Secara etimologis, pengertian orientalisme adalah study of Eastern Culture (studi kajian tentang budaya ketimuran). Orientalisme merupakan gabungan dari dua kata dasar, yaitu orient dan isme. Secara bahasa orient berasal dari bahasa Latin oriens yang dalam penggunaannya berarti Terbit untuk merujuk kepada arah terbit matahari “direction of rising sun” yaitu Timur (East).
Sedangkan kalau secara geografis kata ini dapat diartikan sebagai negara-negara yang berada di sebelah timur, yaitu wilayah yang berada di kawasan Timur Dekat (negara-negara Asia yang dekat dengan Benua Eropa, seperti Turki) hingga Timur Jauh (Jepang, Korea, China), dan kawasan Asia Selatan serta kawasan Timur Tengah dari Arab hingga Afrika. Sedangkan kata isme adalah imbuhan yang menunjukkan arti suatu doktrin, sistem, pendirian, dan faham keyakinan. Secara sederhana Orientalisme adalah istilah untuk kajian tentang unsur-unsur budaya timur di Barat oleh orang-orang (entah itu penulis, sejarawan dll).
Perkembangan Makna Orientalisme
Adapun pengertian Orientalis yaitu “a specialist in the languages, civilizations of the countries of the orient” (seorang ahli dalam bidang bahasa, peradaban dan lain sebagainya di negara-negara Timur). Dalam (Akh Minhaji, 2020) disebutkan menurut Edward W. Said: “Siapa saja yang mengajar, menulis, atau meneliti tentang ketimuran bisa disebut orientalis, dan semua ini mencakup apakah orang itu seorang antropolog, sosiolog, sejarawan, atau ahli bahasa. Apakah yang dikaji merupakan aspek-aspek spesifik atau umum, semua digolongkan sebagai orientalis.
Dalam perkembangannya, banyak yang melihat istilah orientalis sebagai makna yang bersifat negatif, dan karenanya kebanyakan penulis sangat hati-hati ketika menyebut seorang orientalis. Banyak diantara para sarjana dalam bidang keislaman (atau Arab) lebih senang menyebut dirinya sebagai islamicist (ahli tentang Islam) atau arabist (ahli tentang Arab) daripada istilah orientalist.
Namun perlu diketahui juga bahwa tidak semua kalangan, memaknai orientalisme sebagai suatu hal yang negative. Ada juga yang memandang orientalisme sebagai sesuatu yang netral dan bersifat alami dalam melihat realitas yang ada. Berdasarkan penjelasan diatas, bisa dilihat bahwa istilah orientalisme telah menjadi satu istilah menarik sekaligus kontroversial yang tidak jarang dimaknai sesuai dengan perspektif masing-masing.
Kontroversi yang ada bukan tanpa sebab, melainkan karena pada masa-masa awal kemunculannya, kajian Orientalisme di Barat banyak mengandung hal subyektif, salah satunya kajian tentang Al-Qur’an dan Nabi Muhammad SAW. Banyak karya-karya orientalis yang menyatakan bahwa Al-Qur’an tidak otentik dan perlu di tinjau kembali, Nabi Muhammad hanya mengikuti kitab orang yahudi dan Kristen dsb. Tentunya hal ini memicu kemarahan bagi umat muslim.
Studi Qur’an di Barat
Secara umum studi Qur’an maknanya adalah analisis terhadap Qur’an. Kalau secara istilah studi Qur’an dapat dimaknai dengan : analisis tekstual historis terhadap Qur’an dan lingkungan Qur’an dan juga analisis tekstual historis kepada literature-literature turunan Qur’an yaitu tafsir. Selanjutnya bagaimana para orintalist mengkaji al-Qur’an ?.
Dalam hal ini mereka mengkaji al-Qur’an layaknya pandangan mereka terhadap naskah agama-agama yang lain, yaitu dengan menggunakan pendekatan historisitas dan lain sebagainya. Karena mereka menganggap bahwa agama itu adalah sejarah masa lalu, maka pendekatan ilmiah untuk mengkajinya adalah dengan melalui pendekatan sejarah.
Selanjutnya tentang bahasannya, atau apa yang dikaji?. Menurut Fazlur Rahman[3], (1332-1408 H/1919-1988 M), kajian terhadap al-Qur’an di Barat berdasarkan literature Barat modern (karya-karya yang muncul) dapat di bagi ke dalam tiga aspek :
Pertama, Karya-karya yang mencari pengaruh ide-ide Yahudi atau Kristen dalam Al-Qur’an (work that seek to trace the influence of Jewish or Christian ideas on the Qur’ān). Kedua, Karya-karya yang membahas rangkaian kronologis ayat-ayat Al-Qur’an (work that attempt to reconstruct the chronological order of the Qur’ān). Ketiga, Karya-karya yang menjelaskan keseluruhan atau aspek-aspek tertentu dari Al-Qur’an (work that aim at describing the content of the Qur’an, either the whole or certain aspects).
Kesimpulan
Dari beberapa penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa istilah Orintalisme awalnya digunakan untuk menyebutkan istilah kajian tentang unsur-unsur budaya timur di Barat oleh orang-orang (entah itu penulis, sejarawan dll). Akan tetapi dalam perkembangannya orientalisme dimaknai dengan suatu hal yang negative karena ada beberapa orientalis yang menulis karyanya secara subyektif dan merugikan orang-orang Timur terutama agama Islam. Akan tetapi perlu di ingat bahwa tidak semua kajian oleh orientalis bersifat subyektif, ada juga karya yang obyektif bahkan digunakan oleh akademis muslim sebagai sumber refrensi. Wallahu’alam bish Shawab.




























Leave a Reply