Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Ayat-Ayat Semesta dan Sains yang Ateis

semesta
gambar: dok. pribadi

Ketika Covid-19 datang memenuhi bumi, tak banyak yang bisa dilakukan umat Islam selain bertaklid kepada para ilmuwan mengenai protokol kesehatan, agar tidak terjangkit, atau bebas dari wabah itu. Di sisi lain, terjadi polemik sains di kalangan cendekiawan tanah air yang semakin menunjukkan ketidakberdayaan agama dan filsafat di hadapan sains.

Ketika Sains Lebih Mampu Menjawab Tantangan Zaman

Untuk menghadapi virus korona saja, yang dibutuhkan adalah sains, yang menawarkan jalan keluar yang ril. Ketimbang misalnya filsafat yang sudah mengalami kebuntuan sejak “filsafat terakhir”, yaitu ketika filsafat sudah berakhir di tangan Derrida; atau mati di tangan Heidegger.

Terlebih agama, adakah cara lain mengatasi wabah semacam itu selain berdoa, berharap Tuhan bisa menghentikannya dengan segera? Atau barangkali dengan cara masa bodoh, memberanikan diri menganggap virus tidak boleh lebih ditakuti ketimbang Tuhan? 

Bukan hanya itu, bahkan untuk memastikan Covid-19 adalah rekayasa atau bukan, lagi-lagi yang dibutuhkan adalah cara kerja sains. Bahwa Covid-19 juga merupakan bagian dari skenario perang biologis dan ekonomi (bisnis vaksin). Agama dan filsafat semata tak mampu menjawabnya. Sebaliknya, hanya sains yang bisa

Apakah memang demikian, bahwa agama tidak berdaya di hadapan sains? Sementara agama dalam hal ini Islam, di dalam kitab sucinya Al-Qur’an memuat isyarat-isyarat saintifik. Sebagian (besar) ayat-ayatnya memuat bukti-bukti ilmiah, sebagai penguat klaim bahwa Al-Qur’an benar-benar adalah wahyu yang datang dari Allah.

Ayat-ayat yang bermuatan sains itu sendiri merupakan bagian dari kemukjizatan Al-Qur’an (i’jazul qur’an). Syaikh Manna’ Khalil Al-Qattan di dalam “Mabahits fi Ulumil Qur’an” menyebut salah satu kemukjizatan Al-Qur’an adalah ilmu dan pengetahuan tentang yang gaib yang dibuktikan oleh ilmu pengetahuan modern. Yang terpenting dari kemukjizatan Al-Qur’an adalah kandungan dari lafaz-lafaznya.

Senada dengan itu, Imam Jalaluddin As-Suyuthi dalam “Al-Itqan fi Ulumil Qur’an” menyebut kemukjizatan Al-Qur’an lebih kepada susunan redaksinya, lafalnya, ayat-ayatnya. Tetapi, walau tidak secara eksplisit menyebut Al-Qur’an sejalan dengan sains (hal ini bisa dimengerti karena Imam As-Suyuthi hidup sebelum zaman perkembangan sains modern) atau ilmu pengetahuan, Imam As-Suyuthi menyebut kemukjizatan Al-Qur’an bersifat aqliyah, yaitu masuk akal atau ilmiah–bukan hissiyah atau yang bersifat fisik sebagaimana mukjizat nabi-nabi dari Bani Israil.

Isyarat Ilmu Pengetahuan dalam Al-Qur’an

Sayangnya isyarat ilmu pengetahuan dalam Al-Qur’an ini sekadar diposisikan sebagai penguat klaim kebenaran Al-Qur’an semata. Pada intinya Al-Qur’an sudah memuat bukti-bukti ilmiah yang sejalan dengan sains modern. Fokus utama yang harus diamalkan adalah aspek ibadah kepada Allah, selebihnya bermuamalah kepada sesama. Seolah Al-Qur’an dibuat tidak peduli kalau-kalau suatu saat sains berkembang melenceng, toh kita sudah berkeyakinan bahwa kebenaran sains bersifat koreksional; kebenaran hari ini bisa dianulir oleh kebenaran baru yang lebih ilmiah.

