Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Makna ‘Ilm Era Pra Islam dan Pasca Islam

‘ilm
gambar: idxchannel.com

Al-Qur’an merupakan kitab suci umat Islam yang diturunkan kepada baginda Nabi Muhammad SAW. melalui perantara malaikat Jibril pada malam bulan Ramadhan. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Arab dengan tingkat kebahasaan yang sangat tinggi. Bahkan masyarakat Arab yang ketika itu sangat pandai bersyair pun tidak dapat menandinginya. Dikarenakan memiliki sastra yang sangat tinggi, Al-Qur’an bisa dibahas melalui pendekatan ilmu bahasa. Dalam ilmu semantik disebutkan, kosakata yang digunakan oleh Al-Qur’an juga sudah digunakan oleh masyarakat Arab pra-Islam. Namun dengan makna dan maksud yang berbeda. Hal ini dikarenakan sebuah kata memiliki makna dasar dan makna relasional. Sebagai contoh, kosakata ‘ilm, bagaimanakah konsep ‘ilm pada masa pra-Islam dan pada sistem Al-Qur’an?

Makna Dasar dan Makna Relasional ‘Ilm

Telah disinggung sebelumnya, dalam ilmu semantik, sebuah kosakata memiliki makna dasar dan makna relasional. ‘Ilm memiliki makna dasar mengetahui, seseorang yang mengetahui sesuatu, yang dimana makna itu tetap melekat baik ketika diambil di dalam atau di luar konteks Al-Qur’an. Sedangkan makna relasional tergantung dengan kata apa kata ‘ilm itu berhubungan, sehingga membentuk sistem makna yang berbeda-beda.

Dalam Al-Qur’an, kata tersebut dimasukkan ke dalam teologi Islam. Oleh karena itu, makna dasar yang dimiliki ‘ilm dipengaruhi oleh kata-kata atau bahkan kalimat-kalimat di sekitarnya. Dalam hal ini, kata ‘ilm berelasi dengan kata Allah dan iman.

Pada Masa Pra-Islam

Menurut Toshihiko Izutsu, ‘ilm pada masa jahiliyah diartikan dengan pengetahuan terhadap sesuatu hal yang diperoleh melalui pengalamannya dengan persoalan tertentu. Pengalaman di sini merupakan pengalaman yang diperoleh oleh masing-masing individu. Tidak hanya itu, ‘ilm juga merupakan bentuk pengetahuan khusus yang diturunkan dari generasi ke generasi dalam bentuk peribahasa, dalam hal ini menyangkut tradisi kesukuan.

Baca Juga  Bintang At-Thariq Sebagai Awal Pemikiran Teori Luminositas

Pengalaman yang diperoleh merupakan pengalaman banyak individu dalam rentang waktu yang lama, kemudian dikumpulkan dan diturunkan kepada anak cucu sebagai kekayaan suku. Toshihiko melanjutkan, ‘ilm tidak sama atau berlawanan dengan kata zann, dikarenakan zann bersifat subjektif dan tidak memiliki landasan.

‘Ilm Dalam Sistem Al-Qur’an

Dalam kitab al-Wujuh wa an-Nadhair fi al-Qur’an karya Syaikh Harun ibn Musa, kata ‘ilm memiliki 3 wajah. Pertama, ‘ilm memiliki makna melihat, seperti dalam potongan Q.S. Muhammad ayat 31 yang berbunyi.

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ حَتّٰى نَعْلَمَ الْمُجٰهِدِيْنَ مِنْكُمْ

“Dan sungguh, Kami benar-benar akan menguji kamu sehingga Kami mengetahui orang-orang yang benar-benar berjihad di antara kamu”

Maksudnya adalah sampai Kami melihat Mujahidin diantara kamu yang berjuang. Dia sesungguhnya tahu siapa di antara kamu yang berjuang. Tidak hanya itu, Dia juga melihat orang yang tidak berjihad, karena Allah melihat perjuangannya hingga dia bersungguh-sungguh. Dia juga mengetahui bahwa dia akan melakukannya (berjuang).

Menurut Tafsir Kemenag, dengan adanya ketentuan perang dan kewajiban-kewajiban berat yang lain. Allah menguji keimanan kaum muslimin hingga diketahui siapa yang berjihad di jalan-Nya dan siapa yang tidak.

