Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Embrio Transportasi Modern dalam Al-Quran

Transportasi
Gambar: pegipegi.com

Peradaban manusia dari masa ke masa, mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Berangkat dari berbagai lini, seperti salah satunya transportasi. Di sisi lain perkembangan aneka ragam transportasi tersebut, sangat patut disyukuri. Dahulu kala, misalnya, butuh jangkauan masa tenggang waktu selama berbulan-bulan untuk sampai ke tempat tujuan.

Sebut saja, kuda, sebagai alat transportasi yang dipergunakan masyarakat tempo dulu. Walaupun tak bisa ditepis, bahwasanya kuda, masih kerap dipergunakan sebagai alat transportasi khas di berbagai daerah di Indonesia di era kekinian. Contohnya oleh suku sasak di pulau Lombok Nusa Tenggara Barat. uda dijadikan sebagai alat transportasi pembawa barang belanjaan, seperti sayur-sayuran, dan perabotan rumah tangga lainya, yang disebut dengan Cidomo.

Namun, tak bisa dipungkiri juga, selain alat transportasi tenaga kuda, seiring laju percepatan zaman. Alat trasnportasi terus mengalami kemajuan. Hal tersebut sesuai dengan firman Allah SWT dalam al-Qur’an surah An-Nahl ayat 8. Berikut ulasannya:

Al-Quran dan Embrio Transportasi Modern

وَالْخَيْلَ وَالْبِغَالَ وَالْحَمِيْرَ لِتَرْكَبُوْهَا وَزِيْنَةً وَيَخْلُقُ مَالاَ تَعْلَمُوْنَ

’Tuhan telah menjadikan kuda, bighal, dan keledai, supaya kamu menungganginya dan untuk menadi hiasan bagimu. Allah SWT menjadikan apa yang kamu tidak mengetahuinya’’ QS. An-Nahl  [16]: 8

Wal khaila wal bighaala wal hamiira li tarkabuuha wa ziinatan (Tuhan telah menjadikan kuda, bighal, dan keledai, supaya kamu menungganginya dan untuk menadi hiasan bagimu)

Dalam Tafsir An-Nur dijelaskan, bahwa kuda, bighal, dan keledai, diciptakan oleh Allah SWT untuk manusia, yang mampu ditunggangi. Di sisi lain sekaligus sebagai hiasan, dan juga kemafaatan lainya. Walaupun tak bisa dipungkiri juga tutur Hasby, bahwasanya di era kekinian aneka jenis kendaraan bermotor telah diciptakan. Namun tutur Hasby, kuda, bighal, dan keledai masih tetap diperlukan. (Ashiddieqy, 2000)h.2207

Baca Juga  Integrasi Al-Qur'an dan Sains: Langkah Pembaharuan Pendidikan

Lebih jauh mengenai ayat ini, sosok HAMKA, memberikan penjelasan cukup eksotis. Hal ini sedikit menyingkap sisi corak tafsir al-Azhar, yang bercorak al-adab al-ijtima’i (sosial kemasyarakatan). Yang mana tutur HAMKA, bahwa kuda merupakan tunggangan yang merangkap menjadi kendaraan dan perhiasan. Kuda merupakan kendaraan para raja dan pahlawan, yang dihiasi pelana nan indah berikut sanggurdinya. Hal tersebut Hamka contohkan dengan dunia Barat, khususnya Inggris, yang mana pacuan kuda menjadi permainan para bangsawan hingga kini. (Hamka, 2001)h.3892.

Terkait dengan hewan-hewan tersebut, maka, sebagian ulama menjadikan dalil ayat ini, untuk pengharaman daging kuda, bighal, dan juga daging keledai. Mereka berkata bahwasanya, ‘’hewan-hewan tersebut dijadikan sebagai kendaraan, berarti harus dipergunakan untuk itu saja’’. (Ashiddieqy, 2000)h. 2208

Perkembangan Transportasi di Zaman Modern

Selanjutnya, lanjutan QS.An-Nahl [16]: 8, sebagai berikut: Wa yakhluqu maa la ta’lamun (Allah SWT menjadikan apa yang kamu tidak mengetahuinya). Dalam lanjutan ayat ini, tutur Hasby, Allah SWT juga menciptakan apa-apa yang tidak manusia ketahui. Selain daripada hewan-hewan tersebut, dan ini, pungkas Hasby, menunjukkan kemukjizatan al-Qur’an, dan tak bisa dipungkiri juga, sekaligus menunjukkan bahwasanya Allah SWT adalah Tuhan sang maha pencipta. Yaitu mengetahui apa-apa yang telah ada, sekaligus juga mengetahui apa-apa yang akan ada dikemudian hari. Nah, dalam ayat inilah tutur Hasby, terkategorisasilah masuknya kendaraan-kendaraan modern, berangkat dari kendaraan darat, laut, hingga udara. (Ashiddieqy, 2000)h. 2208

Hal ini senada dengan Wahbah Az-Zuhaili dalam Tafsir al-Munir, menanggapi penggalan ayat ini, Wa yakhluqu maa la ta’lamun. Yang mana pungkas beliau, bahwa selain daripada karunia kekayaan berupa binatang-binatang tersebut kepada seluruh manusia. Allah SWT juga menciptakan berbagai aneka ragam sarana transportasi dan angkutan modern, seperti halnya kereta api, mobil, kapal, pesawat terbang, dan aneka ragam kendaraan-kendaraan lainya. (az-Zuhaili, 2013)h. 350

Baca Juga  Pluralisme Qurani: Sebuah Tinjauan Filosofis

Tak jauh berbeda, mengenai penggalan ayat ini. Hamka meyitir sebuah pertanyaan, ‘’apakah yang diketahui Tuhan ialah yang tidak diketahui manusia di zaman al-Qur’an turun’’?, yang mana tutur HAMKA, di era kekinianlah Tuhan telah mengajarkanya kepada manusia. Yaitu berupa kendaraan bermotor, mobil, kereta api, hingga kapal udara. Dan hingga kiamat pun manusia tidak akan mampu mengetahuinya pungkas HAMKA, semisal Buraq Nabi Muhammad SAW yang dikendarainya saat Isra’. Ataupun tangga emas yang dinaikinya saat Mi’raj. Amatlah banyak yang tidak manusia ketahui.  (Hamka, 2001) h.3892  Wallahua’alam

Penyunting: Bukhari

`