Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Integrasi Al-Qur’an dan Sains: Langkah Pembaharuan Pendidikan

integrasi
Sumber: istockphoto.com

Ilmu pengetahuan (sains) serta ilmu agama bagi manusia adalah dua kekuatan yang mampu mewarnai dan mentransformasikan kehidupan. Menurut James Conant (Holton dan Roller, 1958) yang dikutip oleh Sumaji mengemukakan bahwa sains sebagai deretan konsep serta skema konseptual yang berhubungan satu sama lain dan sains sebagai hasil yang tumbuh dari eksperimentasi serta observasi. Dan sains sendiri juga dapat dieksperimentasikan secara lebih lanjut. Sains memiliki nilai tersendiri, salah satunya dengan integrasi dalam bidang pendidikan. Tentunya, ketika kita membahas mengenai sains, maka kita dapat mengaitkannya dengan Al-Qur’an sebagai sumber sains dan peradaban.

Tantangan dan Peluang Berkembangnya Sains

Sebagai seorang muslim, tentunya kita mengetahui bahwa Al-Qur’an merupakan salah satu sumber hukum dan pedoman tertinggi di dalam Agama Islam. Al-Qur’an tidak mengajarkan adanya dikotomi keilmuan. Al-Qur’an mengajak orang-orang yang mempercayainya untuk memperhatikan ayat-ayat yang termaktub dalam kitab suci Al-Qur’an (ayat kauliyah). Selain itu, Al-Qur’an juga mengajak manusia untuk memperhatikan berbagai fenomena alam (ayat kauniyah) sebagai tanda-tanda kebesaran-Nya. Dengan demikian, Al- Qur’an memberikan dorongan cukup tinggi untuk mengembangkan ilmu-ilmu yang bersumber pada wahyu Allah SWT dan ilmu-ilmu yang bersumber pada penalaran pemikiran atau sains.

Menyikapi dunia peradaban yang semakin berkembang. Kehadiran Islam telah dapat mewujudkan suatu peradaban yang terkemuka dan kaffah, yaitu peradaban Islam. Peradaban Islam mencakup secara universal aspek kebutuhan hidup manusia, dan Al-Qur’an sebagai sumber atau pedoman pokok dari pembentukan adanya peradaban sekarang ini.

Meninjau dari realitas yang ada, keberadaan sains dan peradaban semakin mengalami kemajuan. Maka untuk menyikapi tantangan zaman, seluruh elemen dan lapisan masyarakat berlomba-lomba memanfaatkan serta memaksimalkan kemajuan sains dan teknologi yang ada dalam kehidupannya, salah satunya dalam dunia pendidikan. Namun beberapa hal yang masih menjadi problematika hangat dalam dunia pendidikan dan peradaban diantaranya yaitu:

  1. Masih rendahnya penemuan dan penerapan inovasi metode pembelajaran di dunia pendidikan yang mengintegrasikan antara Al-Qur’an, sains modern dan peradaban.
  2. Masih adanya metode pembelajaran yang monoton serta konvensional dan belum sepenuhnya disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik dan kebutuhan era modernisasi.
  3. Kurangnya pembenahan dan penanaman pendidikan karakter berbasis pada implementasi nilai-nilai Al-Qur’an. Mengingat kemajuan peradaban dan sains modern juga dapat menjadi hal yang fundamental dalam membentuk perubahan karakter pada siswa, maka dalam hal ini tenaga pendidik diharapkan dapat memfilter dan merekontruksi kembali pola dan strategi pembelajaran yang sesuai dan tepat.
Baca Juga  HAMKA dan Terciptanya Keauntetikan Insan Kamil

Selain beberapa problematika tersebut, kemudian akan muncul beberapa deretan pertanyaan seperti, adakah tenaga pendidik yang berkompeten dalam dua bidang ilmu sekaligus (dari sisi Al-Qur’an yaitu ilmu agama dan disiplin ilmu yang ditekuni)? Bagaimana cara mencari dan apa saja ayat-ayat al-Quran yang berkorelasi dengan sains? Dapatkah siswa mempelajari secara mendalam dua bidang keilmuan sekaligus dalam skala waktu belajar yang sama? Bagaimana kajian ilmu-ilmu keislaman dan ilmu umum dapat diperingkas sehingga bisa terintegrasi secara baik?. Pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan sebuah hal yang utopis, namun harus tetap diupayakan dengan sentuhan inovasi serta trobosan baru untuk mengintegrasikan AL-Qur’an dan sains dalam pendidikan dan peradaban secara baik dan tepat.

