Pancasila merupakan ideologi yang dimiliki oleh negara Indonesia. Yang biasa kita sebut dengan lima Pancasila. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya merupakan nilai-nilai yang tidak luput dari ayat-ayat al-Qur’an. Berikut nilai-nilai Lima Pancasila yang selaras dengan ayat-ayat al-Quran:
Sila pertama: Ketuhanan yang Maha Esa
Sila pertama pancasila adalah ketuhanan yang Maha Esa. Masyarakat Indonesia diberi kebebasan untuk memilih satu kepercayaan masing-masing. Hal ini sesuai dengan konsep Islam yang terdapat pada QS al-Ikhlas:1:
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ
Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa
Berdasarkan tafsir Ibnu Katsir:
Yakni Dialah Tuhan yang Satu, yang tiada tandingan-Nya, tiada pembantu-Nya, tiada lawan-Nya, tiada yang serupa dengan-Nya, dan tiada yang setara dengan-Nya. Lafaz ini tidak boleh dikatakan secara i’sbat terhadap seseorang kecuali hanya Allah Swt. Karena Dia Maha sempurna dalam segala sifat dan perbuatan-Nya.
Sila kedua: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
Sila pancasila yang kedua adalah kemanusiaan yang adil dan beradab. Masyarakat Indonesia menghargai dan menghormati hak-hak yang melekat pada pribadi manusia. Hal ini sesuai dengan konsep islam yakni hubungan antara sesama manusia berdasarkan sikap saling menghormati. Hal ini telah disebutkan pada QS. an-Nisa’:135:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَى أَنْفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالأقْرَبِينَ إِنْ يَكُنْ غَنِيًّا أَوْ فَقِيرًا فَاللَّهُ أَوْلَى بِهِمَا فَلا تَتَّبِعُوا الْهَوَى أَنْ تَعْدِلُوا وَإِنْ تَلْوُوا أَوْ تُعْرِضُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا
“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biar pun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya atau pun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjaan.”
Berdasarkan tafsir taisir:
Keadilan di sini mencakup keadilan terhadap hak Allah, dan hak hamba-hamba Allah. Berbuat adil terhadap hak Allah adalah dengan tidak menggunakan nikmat-Nya untuk bermaksiat kepada-Nya, Sedangkan keadilan terhadap hak hamba-hamba Allah adalah dengan memenuhi kewajibanmu terhadap orang lain, sebagaimana kamu menuntut hakmu. Oleh karena itu, kamu harus memberikan nafkah yang wajib kamu keluarkan, membayarkan hutang yang kamu tanggung, serta bermu’amalah dengan manusia dengan cara yang kamu suka jika kamu dimu’amalahkan seperti itu, seperti akhlak mulia, membalas jasa dsb.
Di antara bentuk menegakkkan keadilan adalah bersikap adil dalam berbicara, oleh karena itu, dia tidak boleh menghukumi salah satu dari dua perkataan atau salah satu dari dua orang yang bersengketa karena ada hubungan nasab dengannya atau karena lebih cenderung kepadanya, bahkan sikapnya harus adil. Termasuk adil pula menunaikan persaksian yang diketahuinya bagaimana pun bentuknya, meskipun mengena kepada orang yang dicintainya atau bahkan mengenai dirinya sendiri. Yakni saksi yang benar. Yakni dengan mengakui kebenaran dan tidak menyembunyikannya, Oleh karena itu, jangan mempertimbangkan orang kaya karena kekayaannya dan orang miskin karena kasihan kepadanya, bahkan tetaplah kamu bersaksi terhadap kebenaran kepada siapa pun orangnya. Menegakkan keadilan termasuk perkara agung, dan yang demikian menunjukkan keadaan agama seseorang, kewara’annya dan kedudukannya dalam agama Islam.
Sila ketiga: Persatuan Indonesia
Bangsa Indonesia adalah bangsa yang satu dan bangsa yang menegara. Hal ini sesuai dengan konsep Islam yang tertera dalam al-Qur’an yang menyinggung tentang ukhuwah islamiah (persatuan sesama umat Islam) dan ukhuwah insaniah (persatuan sesama umat manusia), dalam al-Qur’an terdapat beberapa ayat yang menyinggung tentang persatuan umat manusia salah satunya adalah terdapat pada QS al-Imran:103:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk”
Berdasarkan tafsir taisir:
Allah menunjukkan kepada hamba-hambanya nikmat besar yang layak sekali diingat adalah nikmat beragama Islam, mengikuti Rasulullah Saw serta bersatunya kaum muslimin dan tidak berpecah belah.
Sila Keempat: Kerakyatan yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan
Dalam mengambil keputusan bersama harus dilakukan secara musyawarah yang didasari hikmat kebijaksanaan. Hal ini sesuai dengan konsep Islam yang terdapat pada al-Qur’an, dalam konsep Islam selalu mengajarkan kepada umatnya untuk selalu bersikap bijaksana dalam mengatasi permasalahan kehidupan dan selalu menekankan untuk bermusyawarah dalam menyelesaikan masalah apapun meskipun dalam suasana demokratis. Nilai pancasila sila keempat ini seperti dalam Q.S Al-Imran:159:
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الأمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ
“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.”
Berdasarkan tafsir taisir:
Berdasarkan ayat ini, maka di antara sarana dakwah yang ampuh, yang dapat menarik manusia ke dalam agama Allah adalah akhlak mulia, di samping adanya pujian dan pahala yang istimewa bagi pelakunya. Hal ini merupakan sikap ihsan. Oleh karena itu, Allah menggabung antara sikap memaafkan dan sikap ihsan. Maksudnya: dalam urusan yang butuh adanya musyawarah, pemikiran yang matang dan pandangan yang tajam. Misalnya dalam urusan peperangan dan hal-hal duniawiyah lainnya, seperti urusan politik, ekonomi, kemasyarakatan dan lain-lain. Musyawarah memiliki banyak faedah dan maslahat duniawi maupun agama, antara lain:
– Musyawarah termasuk ibadah yang mendekatkan diri seseorang kepada Allah.
– Di dalamnya terdapat sikap menghargai pendapat orang lain, sehingga mereka menjadi senang kepada kita.
– Dapat menyatukan visi dan misi.
– Menerangi akal-fikiran.
– Menutupi kekurangan yang ada pada orang lain.
– Membuahkan keputusan yang bijak, tepat dan benar.
Hal itu karena hampir tidak ditemukan adanya keputusan yang salah dalam bermusyawarah. Setelah bermusyawarah, bersandarlah dengan kemampuan dan kekuatan Allah, tidak mengandalkan kemampuan kamu.
Sila kelima: Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia
Negara Indonesia memiliki tujuan yaitu hidup bersama, dalam tujuan ini memiliki kandungan bahwa Negara Indonesia berkewajiban untuk mensejahterakan seluruh rakyat Indonesia. Ada beberapa ayat yang telah menyinggung tentang memerintahkan untuk selalu bersikap adil dalam segala hal, adil terhadap diri sendiri, orang lain dan alam, salah satunya terdapat pada QS an-Nahl:90:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran agar kamu dapat mengambil pelajaran”
Berdasarkan tafsir taisir:
Allah ta’ala menerangkan bahwa Dia menyuruh hamba-hamba-Nya berlaku adil, yaitu bersikap tengah-tengah dan seimbang, serta dianjurkan berbuat ihsan.
Editor: An-Najmi




























Leave a Reply