Baca Juga  Rijal Tak Selalu Suami: Menafsir Ulang QS. An-Nisa Ayat 34

Bahkan Syaikh Manna’ Al-Qattan pun menyebutkan bahwa suatu kesalahan jika Al-Qur’an mesti dipersepsi menyediakan teori-teori yang lengkap untuk menjawab setiap tantangan sains, dengan mengingatkan bahwa tabiat ilmu pengetahuan modern tunduk pada hukum kemajuan zaman. Sedang Al-Qur’an tidak.

Pertanyaannya, bukankah penemuan sains oleh para saintis tidak lain adalah hasil pembacaan tanda-tanda (ayat-ayat kauniyah) di alam semesta? Hanya saja mereka tidak mengakui bahwa temuan-temuan itu adalah hasil kontemplasi atas ciptaan Allah. Adapun sains yang dipandang terus mengoreksi dirinya tidak lain adalah sebuah manifestasi koreksi paradigma (penafsiran?) terdahulu atas kauniyah oleh paradigma yang lebih mutakhir.

Ayat-Ayat Semesta Agus Purwanto

Ada sebuah buku bagus yang membahas ayat-ayat sains secara teknis. Buku itu mengulas unsur kemukjizatan aqliyah (ilmiah) sekaligus keindahan kalimat yang dipilih Allah dalam menjelaskan fenomena di alam semesta. Buku itu adalah “Ayat-Ayat Semesta: Sisi-Sisi Al-Qur’an yang Terlupakan”, karya seorang ahli fisika teoretis lulusan Universitas Hiroshima, Jepang, asal Indonesia, Agus Purwanto.

Sesuai dengan judul kecilnya, sisi-sisi Al-Qur’an yang terlupakan, umat Islam memang cenderung terlupa untuk mengembangkan ayat-ayat semesta, sebab lebih mengejar ayat-ayat ibadah. Pada bagian pendahuluan, buku itu mengajukan kritik dengan mengutip Syaikh Jauhari Thantawi, bahwa di dalam tafsirnya “Al-Jawahir”, ia menuliskan bahwa dalam Al-Qur’an terdapat 750 ayat kauniyah dan 150 ayat fikih. Namun anehnya, para ulama justru menulis ribuan kitab tentang fikih dan nyaris tidak pernah menuliskan tentang alam semesta (sains).

Bab awal buku itu mendaftar ayat-ayat kauniyah ke dalam 150  halaman (hal. 31 – 180). Disambung dengan pembahasan ayat-ayat tertentu, utamanya yang berhubungan dengan fisika partikel (sesuai jurusan penulisnya) sepanjang 231 halaman berikutnya (hal. 181 – 412). Cara penulisnya mengulas ayat-ayat itu pertama-tama dengan mengajukan sebuah ayat yang sepintas mengandung kata-kata ganjil; terkesan ambigu, namun rupanya mengandung suatu rahasia alam yang tidak pernah kita duga. 

Misalnya pada kasus semut dan Nabi Sulaiman as. dalam QS. An-Naml (27) ayat 18. Kita cenderung tidak peduli pada pemilihan katanya, mengapa namlah (dengan ta marbuta yang bermakna semut betina) yang memerintah an-naml (kaum semut secara umum)? Hal itu bisa diakui secara objektif setelah ilmu pengetahuan modern menemukan bahwa sistem komando pada kaum semut berada di bawah perintah sang ratu (semut betina, bukan semut jantan).

Makna “Bintang Dihapus” dan Kaitannya dengan Supernova 

Kita bisa melihat kata yang sepintas mengada-ada, yaitu pada QS. Al-Mursalat (77) ayat 8, “Maka apabila bintang-bintang telah dihapuskan.” Bintang dihapus? Memaknai ayat ini, Purwanto menghubungkannya dengan Supernova, yaitu cahaya kemerahan di langit setelah suatu bintang meledak. Supernova sangat menentukan nasib jagat raya melalui efek kejutnya.

