Al-Qur’an banyak menyebutkan kata huda baik dalam bentuk maḍi, muḍari’, amar maupun dalam bentuk lainnya. Kata Huda tidak hanya satu arti,tapi mempunyai banyak arti. Dalam kamus bahasa Indonesia huda bermakna petunjuk. Al-Raghib al-Asfahani mengartikan kata هدى dengan petunjuk halus, hidayah adalah petunjuk halus yang menyampaikan seseorang kepada apa yang diharapkannya. Fuad al-Bustani dalam kamus Munjid al-Ṭullāb menjelaskan bahwa هدى itu artinya membimbing, penjelasan, dan juga petunjuk lawan dari kata الضلال (kesesatan) seperti muannath lawannya muzakkar. Dikatakan “هو على الهدى”, dia di atas petunjuk, artinya الرشاد على, bermaksud ia berada di dalam bimbingan.Kata huda berasal dari bahasa Arab, ia merupakan bentuk maḍi dari: هدى-يهدى-هدية–هدى–هدايه–وهديا artinya menunjuki lawan dari menyesatkan.
Makna Huda
Secara terminologi, kata huda merupakan petunjuk yang dapat menuntun, menunjuki, memberi, mengantarkan manusia dari kesesatan menuju jalan kebenaran. Dialah yang memperhatikan hamba-Nya dan memberi cara kepada hamba-Nya untuk mengenal- Nya sehingga mereka mengakui ketuhanan-Nya, serta membimbing setiap makhluk kepada apa yang seharusnya ia tuju demi kelangsungan hidupnya, atau dapat diartikan sebagai jalan yang menyampaikan kepada yang haq, yaitu jalan lurus yang setiap manusia memohon di dalam salat untuk menempuh jalan itu dan konsisten dalam berjalan di atasnya. Secara ringkasnya dapat dipahami bahwa huda (hidayah) merupakan penjelasan dan petunjuk jalan yang akan mengantarkan seseorang kepada tujuan sehingga meraih kemenangan di sisi Allah Swt.
Lafaz huda di dalam al-Qur’an dan kata lain yang seakar dengannya itu disebutkan sebanyak 307 kali terdapat dalam 61 surat dari 114 surah al-Qur’an. Kata ini muncul dalam berbagai bentuk dan konteks yang bermacam-macam. Imam Suyuthi dalam bukunya al-Itqān fi ‘Ulūm al-Qur’ān menjelaskan bahwa lafaz huda memiliki 18 makna , yang salah satunya yaitu Lafaz هَاد bermakna al-du’a (Penyeru)
وَيَقُوْلُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لَوْلَآ اُنْزِلَ عَلَيْهِ اٰيَةٌ مِّنْ رَّبِّهٖۗ اِنَّمَآ اَنْتَ مُنْذِرٌ وَّلِكُلِّ قَوْمٍ هَادٍ.
“Orang-orang yang kafir berkata: “Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) suatu tanda (kebesaran) dari Tuhannya?” Sesungguhnya kamu hanyalah seorang pemberi peringatan; dan bagi tiap-tiap kaum ada orang yang memberi petunjuk” (QS. al-Ra’d: 7).
Al-hadi pada ayat ini dinisbahkan kepada nabi atau Rasul. Maksud dari kata hādi dalam ayat ini ialah penyeru yang menyeru manusia ke jalan yang benar seperti para nabi, orang-orang bijaksana, dan para mujahid. Kata هاد disebut dalam bentuk ism fā’il (orang yang berbuat) diambil atas wazan فاعل yang ditujukan kepada para penyeru yaitu nabi atau Rasul yang menyeru kaumnya ke jalan kebaikan dan menunjuki mereka ke jalan yang benar. Dalam Tafsir Jalalain, dijelaskan bahwa sesungguhnya nabi Muhammad Saw hanyalah seorang pemberi peringatan, dan tiap-tiap kaum itu ada seorang nabi yang mengajak mereka untuk menyembah Rabb mereka dengan membawa mukjizat-mukjizat yang telah diberikan oleh-Nya.
Menurut Ibnu Kathir, adalah bagi tiap-tiap kaum itu ada orang yang mengajak dan berdakwah, seperti firman Allah; Dan tidak ada suatu umat pun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan. Berdasarkan penjelasan di atas terdapat adanya kesamaan mpenafsiran terhadap maksud hādi dalam ayat ini, bahwa setiap kaum itu pasti ada seseorang yang akan memimpin, mengajak, memberi peringatan serta berdakwah kepada mereka yaitu seorang nabi ataupun seorang Rasul yang diutus oleh Allah Swt untuk menyeru mereka. Karena Allah Swt tentu tidak akan membiarkan kaumnya begitu saja tanpa ada seorang pemimpin atau penyeru yang menyeru kaumnya kepada jalan kebaikan.
