Hari ini (13/4/2022), ada yang menarik untuk dibahas ketika diundang untuk membekali guru IPA dalam menyusun kerangka integrasi kurikulum sains dan agama. Kegiatan ini dilaksanakan oleh MUI Kab. Cianjur melalui Komisi Pendidikan dan Kaderisasi. Hubungan konten IPA dengan PAI menjadi penting untuk menampilkan pembelajaran yang ilmiah dan religius. Pada satu sisi, IPA memuat banyak teori tentang kealaman khususnya pada biologi, fisika, dan kimia. Pada sisi lain, PAI banyak memuat isyarat wahyu mengenai keilmiahan. Dua sisi ini dapat dihubungkan dan disatukan dalam proses pembelajaran. Sebab, sejatinya ilmu itu berasal dari satu sumber dan tidak dikotomi.
Seiring dengan Sekolah Merdeka dan Merdeka Belajar, hubungan dua konten pada mata pelajaran dapat menjadi alternatif positif dalam mendesain kurikulum. Memperhatikan dua konten yang berbeda ini, misalnya, kita sering mendengar istilah integrasi keilmuan yang apabila diimplementasikan dapat terlaksana dalam pembelajaran. Integrasi akan melahirkan khazanah dan temuan baru dalam mengembangkan kerangka keilmuan.
Apa Itu Integrasi Ilmu?
John Echols dan Hassan Syadili (2011) menjelaskan secara bahasa bahwa integrasi adalah kata serapan dari bahasa Inggris “integrate; integration”. Kata ini diadaptasi ke dalam bahasa Indonesia menjadi integrasi yang berarti menyatu-padukan; penggabungan atau penyatuan menjadi satu kesatuan yang utuh; pemaduan. Integrasi dipahami pula sebagai kesempurnaan atau keseluruhan, yaitu proses penyesuaian di antara unsur-unsur yang saling berbeda (Wikipedia, 2019).
Perspektif Imam Suprayogo
Imam Suprayogo (2006) mendefinisikan integrasi ilmu sebagai keterpaduan secara nyata antara nilai-nilai agama (dalam hal ini Islam) dengan Ilmu Pengetahuan Umum atau Sains. Ilmu pengetahuan di dunia ini dapat di klasifikasikan menjadi tiga golongan. Yaitu ilmu alam (natural science), ilmu social (social science), dan ilmu humaniora (humanities). Ketiga jenis berlaku secara universal. Hanya saja, di kalangan umat islam, masih kata Imam Suprayogo (2006) merumuskan ilmu tersendiri yang bersumberkan pada al-Qur’an dan Hadis.
Dalam perspektif kurikulum, bangunan ilmu bersifat integratif ilmu agama dan umum, digunakan metafora pohon yang tumbuh subur, lebat, dan rindang. Masing-masing bagian pohon dan tanah di mana pohon itu tumbuh digunakan untuk menerangkan keseluruhan jenis ilmu pengetahuan. Kemudian harus dikaji oleh seseorang agar dianggap telah menyelesaikan progam studinya. Pohon berdiri di atas tanah untuk tumbuh, akar yang menghujam ke bumi dengan kuatnya. Akar yang kuat akan menjadikan batang sebuah pohon berdiri tegak dan kokoh. Pohon itu juga akan menumbuhkan dahan, ranting, dan daun dan buah yang sehat dan segar. Bagian tersebut digunakan untuk menjelaskan posisi masing-masing jenis bidang studi atau mata kuliah yang harus ditempuh. Oleh seseorang agar dianggap telah menyelesaikan seluruh progam studinya (Imam Suprayogo, 2006)
Integrasi Ilmu adalah keterpaduan secara nyata antara nilai-nilai agama (dalam hal ini Islam) dengan Ilmu Pengetahuan Umum atau Sains. Untuk menciptakan keterpaduan antara Ilmu Agama dan Sains membutuhkan lembaga pendidikan yang memenuhi persyaratan atas keterpaduan tersebut, hal yang perlu dipehatikan adalah suasana pendidikan, kultur akademik, kurikulum, sarana dan prasarana serta profil guru guna mewujudkan konsep pendidikan integratif seperti yang dimaksudkan. Integrasi, terpadu atau apapun sebutannya tidak hanya bersifat formal, tetapi integrasi dalam kualitas berbagai komponen sistem penyelenggaraan pendidikan, yang semuanya itu berujung pada terwujudunya kepribadian siswa yang integratif.