Baca Juga  Kehidupan Dari Setetes Air: Pertemuan Thales Dan Al-Qur'an

Sains memang menemukan adanya bintang baru yang berumur pendek, muncul sebentar lalu menghilang. Bintang yang tak mampu menahan tekanan dan penyusutannya sendiri menyebabkan bintang itu meledak lalu lenyap. Ledakan material serta energi yang dilepaskan membentuk kemerahan di langit seperti mawar, sebagaimana disentil dalam QS. Ar-Rahman (55) ayat 37.  

Makhluk hidup diciptakan berpasang-pasangan lumrah di dalam Al-Qur’an. Namun QS. Yaasiin (36) ayat 36 menggelitik Purwanto yaitu pada redaksi “… dari apa yang tidak mereka ketahui.” Intensi Purwanto langsung mengarah ke teori relativitas khusus dalam ilmu fisika. Yaitu teori yang menjelaskan tentang benda mikro yang begerak dengan kecepatan tinggi mendekati kecepatan cahaya. Sebagai bagian dari penyempurnaan teori mekanika klasik newton dan mekanika kuantum.

Mengapa? Karena manusia cenderung mengatakan tidak tahu pada apa yang tidak disaksikannya. Seperti atom-atom, yang mengetahuinya hanya para fisikawan dengan bantuan alat-alat. Praktis yang berpasangan dalam hal ini adalah elektron dan positron, yang juga bisa dibahasakan sebagai materi dan antimateri. Di mana ketika bertemu, keduanya akan musnah. Penemuan ini sekaligus membantah teori hukum kekekalan materi, yang berarti juga materi mengalami penciptaan dan pemusnahan. Dengan begitu, teori materi kekal ala ateisme terbantah dengan sendirinya.

Atom dan Pergerakan Alam Semesta

Atom menjadi benda yang menarik untuk dikaji. Karena asumsi dasar penyusun alam semesta adalah atom, yang seolah-oleh keberadaannya padat di jagat ini, baik dalam bentuk materi maupun gelombang, dan bahkan berdasarkan penemuan De Brogile, ia adalah dualisme materi dan gelombang sekaligus. Allah kerapkali menyebut atom di dalam ayat-ayatnya dengan istilah “zarrah”, misalnya dalam QS. Yunus (10) ayat 61, QS. Saba’ (34) ayat 3, dan QS. Az-Zalzalah (99) ayat 7 – 8. Atom (beserta struktur dan dimensinya) menjadi tema yang dominan di dalam buku ini. Sebab pergerakan alam semesta tidak bisa lepas darinya.

Selain atom, Allah juga kerap memberi contoh cahaya, sebagai makhluk yang pergerakannya paling cepat di jagat. Di dalam QS. Al-Nur (24) ayat 35, Allah mengumpamakan diri-Nya (pemberi) cahaya kepada langit dan bumi. Cahaya di atas cahaya, memberi kita pengetahuan melalui ilmu fisika bahwa kekuatan sinar serta derajat kepanasan, diikuti oleh radiasi elektromagnetik suatu cahaya adalah bertingkat-tingkat. Kita tentu tahu bagaimana Newton menemukan hirarki cahaya ini melalui sinar matahari yang dibiarkan merambat masuk melalui jendelanya, lalu dipantulkan pada prisma kaca berwarna putih. Pantulannya itulah yang menghasilkan warna pelangi (me-ji-ku-hi-bi-ni-u).

Selebihnya masih ada beberapa ayat-ayat lagi yang menginspirasi Purwanto untuk membahas tema-tema sains, utamanya fisika partikel. Misalnya tentang jagat raya yang melengkung, alam semesta yang mengembang seperti balon, alam semesta yang simetris, struktur tata surya beserta dua sistem kalender (syamsiah dan qamariyah), teleportasi kuantum, dan lain sebagainya. Dari situ kita bisa melihat bahwa betapapun Al-Qur’an diturunkan di abad ke enam atau ketujuh masehi, ia bisa menjawab isu-isu yang diangkat sains modern di abad ke-18 hingga abad ke-21.

