Perkembangan ilmu pengetahuan sains dan teknologi menyebabkan munculnya model-model tafsir ilmiah sebagai modal bagi penafsiran baru al-Qur’an. Penafsiran berbasis ilmiah ini disebut sebagai tafsir al-‘ilmi Muhammad Husain al-Dzahaby> dalam kitabnya Al-Tafsir wa al-Mufassirun, mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan al-tafsir al-‘Ilmi adalah penafsiran yang dilakukan dengan menggunakan pendekatan teori-teori ilmiah dalam mengungkapkan kandungan ayat-ayat Al-Qur’an dan berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menggali berbagai disiplin ilmu pengetahuan dan pandangan-pandangan filsafat dari ayat-ayat tersebut.
Salah satu kajian ilmiah dalam Al-Qur’an adalah mengenai jari jemari. Dimana pembahasan mengenai topik tersebut hanya disebutkan dalam 2 ayat di dalam Al-Qur’an. Yaitu pada surah al-Qiyamah ayat 4 yang membahas tentang kata bananah dan surah al-Anfal ayat 12 yang membahas tentang strategi perang apabila ada musuh hendaknya ia memotong jarinya. Pada artikel ini akan mengkaji tentang makna bananah dalam surah al-Qiyamah ayat 4 berikut ini :
بَلٰى قَادِرِيْنَ عَلٰٓى اَنْ نُّسَوِّيَ بَنَانَهٗ
“Bukan demikian, sebenarnya Kami kuasa menyusun (kembali) jari jemarinya dengan sempurna.” (Q.S. Al-Qiyamah 75:4)
Lafaz Bananah dalam Al-Qur’an
Lafaz bananah pada ayat di atas bermakna jari jemari. Penyebutan “jari jemari” pada ayat di atas mengacu pada sidik jari manusia. Karena ayat ini dan beberapa ayat sebelum dan sesudahnya berbicara tentang bagaimana Allah akan mengenali individu manusia pada hari kiamat. Dengan begitu Allah menunjukkan sebuah pengetahuan ilmiah bahwa sidik jari mempunyai banyak manfaat dan sejalan dengan penelitian sains yang semakin maju.
Hal kecil, namun sidik jari memiliki manfaat yang tidak main-main. Hal ini menunjukkan bahwa apa yang diciptakan Allah tidaklah sia-sia. Selain itu, penyebutan jari dalam Al-Qur’an seolah menjadi kata kunci yang jika diperhatikan akan menghasilkan wawasan yang luar biasa.
Sidik jari setiap manusia memiliki perbedaan antara satu dengan yang lain dan unik bagi dirinya sendiri. Bahkan seseorang yang kembar secara identik pun tetap memiliki pola yang berbeda dalam sidik jarinya. Sidik jari mempunyai makna khusus dan sampai sekarang banyak sekali manfaat yang dapat diambil dari adanya sidik jari tersebut. Karena berdasarkan penelitian sains bahwasanya sidik jari tidak akan berubah seumur hidup.
Sidik jari merupakan hal yang sangat penting bagi manusia dan Al-Qur’an sudah menyebutkannya (di abad ke-7). Sedangkan penelitian mengenai sidik jari baru ditemukan memasuki akhir abad ke-19 dimana peran aktual di Timur dan Barat telah dimulai, dengan itu dapat diketahui bahwa semua orang di Negeri ini tidak serupa gari-garis jemarinya dengan garis tangan orang lain dan dengan demikian argumen ini telah diterapkan pada pencuri dan pembunuhan di Eropa Timur jauh dan Timur dekat termasuk Negara Mesir.
Asbabun Nuzul Surah Al-Qiyamah Ayat 4
Diriwayatkan bahwa ayat ke 3 dan ke 4 diturunkan karena ulah dua orang yang bernama Adi bin Abi Rabī’ah bersama Akhnas bin Syuraiq.
