Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Menyelami Sunatullah dan Kenapa Kita Mesti Hijrah

Sumber: https://persis.or.id

“Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunatullah. Oleh karena itu, berjalanlah di muka bumi dengan memerhatikan bagaimana akibat (yang diderita oleh) orang-orang yang mendustakan (kebenaran). Inilah penerangan bagi manusia, dan hidayah serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imran : 137-138)

Jika alam punya hukum, begitu pula sejarah. Demikianlah keteraturan ciptaan Tuhan. Mereka bergerak di dalam sebuah desain besar. Tuhan telah menanamkan ilmu di dalam semua benda dan peristiwa di semesta. Dan manusia ditugaskan menjadi khalifah, yakni wakil Tuhan yang bertugas mengungkap ilmu yang bersebaran itu.

Demi tugas kekhalifahan tersebut, manusia diberkati dengan perangkat akal. Mereka yang menggunakan akalnya dengan benar niscaya akan mampu mengungkap tabir alam. Adapun proses pengungkapan tersebut takkan pernah berakhir, sebab ilmu Tuhan tidaklah terbatas. Manusia hanya mampu menggali semampunya. Tuhan pun berfirman dalam Al-Qur’an “…dan tidaklah aku beri kamu (manusia) ilmu, kecuali sedikit sekali”. Melalui yang sedikit itulah manusia mengenal tanda-tanda kebesaran-Nya.

Sebagian orang, meniliti kebesaran Tuhan dengan mengamati berbagai peristiwa alam. Lalu dari situ berkembanglah sains. Terungkaplah hukum-hukum yang bersifat tetap dan universal seumpama hukum gravitasi, hukum gerak, hukum kausalitas dan sebagainya. Keberhasilan manusia mengungkap ilmu-ilmu tersebut telah mengantarkan manusia menuju kemajuan ilmu dan teknologi sebagaimana yang kita rasakan sekarang.

Namun, hukum-hukum yang bersifat tetap dan universal itu tak hanya tertanam dalam pergerakan alam. Gerak sejarah manusia pun mengandung hukum-hukum yang niscaya. Itulah yang diistilahkan sebagai sunatullah. Maka, wajar bung Karno terus menerus menekankan agar kita jangan sampai melupakan sejarah (jasmerah). Sebab, di dalamnya—sebagaimana yang dibahasakan Al-Qur’an— terdapat “penerangan bagi manusia, dan hidayah serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.”

Baca Juga  Rasulullah: Wirausahawan Teladan Penuh Akhlak

Sunatullah Dalam Kisah Al-Qur’an

Al-Qur’an menaruh porsi yang cukup besar untuk menerangkan sejarah umat terdahulu. Ada banyak kisah mengenai kesuksesan ataupun kehancuran yang menimpa umat sebelum kita. Hal yang perlu kita perhatikan ialah sebab-sebab dibalik kesuksesan ataupun kehancuran tersebut. Tujuannya jelas, agar kita dapat bergerak ke arah yang lebih baik dan terhindar dari kerusakan dan kehancuran.

Dalam kisah-kisah Al-Qur’an, terdapat saripati mengenai ketetapan sunatullah. Bahwa kehancuran dan kejayaan umat terdahulu yang diterangkan di dalamnya, selalu bisa terulang sepanjang masa. Dengan syarat, terpenuhi sebab-sebabnya.

Firaun misalnya, dihancurkan karena kesombongannya atas kepemilikan materi yang luar biasa. Ia mengangkat dirinya sendiri sebagai Tuhan, lalu dengan sewenang-wenang memasung kebebasan rakyatnya sehingga rakyat terpaksa mengikuti segala kemauannya tanpa punya pilihan lain. Sebaliknya, orang-orang yang menjilat dan mau tunduk pada keburukan Fir’aun mendapatkan privilese.

Kaum Nabi Nuh merendahkan Nabinya dan menganggap remeh ajaran yang dibawanya. Mereka menolak kebenaran yang disampaikan Nabi Nuh sebab mereka menyaksikan bahwa Nabi Nuh dan pengikutnya tak lebih hebat dibanding mereka.