Baca Juga  Tafsir 'Ilmi: Gunung sebagai Penjaga Stabilitas Bumi

Penjelasan Alam Semesta dalam Al-Quran

Kesejalanan Al-Qur’an dengan sains modern bukan dimaksudkan supaya Al-Qur’an mengejar sains. Tetapi ini justru ini semakin membuktikan bahwa penjelasan mengenai alam semesta secara singkat ada di Al-Qur’an, sebab Dia yang menurunkan Al-Qur’an adalah Dia yang menciptakan alam semesta. Gunanya, supaya umat Islam bisa menguasai ilmu alam yang merupakan ayat-ayat di luar teks kitab suci Al-Qur’an, yang tetap berkorelasi dengan Al-Qur’an.

Apatisme umat Islam terhadap ayat-ayat kauniyah membuat pengembangan ilmu pengetahuan, sains, dan teknologi selamanya berada di tangan barat. Akhirnya sains menjadi ateis. Mereka membaca dan melakukan percobaan (riset) ilmu alam dengan pra-anggapan ketiadaan Tuhan. Padahal, kalau saja umat Islam mau melakukan pengkajian seperti apa yang dilakukan oleh Agus Purwanto ini, niscaya pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi selalu berbasis nilai-nilai spiritual, dan semakin meyakinkan umat manusia akan kehadiran Tuhan di jagat raya.

Salah satu dampak tidak mendalami ayat-ayat semesta yang dirasakan di Indonesia adalah semburan lumpur Lapindo yang tak kunjung selesai, yang hanya tambal sulam itu. Menurut Purwanto, ketidakmampuan membaca kondisi di bawah tanah membuat pengeboran gas menjadi malpraktik. Padahal Al-Qur’an sudah memberikan sinyal akan adanya sungai-sungai di bawah tanah, serta isyarat bagaimana menebus bumi, berturut-turut dalam QS. al-An’am (6) ayat 6; QS. Maryam (19) ayat 24; QS. Al-Baqarah (2) ayat 74; dan QS. Ar-Rahman (54) ayat 33.

Sayangnya buku ini tidak dilengkapi catatan kaki untuk mencantumkan sumber teori yang sudah dikutip. Supaya lebih memudahkan pembaca untuk mengkonfirmasi sumber bacaan tersebut. Melainkan hanya berupa daftar pustaka dan juga indeks yang ada di bagian akhir buku.

Apa yang dilakukan Agus Purwanto merupakan sebentuk pembacaan terhadap ayat-ayat Al-Qur’an dari sudut pandang fisika teoretis. Akan lebih bagus lagi jika umat Islam melakukan pembacaan ayat-ayat semesta menurut disiplin ilmunya masing-masing. Mengingat Al-Qur’an juga merupakan khazanah keilmuan yang sangat luas.

Penutup

Hal yang patut kita sayangkan bagi mereka umat Islam yang taat beragama dari jurusan eksakta justru meninggalkan jurusannya setelah mengenal kajian-kajian keislaman, karena sudah terlanjur meyakini bahwa ilmu Islam hanya yang berkaitan dengan syariat semata. Sedang ilmu di luar fikih, ilmu hadis, ilmu Al-Qur’an, dan sejenisnya dianggap sekadar kepentingan duniawi–Bukannya menjadi imuwan Islam yang memberi sumbangan teori bagi peradaban dunia, demi kemaslahatan umat manusia dan alam semesta secara keseluruhan.
***
Judul Buku: Ayat-Ayat Semesta: Sisi-Sisi Al-Qur’an yang Terlupakan

Penulis: Agus Purwanto 

Penerbit: Mizan Pustaka

Tahun: Ed. II, 2015

Tebal: 452 halaman

ISBN: 987-979-433-871-1

Penyunting: Bukhari