Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Menilik Manfaat Madu: Penjelasan Ilmiah dan Al-Quran

Madu
Gambar: health.grid.id

Peringatan Hari Dokter Nasional diperingati setiap tahunnya pada tanggal 24 Oktober. Memberikan ingatan jasa-jasa para dokter dalam mengobati manusia. Berbicara perihal dunia pengobatan, sudah barang tentu menyeret-nyeret soal resep-resep obat dari para dokter. Namun, tidak berarti kita sebagai umat Islam, yaitu menihilkan resep-rerep obat yang ditawarkan al-Qur’an, yang dalam hal ini, penulis mengejawantahkan satu resep obat dari sekian banyak resep-resep obat yang dibumikan melalui ayat-ayat suci al-Qur’an.

Sebut saja, yaitu surah an-Nahl ayat 69, yang berbicara perihal resep obat yang membawa manfaat bagi manusia, yaitu madu. Sebagaimana seorang ulama Ibnu Qayyim al-Jauziyyah pernah utarakan, bahwasanya madu banyak memberikan efek manfaat bagi kesehatan serta penyembuhan penyakit itu sendiri. Sebut saja dua di antaranya, yaitu, pertama, mengobati demam, kedua, mengobati pencernaan perut yang bermasalah. (Maghfirah, 2018) h. 174

Manfaat Madu Menurut Para Akademisi

Sebelum menjurus ke dalam kitab suci al-Qur’an surah an-Nahl ayat 69. Dalam kesempatan ini, penulis sengaja uraikan terlebih dahulu mengenai segelintir manfaat daripada madu itu sendiri. Terutama dalam bingkai kacamata para akademisi, berikut ulasannya secara singkat:

Seorang akademi pertanian Colorado, A.S, yang sekaligus ahli dibidang bakteri, bernama Dr. W.G. Sackett, mengungkapkan bahwasanya madu mampu membunuh serta menghambat bakteri penyakit. Bahkan pada tahun 1954, dampak baik itu diperoleh oleh seekor hewan, yaitu babi hutan. Dijadikan bahan uji coba, dan hasilnya madu tersebut mampu menyembuhkan babi hutan yang mengidap sakit yang dideritanya. Yaitu sakit pergelangan dan persendian tulang babi tersebut. (Maghfirah, 2018, h. 174).

Pun, tak ketinggalan juga. Sebagaimana terlukis oleh Tengku Muhammad Hasby Ash-Shidiqiey, dalam tafsirnya Tafsir al-Qur’anul Majid an-Nur, bahwa seorang filosof mengatakan, ‘’Daun kertau, dimakan ulat, keluarlah sutera; dimakan oleh kijang, keluarlah kasturi, dimakan lebah keluarlah madu, dan dimakan oleh kambing, maka keluarlah kotoran-kotoran.” (Ashiddieqy, 2000, h. 2249)

Baca Juga  Embrio Transportasi Modern dalam Al-Quran

Dalam bingkai panduan kehidupan keagamaan umat Islam sendiri pun, melalui hadis baginda Nabi Besar Muhammad SAW sudah terlukis disana. Mengenai efek manfaat daripada madu, yang digunakan untuk dijadikan sebagai resep obat-obatan penawar daripada penyakit. Berikut penulis paparkan hadisnya sebagai berikut:

             عَنْ عَبْدِ اللهِ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , عَلَيْكُمْ بِا الشِّفَا ءَيْنِ العَسَلَ وَالْقُرْآن

‘’Hendaklah kalian menggunakan dua obat, yaitu madu dan al-Qur’an’’ (HR. Ibnu Majjah). (Sunan Ibnu Majjah/2/1142)

Penafsiran Al-Qur’an Surah An-Nahl Ayat 69

ثُمَّ كُلِي مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ فَاسْلُكِي سُبُلَ رَبِّكَ ذُلُلاً يَخْرُجُ مِنْ بُطُوْنِهَا شَرَابٌ مُّخْتَلِفٌ اَلْوَنُهُ فِيهِ شِفَآءٌ لِّنَّاسِ اِنَّ فِي ذلِكَ لَايَةً لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ

‘’Kemudian makanlah segala macam buah-buahan itu dan laluilah jalan-jalan Tuhanmu; jalan-jalan yang telah dimudahkan untuk kamu. Keluar dari perut-perut itu minuman dalam berbagai warna. Di dalamnya terdapat penawar manusia. Sesungguhnya yang demikian itu benar-benar terdapat tanda bagi kaum yang berfikir.’’QS. An-Nahl [16]: 69

ثُمَّ كُلِي مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ penggalan ayat ini, pungkas Wahbah Az-Zuhaili memberikan gambaran bahwasanya lebah menghisap sari buah-buahan dari berbagai aneka ragam buah-buahan. Baik berupa buah yang berasa manis maupun pahit. Dan itu merupakan takdir bagi lebah untuk menyantap segala jenis aneka ragam buah-buahan. (az-Zuhaili, 2013) h. 422

فَاسْلُكِي سُبُلَ رَبِّكَ ذُلُلا, penulis sangat kagum membaca aspek ilmiah penggalan ayat ini. Di sini dijelaskan bahwasanya pasca lebah menyantap aneka ragam buah-buahan. Maka, lebah melakukan apa-apa yang sudah menjadi kodratinya, yaitu proses pembuatan madu. Lalu berlanjut kembali ke sarangnya. Insting yang ditakdirkan bagi seekor lebah, yang secara tidak sadar seketika mencari makanan. Sayap-sayap lebah membantu proses penyerbukan. Dan hal tersebut merupakan bagian misi makhluk hidup yang berperan di alam jagat raya ini, yang memberi efek manfaat bagi manusia. (Az-Zuhaili, 2013, h. 422)

Baca Juga  Revolusi Metode Penafsiran Al-Qur’an di Era Digital

يَخْرُجُ مِنْ بُطُوْنِهَا شَرَابٌ, perut lebah itu sendiri mengeluarakan madu dengan ragam warnanya. Berangkat dari putih, kuning, serta merah. Madu sendiri menjadi obat penawar, asbab banyak kandungan manfaat di dalamnya. Serta mengambil bagian tersendiri dalam bahan komposisi obat-obatan maupun pil.

Wahbah Az-Zuhaili menjelaskan bahwasanya Allah SWT menggambarkan madu setidaknya dalam tiga kategorisasi. Pertama, berupa bentuk minuman, baik diminum secara langsung. Yaitu berupa madu murni, maupun berupa bahan komposisi pembuatan aneka ragam minuman. Kedua, madu dengan beragam warna, berangkat dari merah, putih, kuning, dan warna lain-lainya. Ketiga, madu berfungsi sebagai obat penawar untuk berbagai macam penyakit. (az-Zuhaili, 2013, h. 422). Wallahua’lam

Penyunting: Bukhari