رُوِيَ «أنَّ عَدِيَّ بْنَ أبِي رَبِيعَةَ خَتَنَ الأخْنَسِ بْنِ شَرِيقٍ، وهُما اللَّذانِ كانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ فِيهِما: ”اللَّهُمَّ اكْفِنِي شَرَّ جارَيِ السُّوءِ“، قالَ لِرَسُولِ اللَّهِ ﷺ: يا مُحَمَّدُ حَدِّثْنِي عَنْ يَوْمِ القِيامَةِ مَتى يَكُونُ وكَيْفَ أمْرُهُ ؟ فَأخْبَرَهُ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ، فَقالَ: لَوْ عايَنْتُ ذَلِكَ اليَوْمَ لَمْ أُصَدِّقْكَ يا مُحَمَّدُ ولَمْ أُؤْمِن بِكَ، كَيْفَ يَجْمَعُ اللَّهُ العِظامَ ؟ فَنَزَلَتْ هَذِهِ الآيَةُ
Adi bin Rabi’ah dan Akhnas bin Syuraiq yang bertanya kepada Rasulullah: wahai Muhammad ceritakan kepadaku tentang hari kiamat, kapan terjadi dan bagaimana kejadiannya? Maka beliaupun mengabarkan kepadanya. Kemudian dia berkata seandainya kamu melihat hari itu. Aku tidak percaya kepadamu hai Muhammad dan tidak percaya pada hari itu bagaimana Allah akan menyatukan tulang belulang? Oleh karenanya Rasulullah berdoa “ya Allah lindungi aku dari dua pelaku kejahatan.” Kemudian turunlah ayat ini.
Penafsiran Al-Qur’an bisa disebut sebagai sāliḥ li kulli zamān. Karena ia selalu berkembang dan selalu terdepan dalam pembaruan ketika ada permasalahan pada zaman tersebut. Berikut ini akan dijabarkan beberapa makna lafaz “bananah” pada surah al-Qiyamah menurut ulama tafsir dari zaman klasik hingga zaman kontemporer dan modern.
Pembahasan Sidik Jari dalam Tafsir
Pada zaman ulama tafsir klasik lafaz tersebut diartikan sebagai jari jemari saja. Contohnya dalam penafsiran Abu Ja’far Muhammad bin Jarir at-Thabari menjelaskan dalam Tafsir ath-Thabari. Firman Allah ayat tersebut yakni, “Apakah manusia mengira, bahwa kami tidak akan mengumpulkan kembali (tulang-tulang nya)?”.
Maksudnya adalah, apakah manusia mengira kami tidak akan mampu mengumpulkan kembali tulangnya setelah bercerai-berai? Allah lebih mampu dari itu untuk menyusun kembali jari-jemarinya dengan sempurna. Yaitu jari-jari tangan dan kaki serta menjadikannya sesuatu yang satu seperti tapak kaki unta, atau kuku keledai, dan dia tidak mengambil makanannya kecuali dengan mulutnya seperti semua jenis hewan. Akan tetapi Allah membedakan jari-jari tangannya sehingga dengannya dia dapat mengambil dan makan, serta memegang jika mau. Allah lalu memperindah penciptaan-Nya.
Kemudian di era kontemporer yaitu Tanthāwi Jauharī dalam kitabnya Jawahir fi Tafsir Alquran al-Karim yang menjelaskan surat al-Qiyāmah ayat 4 (empat). Yakni dengan mengatakan bahwa beliau telah mengetahui persoalan jari-jari dari sebelum apa yang tertulis dalam penafsiran ayat tersebut. Beliau terkesan oleh kemukjizatan al-Qur’ān. Di situ dijelaskan tentang sejarah sidik jari bahwa pendidikan modern telah mulai nyata dikehidupan sehari-hari kita.
Manfaat Sidik Jari
Banyak sekali manfaat dari sidik jari. Maha Suci Allah yang menciptakan manusia sedemikian rupa dan tidak ada yang sia-sia dalam segala penciptaannya. Sidik jari sendiri mempunyai pola yang unik dan tidak akan ada kesamaan antara manusia. Oleh karena itu, manusia memiliki potensi, bakat, kecerdasan, bahkan cara belajar yang unik dan berbeda setiap individunya.
Pola tersebut tidak hanya mengidentifikasi identitas seseorang. Tetapi berperan penting pula untuk mengungkap seluruh perbuatan yang dilakukan seseorang selama masa hidupnya di dunia. Pola sidik jari tersebut sejalan dengan evolusi perkembangan sistem otak, bahkan diduga kuat berkaitan dengan sistem kerja otak. Oleh karena itu, sidik jari ini juga bisa mengungkap potensi seseorang.
Penyunting: Bukhari





























Leave a Reply