Wajah pertama kata ‘ilm juga terdapat dalam Q.S. Ali Imran ayat 142:

اَمۡ حَسِبۡتُمۡ اَنۡ تَدۡخُلُوا الۡجَنَّۃَ وَ لَمَّا یَعۡلَمِ اللّٰہُ

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah”

Ya’lama dalam ayat ini memiliki makna asal yaraa (melihat). Melanjutkan dari ayat 142:

الَّذِیۡنَ جٰہَدُوۡا مِنۡکُمۡ وَ یَعۡلَمَ الصّٰبِرِیۡنَ

“Orang-orang yang berjihad di antara kamu, dan belum nyata orang-orang yang sabar.”

Secara rinci yaitu melihat orang-orang yang sabar. Bara’ah berkata, wa lamma ya’lami maksudnya adalah ketika Allah melihat orang-orang yang berjihad di antara kamu. Menurut Tafsir Kemenag, ayat ini turun sebagai koreksi Tuhan terhadap kaum Muslimin yang turut dalam Perang Uhud kala itu, mereka yang pada awalnya memiliki semangat yang sangat membara bahkan mendorong Nabi Muhammad SAW. untuk berperang di luar kota, padahal pada saat itu beliau lebih condong bertahan di Madinah.

Baca Juga  Ayat-Ayat Semesta dan Sains yang Ateis

Ali Imran 142 dan Kesalahan Kaum Muslim di Perang Uhud

Pada Perang Uhud, pasukan Muslim banyak yang gugur sehingga menyebabkan goyahnya pertahanan dan berada dalam keadaan yang sulit dan gawat, mereka yang pada awalnya berada di pasukan terdepan perlahan hilang semangat dan akhirnya kehilangan kendali dan tidak mengikuti perintah Nabi Muhammad SAW. Sebelum berperang, mereka dengan tegas menyatakan sanggup meski harus gugur seperti pahlawan-pahlawan pada perang badar.

Di sinilah ayat ini turun sebagai celaan dan koreksi Tuhan terhadap mereka. Mereka belum melihat apakah mereka benar-benar berjuang, tetapi mereka sudah mengira bahwa mereka akan menjadi syuhada yang akan mendapatkan surganya Allah.

Kedua, ‘ilm memiliki makna mengetahui, dalam konteks izin. Seperti pada potongan Q.S. Hud ayat 14:

فَاعْلَمُوْٓا اَنَّمَآ اُنْزِلَ بِعِلْمِ اللّٰهِ

“… maka (katakanlah), “Ketahuilah, bahwa (Al-Qur’an) itu diturunkan dengan ilmu Allah..”

Maksudnya adalah dengan izin Allah.

Ketiga, ilmu dengan makna ilmu itu sendiri. Terdapat pada Q.S. Al-Anbiya ayat 11:

اِنَّهٗ يَعْلَمُ الْجَهْرَ مِنَ الْقَوْلِ وَيَعْلَمُ مَا تَكْتُمُوْنَ

“Sungguh, Dia (Allah) mengetahui perkataan (yang kamu ucapkan) dengan terang-terangan, dan mengetahui (pula) apa yang kamu rahasiakan.”

Dalam Tafsir Kemenag dijelaskan, Allah mengetahui segala yang dikatakan oleh orang-orang kafir, baik yang dikatakan secara terang-terangan atau dengan cara berbisik. Inilah ilmu dengan makna ilmu itu sendiri. Mengetahui dengan ilmu-Nya tidak seperti tahu dengan melihat, tahu apa sebelumnya dan tahu apa yang akan datang setelahnya.

Penutup

Ketika melihat sebuah kata, maka langsung terpikirkan makna yang terkandung di dalamnya. Makna yang seketika itu muncul adalah makna dasar. Berbeda dengan makna dasar, makna relasional yang diperoleh bisa berbeda-beda tergantung dengan kata dan sistem apa sebuah kosakata tersebut berhubungan.

Baca Juga  Keterkaitan Al-Quran dengan Usaha dan Energi dalam Ilmu Fisika

Jauh sebelum Al-Qur’an diturunkan, masyarakat Arab pra-Islam sudah tidak asing dengan kata ‘ilm karena mereka juga menggunakan kata itu, hanya saja konteksnya berbeda dengan yang dimaksudkan oleh Al-Qur’an. Dalam Al-Qur’an, ‘ilm dimasukkan pada teologi Islam dan mendapat pengaruh dari kata-kata atau kalimat-kalimat di dalamnya, sehingga makna yang dihasilkan pun berhubungan dengan kata Allah dan iman.

Penyunting: Bukhari