Tradisi Islam yang Telah Lama Lumpuh

Dari beberapa hal tersebut akan selalu menjadi problematika dan pertanyaan hangat jika tidak dikaji lebih mendalam. Dan juga diberikan sebuah solusi serta trobosan baru untuk meminimalisir adanya disintegrasi serta dikotomi keilmuan antara Al-Qur’an dan sains modern dalam dunia pendidikan dan peradaban. Jika tinjau kembali, bahwa integrasi Al- Qur’an dan sains sebenarnya telah menjadi sebuah paradigma baru keilmuan pada abad XXI.

Pemikiran tersebut didasari dengan adanya sebuah keyakinan, bahwa model atau strategi pendidikan yang demikian akan mampu mengantarkan para lulusan pelajar yang memiliki pengetahuan, kepribadian, dan wawasan yang lebih utuh serta memiliki kemampuan IMTAQ (Iman dan Taqwa) serta kemampuan IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi). Adanya integrasi Al-Qur’an dan sains modern merupakan suatu hal yang dapat dijadikan alternatif dan sebuah inovasi model pendidikan yang dirasa penting untuk mencapai tujuan pendidikan nasional sebagaimana yang ditertera pada UU Sisdiknas No. 20 tahun 2003.

Sebenarnya jika kita analisiskan, bahwa di setiap satuan pelajaran pada jenjang pendidikan selalu termuat nilai-nilai pengamalan dan korelasi dengan Al-Qur’an di dalamnya, sebagai contoh matematika pada dasarnya adalah ilmu yang berkaitan dengan hitung-menghitung. Dalam urusan hitung-menghitung, Allah SWT adalah rajanya. Dia sangat teliti. Sebagaimana perumpamaan tentang metode “Hamming” yang dicontohkan Allah dalam QS. Al-Baqarah: 261 yang terjemahnya sebagai berikut: Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir, pada tiap-tiap butir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.

Dalam ayat di atas kita dapat memisalkan benih dengan variable x, butir dengan variable y, dan biji dengan variable z. Maka dalam rumus matematikanya dapat ditulis:

Baca Juga  Unsur Hidrogen Di dalam Surat Asy-Syams

Persamaan I = x = 7y Persamaan II = y = 100z

Persamaan III kita peroleh jika persamaan II disubtitusikan pada persamaan I dan menghasilkan x=7 (100z). Maka x= 700z. Maka dapat dikonklusikan bahwa seseorang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, Allah akan melipatgandakannya sampai tujuh ratus kali lipatan.

Inovasi dalam Pendidikan

Meninjau beberapa paparan penjelasan dan contoh di atas, maka pengembangan adanya integrasi Al-Qur’an dan sains modern sebagai inovasi dalam pendidikan dan peradaban dapat dilakukan secara bertahap melalui tiga hal, yaitu: pertama, membuat peta konsep keilmuan dan keislaman. Kedua, menggabungkan konsep keilmuan dan keislaman. Ketiga, menjadikan Al-Qur’an sebagai pengawal dari setiap kerja sains modern.

Tentunya untuk mengimplementasikan beberapa hal tersebut tidak semudah membalikkan telapak tangan, perlu ada yang namanya kinerja dan peran aktif dari berbagai pihak dan elemen pendidikan. Selain itu, beberapa hal tersebut juga perlu didukung dengan adanya kerja keras, fasilitas-fasilitas yang memadai, kolaborasi dan sinergi dari beberapa bidang lembaga edukasi serta pihak-pihak tertentu untuk mewujudkan sistem pembelajaran yang inovatif, kreatif, edukatif serta dapat mengintegrasikan sains, peradaban dan Al-Qur’an secara baik dan benar.

Mengingat perkembangan sains dan teknologi yang semakin pesat, maka pemanfaatan perkembangan sains dan teknologi tersebut perlu ada yang namanya kolaborasi dan

integrasi dengan Al-Qur’an dan perkembangan peradaban. Sebab hal ini membuktikan bahwa keberadaan sains dan peradaban bersumber dari Al-Qur’an. Dan semua sistem kerja sains didasarkan / dilandaskan dari Al-Qur’an sebagai sumber hukum tertinggi dalam Agama Islam. Dengan demikian kedudukan dan peranan sains, peradaban dan Al-Qur’an adalah tiga komponen yang saling berintegrasi dalam menciptakan inovasi dalam dunia pendidikan dan peradaban.

Editor: An-Najmi Fikri R