut sudah tidak modern bahkan dianggap kuno.
Terlepas dari arti tersebut kata modernitas pada intinya dapat dipahami dengan cara menelisik sejarah serta karakteristiknya, yang mana sebuah fase yang dimulai pada abad 16 M yang ditandai dengan diakuinya rasionalitas yang mampu memecahkan segala permasalahan, progresitivas, kemajuan serta kebaruan yang teraplikasi dalam segala aspek kehidupan masyarakat, yang mana dalam wujudnya berupa ilmu pengetahuan dan teknologi.
Wajah Modernitas
Hampir dipastikan bahwa modernitas layaknya jiwa dalam kehidupan manusia saat ini, segala aktivitas manusia selalu berhubungan dengan produk-produk modernitas. Mulai dari ekonomi, politik, sosial, pendidikan atau bahkan makanan semuanya tidak ada yang terlepas dari produk-produk modernitas.
Misalnya internet, dapat dipastikan bahwa segala urusan manusia, apalagi dalam masa pandemi saat ini, semuanya bergantung pada internet. Internet dapat menyediakan kemudahan serta solusi yang luar biasa bagi problematika kehidupan manusia, mulai dari efektivitas waktu, efesiensi biaya, serta mudahnya sharing dan akses informasi yang ada, sehingga tanpa disadari sedikit demi sedikit manusia tidak bisa terlepas dari modernitas.
Dengan fakta yang ada modernitas layakanya nafas segar bagi kehidupan manusia. Modernitas juga menunjukan bahwa ia merupakan pilihan tepat dalam membebaskan manusia dari situasi yang tertinggal, terbatas, kemiskinan serta kebodohan menuju kehidupan yang lebih maju. Hal ini juga terindikasi dari berkurangnya tingkat kelaparan, kematian akibat penyakit serta komunikasi dengan akses yang tidak dibatasi oleh jarak.
Tetapi modernitas bukanlah sebuah realita tunggal, ia layaknya titik ganda. Dalam satu titik modernitas menampilkan diri sebagai penuntas problematika kehidupan manusia dan di titik lain modernitas juga menyimpan problematika baru yang lebih komplek dan rumit.
Dapat kita ambil contoh, bahwa dalam kehidupan modern manusia terjebak dalam pola irrasional dan hipperrealitas, yang mana kehidupan menjadi simulasi dan simulasi justru menjadi kehidupan. Dalam konteks sekarang yaitu dunia maya dan dunia nyata. Manusia seakan-akan lebih sibuk membentuk identitas dalam dunia maya dari pada dunia nyata, sehingga terjadi ketimpangan identitas ketika dalam kehidupan nyata dan maya.
Sedangkan dalam hal konsumsi, Jean Baudrillad menganalisa bahwa pola konsumsi dalam kehidupan modern tidak dilandaskan pada kebutuhan hidup melainkan pemenuhan atas kebutuhan sosial atau atribut masyarakat, dalam artian mereka menciptakan perasaan tentang siapa mereka melalui apa yang mereka konsumsi, hakikatnya mereka mengkonsumsi tanda dan tanda tersebut menuntun seseorang untuk mendefinisikan siapa dirinya. Misallnya orang lebih memilih membeli ayam di KFC dari pada di warung atau pinggir jalan, karena pada dasarnya yang mereka inginkan atau butuhkan bukanlah ayam melainkan tanda atau citra dari KFC yang menunjukkan strata sosial kelas atas.
Adapun dalam aspek militer, modernitas dengan inovasinya menjadikan nuklir sebagai senjata dalam melibatkan dampak buruk yang begitu besar, antara lain akan menimbulkan korban yang besar serta rusaknya alam. Selain itu dalam hal kesehatan, produk modernitas seperti Junkfood dan teknologi dalam pemakaianya yang lama juga menyebabkan sebuah penyakit yang mematikan bagi manusia. Dalam hal lain pola-pola kerja modernitas juga membawa aspek-aspek lain antara lain: individualism, alienisasi, totalitarian serta sekulerisai yang menyebabkan kegersangan dan melencengnya manusia dari fitrahnya.
Fenomena-fenomena tersebut menunjukkan bahwa modernitas bukanlah permasalahan hitam putih antara tetap menjalani atau meninggalkan, melainkan sebuah hal yang harus dipilah dan dibaca dengan kritis, sehingga terwujudnya keseimbangan dalam hidup.
Wasathiyyah dan jalan kehidupan modernitas
Dengan problematika tersbut, islam dengan rahmatan lil alamin dan sholih li kulli zaman wal makan menunjukan sebuah isyarat mengenai solusi dalam kehidupan modern. Salah satunya dengan konsep wasathiyyah, yang mana dijelaskan dalam surat al-baqarah 143 “wa jaalnakum ummatan wasatahan”, yaitu bahwa Allah telah menjadikan umat islam sebagai ummat Wasath .
Dalam tafsir al-Munir kaya Wahbah Zuhaili maksud dari ummat wasath adalah mereka yang sebaik-baik umat, tidak kelewat batas dan tidak pula teledor dalam urusan agama dan dunia. Sedangkan dalam Tafsir al-Misbah dijelaskan bahwa ummat wasath adalah ummat pertengahan, dalam artian moderat dan teladan serta beraku adil dan seimbang baik urusan dunia atau akhirat.
Dari hal tersebut dapat diambil nilai bahwa makna dari wasathiyyah yaitu sebuah keadilan dan keseimbangan, yang mana keseimbangan ini mengantarkan manusia menuju kehidupan yang terbaik. Hal ini selaras dengan problematika yang dihasilkan oleh kehidupan modern, jika dilihat inti dari problematika kehidupan modern tersebut adalah tidak adanya keseimbangan, manusia hanya mengamati sisi keuntungan dan jarang memperhatikan sisi lainnya.
Oleh karena itu, untuk menjalani kehidupan modern yang ideal, maka diperlukkan sebuah sikap serta identitas yang mana dapat memilah mana yang terbaik dari pilihan-pilihan yang dihasilkan oleh modernitas yaitu sikap wasathiyyah. Di sisi lain, sikap wasathiyyah juga menggandung isyarat agar terciptanya sebuah keseimbangan dengan landasan kesadaran, kehati-hatian serta pertimbangan, yang mana dikuatkan dengan lafadz selanjutnya yaitu “wa yakuna al-rasula alaikum syahida”. Lafadz syuhada mengimplikasikan sebuah proses melihat, manganalisa serta merefleksikan hal yang berkembang sesuai zamnaya, dengan acuan “wa yakuna ar-rasulu alaikum syahida” yaitu Rasulullah sebagai pusat nilai dan tolok ukur kehidupan, Dengan tersebut menunjukan bahwa konsep wasathiyyah dapat menjadi alternatif dalam menjalani kehidupan modern.
Editor: An-Najmi



























Leave a Reply