Perspektif Amin Abdullah
Siapa yang tak kenal dengan Prof Amin Abdullah? Beliau tokoh dan ilmuan masyhur dalam bidang filsafat keilmuan dan keislaman. Ide integrasi ilmu pada Amin Abdullah setelah menelaah pikiran Richard C. Martin, seorang ahli studi keislaman dari Arizona University, dalam bukunya Approaches to Islam in Religious Studies dan pemikiran Muhammed Arkoun –dari Sorbonne, Paris– dalam bukunya Tarikhiyah al-Fikr al-’Arabi aI-Islami juga Nasr Hamid Abu Zaid dari Mesir dalam bukunya Naqd al-Khitab al-Dini. Informasi ini diperoleh dari Siregar (2015).
Menurut Amin Abdullah, membangun keilmuan diperlukan prasyarat integratif yaitu filsafat ilmu yang spesifik, yang tidak lagi murni mengacu pada epistemologi ilmu agama dan tidak pula epistemologi ilmu sekular. Implikasi langsung dari perubahan ini adalah peniscayaan adanya paradigma baru sebagai hal yang sangat pokok dan memiliki kedudukan yang vital dalam wilayah kerja keilmuan.
Apabila islamic studies adalah bangunan keilmuan biasa, karena ia disusun dan dirumuskan oleh ilmuan agama (ulama, fukaha, mutakallimûn, mutasawwifûn, mufassirûn, muhadditsûn) pada era terdahulu sesuai tuntutan zamannya. Maka tidak ada alasan untuk menghindarkan diri dari pertemuan, perbincangan dan pergumulannya dengan telaah filsafat ilmu, sesuai dengan tuntutan zaman ini.
Keilmuan Teantroposentris-Integralistik
Amin Abdullah bertolak dari pemikiran ini, merumuskan bangunan keilmuan yang berwatak teoantroposentris-integralistik, lalu muncullah horison keilmuan dalam bentuk skema jaring laba-laba (lihat gambar di bawah). Inti dari gagasan ini adalah, bahwa; (1) struktur keilmuan membedakan tingkat abstraksi ilmu, mulai dari ilmj murni sampai ilmu terapan, di mana satu sama lain saling terkait-erat; dan (2) tidak ada pemisahan antara ilmu-ilmu Islam dengan ilmu-ilmu sekuler, sebab keduanya telah menyatu.
Ide integrasi ilmu versi Amin Abdullah ini menegaskan bahwa integrasi berasal dari satu sumber, namun beda dalam fase perkembangan sejarah ilmu. Ilmu agama dan ilmu umum berasal dari satu kesatuan konteks pengetahuan yang sama, berasal dari Allah Swt. Ilmu agama berasal dari ayat qauliyah, ilmu umum berasal dari ayat kauniyah. Kedua ayat ini berasal dari sumber yang sama yang berbeda dalam metodologi. Perbedaan metodologi ini tidak mesti akan memisahkan bangunan ilmu, karena ia hanya cara untuk memahami ayat-ayat-Nya yang tersebar secara teks dan kealaman. Wallahu A’lam.
Penyunting: Ahmed Zaranggi

























Kanal Tafsir Berkemajuan
Sebuah media Islam yang mempromosikan tafsir yang progresif dan kontekstual. Hadir sebagai respon atas maraknya tafsir-tafsir keagamaan yang kaku dan konservatif.