Derivasi Kata Huda
Kata huda dalam al-Qur’an diungkapkan dalam enam bentuk, pertama, dalam bentuk fi’lu al-māḍi هَدَى ia dapat bermakna ilham. Kedua, dalam bentuk fi’lu al-muḍāri’ يهدى baik terdapat ḍamir di dalamnya seperti يهدينى, يهتدون ia dapat bermakna hujjah, pengetahuan, al-irsyad dan iṣlah. Ketiga, dalam bentuk maṣdar هُدَى ia dapat bermakna tauhid, iman, al-bayan, agama Islam, para Rasul dan kitab, nabi Muhammad Saw, al-Qur’an dan Taurat. Keempat, dalam bentuk ism fā’il مهتدون ia dapat bermakna istirja’ dan sunnah sedang dalam bentuk هاد ia bermakna al-du’a (seruan). Kelima, dalam bentuk fi’il amr إهدنا ia bermakna tsabat (teguh). Dan keenam dalam bentuk ism tafḍil أهدى ia dapat bermakna al-irsyad.
Penggunaan lafaz هدى-يهدى-هادي seperti ini menunjukkan bahwa hidayah bersumber dari Allah Swt atau yang memberi hidayah tidak lain kecuali Allah Swt seperti dalam surah al-‘Alaq: 2- 3. Pemakaian lafaz يهتدى-المهتدى –إهتدى, lafaz tersebut ditunjukkan kepada orang-orang yang telah mendapatkan hidayah namun kadarnya masih sebatas mampu terhindar dari kesesatan, contoh dalam surah al-Isrā’: 15. Lafaz َ يهدى bentuk lafaz ini hampir keseluruhan sering dikaitkan kepada kaum zalim, fasiq, dan kafir seperti dalam surah al-Baqarah: 258. Selanjutnya ُ الهَدى , penggunaan lafaz ini biasanya mengandung makna kitab samawi, agama yang lurus (Islam), Rasul- rasul, para nabi sebagai penyampaian hidayah kepada manusia seperti dalam surah al-Baqarah: 2, dan al-Mu’min: 53. Lafaz هاد penggunaan bentuk ini menunjukkan bahwa ketika Allah memberi kesesatan maka tidak ada siapapun yang bisa memberi petunjuk kepadanya seperti dalam surah al-Mu’min: 33, bentuk ini juga bisa bermakna al-du’a (seruan) melalui Rasul dan nabi seperti dalam surah al-Ra’d: 7.
Para mufasir telah membagi huda atau yang lebih dikenal dengan hidayah kepada lima macam. Pertama hidayah naluri (ilham) hal ini terdapat dalam surah Ṭāhā: 50. Kedua hidayah hawas (alat indra) terdapat dalam surah al-A’lā: 3 dan al-Nahl: 15. Ketiga hidayah ‘aql terdapat dalam surah al-Nahl: 16. Keempat hidayah agama, terdapat dalam surah al-Baqarah: 125 dan Ali-Imrān: 73. Dan yang kelima hidayah taufik, hanya Allah yang dapat memberinya, terdapat dalam surah al-Qaṣaṣ: 56.
Dengan demikian Allah memberikan hidayah ilham kepada seluruh hamba-Nya dari sejak ia dilahirkan. kemudian memberinya penerangan, bimbingan, pengetahuan, keimanan, ajaran tauhid, agama Islam melalui utusan-Nya yaitu para Rasul dan nabi serta kitab yang dibawanya, berupa al-Qur’an yang diturunkan kepadam nabi Muhammad Saw, Taurat yang diturunkan kepada nabi Musa as. lalu mengikuti segala perintah dan ajaran yang dibawanya, maka ia akan mendapatkan balasan di akhirat kelak, dengan terus berdoa dan memohon agar diteguhkan serta diistiqamahkan pada jalan kebenaran. Namun jika mereka ingkar kepada-Nya maka mereka tidak akan mendapatkan kebaikan, iṣlah bahkan hujjah mereka akan Allah patahkan dihadapan mereka.
Editor: An-Najmi



























Leave a Reply