Kaum Madyan yang mencurangi timbangan, kaum Sodom yang berperilaku asusila, serta kaum Ad yang begitu angkuh karena kemampuan mereka dalam membangun perkotaan dengan gedung-gedung yang menjulang tinggi. Mereka semua akhirnya menemui ajalnya dan mendapatkan azab yang pedih dari Allah dikarenakan akumulasi keburukan dan penyimpangan yang mereka lakukan.

Pesan Penting Kisah Umat Terdahulu

Kehancuran mereka adalah simbol. Keburukan yang mereka lakukan serta azab yang mereka terima merupakan tanda bagi orang yang ingin menggunakan akal. Bahwa setiap keburukan—bila terakumulasi dan menyebar secara luas—akan berujung kehancuran. Maka perhatikan bagaimana Al-Qur’an memberi peringatan : ..berjalanlah di muka bumi dengan memerhatikan bagaimana akibat (yang diderita oleh) orang-orang yang mendustakan (kebenaran)..

Dan seperti hukum alam, sunatullah juga bersifat pasti. Ia akan selalu berpotensi untuk terulang. Hanya saja, terjadinya ketetapan itu tidak pasti waktunya, terkadang masyarakat yang buruk segera mendapatkan azabnya dengan cepat, namun tak jarang pula dalam waktu yang lama. Namun, itu semua tak mengurangi kepastian sunatullah.

Baca Juga  Antara Muhammadanisme, Muhammad SAW, dan Islam

Bahkan keburukan masyarakat dapat mengundang bencana-bencana alam sebagaimana yang menimpa umat terdahulu. Ini tidak lain karena perilaku keburukan adalah perilaku yang tidak harmoni dengan fitrah alam.

Semisal, penebangan pohon yang membuat hutan gundul sehingga ketika hujan turun tidak ada penopang, maka terjadilah banjir. Atau eksploitasi sumber daya alam berlebihan yang berpotensi menimbulkan krisis di masa depan dan masih banyak contoh lain. Semua itu menunjukkan pada kita, bahwa perilaku buruk manusia berupa rakus, tamak dan egois dapat memicu bencana.

Hijrah Memperbaiki Diri

Bila kita simak kembali, berbeda dari umumnya teori-teori sosial, Al-Qur’an memang lebih menekankan perubahan masyarakat pada perilaku (akhlak) manusia sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an bahwa “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, hingga mereka mau mengubah nasib mereka (sendiri)”. Memang tak dapat dipungkiri,keberhasilan materi seperti kekuasaan yang luas, produk kebudayaan yang megah juga menjadi faktor (tolok ukur), namun bila kemajuan semacam itu tidak diiringi dengan perbaikan akhlak maka tetap saja akan bermuara pada bencana baik kerusakan fisik maupun mental spiritual.

Kebenaran statement dalam ayat tersebut terbukti dengan kisah kehancuran umat-umat terdahulu, yang mana mereka bukannya kekurangan harta, tidak juga kekurangan pengetahuan, namun yang menjadi masalah ialah karena akhlak mereka yang buruk, kesombongan, penolakan terhadap kebenaran risalah Nabi, dan sikap rakus serta berbagai perilaku buruk lainnya.

Hari ini, kita menikmati berbagai kemajuan ilmu dan teknologi yang luar biasa sebagai hasil menelaah hukum alam. Untuk itu kita perlu bersyukur, namun kita tak boleh mengabaikan hukum sejarah dan berbagai hikmah di dalamnya. Manakah yang lebih banyak kebaikan atau kemaksiatan di tengah masyarakat akan sangat menentukan nasib suatu kaum. Oleh karena itu, hijrah dengan terus menerus memperbaiki diri adalah jalan awal menjemput kemajuan. Bila tidak demikian, maka apalah artinya akal yang diberikan Tuhan sedang kita tidak mengambil pelajaran.

Baca Juga  Tafsir QS An-Nisa’ Ayat 125: Sejarah Pensyari’atan Praktik Khitan

Penyunting: Ahmed Zaranggi Ar Ridho