Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Sistematika Penulisan Tafsir al-Durr Al-Manthur Karya Al-Suyuti

Sumber: istockphoto.com

Salah satu kitab tafsir yang dikarang oleh Imam al-Suyuti ialah; kitab Tafsir al-Durr al-Manthur fi al-Tafsir bi al-Ma’thur. Darr al-Fikr menerbitkan 8 jilid pada kitab Tafsir al-Durr al-Manthur fi al-Tafsir bi al-Ma’thur.

Sistematika Penulisan Kitab Tafsir al-Durr al-Manthur

Penyusunan kitab Tafsir al-Durr al-Manthur fi al-Tafsir bi al-Ma’thur menggunakan sistematika penulisan berikut ini:

  1. Kitab Tafsir al-Durr al-Manthur fi al-Tafsir bi al-Ma’thur disusun dengan menggunakan urutan mushaf ‘utsmani (Maharani, 2011: 47). Penggunaan urutan mushaf ‘utsmani ini sama dengan kitab tafsir-tafsir lainnya.
  2. Al-Suyuti dalam penyusunan surah dimulai dengan menulis; nama surah, jumlah ayat, makiyah madaniah surah, kemudian memecah ke dalam bagian-bagian (Abdillah, 2017: 6).
  3. Nama surah, jumlah ayat, makiyah madaniyah surah (Al-Suyuti vol 1, 1983: 10)

Pola penulisan penafsiran dengan menyebutkan nama surah, jumlah ayat, dan makiyyah dan madaniyah surah juga sama; dalam penyusunan kitab Tafsir Al-Azhar, Tafsir al-Misbah, Tafsir al-Tahrir wa al-Tanwir, dan lain sebagainya. Mayoritas kitab tafsir menggunakan pola penyusunan seperti ini.

4. Memecah Surah al-Fatihah ke dalam bagian-bagian (Al-Suyuti vol 1, 1983: 19)

Pola penafsiran dalam membagi bagian surah kitab Tafsir al-Durr al-Manthur fi al-Tafsir bi al-Ma’thur ini berbeda dengan kitab Tafsir al-Azhar. Dalam kitab Tafsir al-Durr al-Manthur fi al-Tafsir bi al-Ma’thur tidak terdapat pengelompokkan ayat. Jadi dalam penafsirannya, al- Suyuti secara langsung melakukan penafsirannya per ayat.

Perbandingan dengan Tafsir Lainnya

Kitab Tafsir al-Azhar berbeda dengan kitab Tafsir al-Durr al-Manthur fi al-Tafsir bi al-Ma’thur; yang pada surah al-Fa>tihah tidak membagi pengelompokan ayat dikarenakan hanya terdiri dari tujuh ayat. Namun, dalam surah yang lainnya tetap ada pengelompokan ayat seperti mengelompokkan ayat 1-5 dalam menafsirkan Surah al-Baqarah (Hamka vol 1, 2001, 208)  

Baca Juga  Kemajuan Umat Islam Artificial Intelligence, Nyata Atau Wacana?

Kitab Tafsir al-Misba>h sama dengan Tafsir al-Durr al-Manthur fi al-Tafsir bi al-Ma’thur yang pada surah al-Fa>tihah juga tidak ada pengelompokkan ayat sedangkan pada surah al-Baqarah terdapat pengelompokkan ayat yaitu ayat 1-4 termasuk kelompok pertama dan mungkin hanya beda bilangan dalam aturan pengelompokan ayatnya (Shihab vol 1, 2002: 13)

  • Al-Suyu>t}i> di dalam kitab Tafsir al-Durr al-Manthur fi al-Tafsir bi al-Ma’thur; menafsirkannya dengan beberapa riwayat dan bersifat campur antara riwayat s}ah}i>h}, d>a’i>f, munkar, maudhu>’. Hal itu dikarenakan tidak ada tah}qi>q, kritik, penyeimbang, ataupun tarji>h. (Abdillah, 2017: 6).
  • Setelah penyebutan nama surah, jumlah surah, makiyyah madaniyah surah, terdapat penjelasan mengenai; keutamaan nama surah dan sesuatu yang berkaitan dengan Surah Al-Fa>tih}ah yang dipaparkan dengan riwayat-riwayat.

***

Hal itu sama dengan kitab Tafsir al-Misbah yang juga terdapat penulisan keutamaan nama surah dan sesuatu yang berkaitan dengan pembahasan surah sebagaimana dalam kitab Tafsir al-Durr al-Manthur fi al-Tafsir bi al-Ma’thur. Dalam penafsiran kitab Tafsir al-Misbah yang menunjukkan sesuatu yang berkaitan dengan surah al-Fa>tihah yaitu:

Anda dapat juga berkata bahwa al-Fatihah adalah pembuka yang sangat agung bagi segala macam kebajikan. (Shihab vol 1, 2002: 4)

  • Selain penjelasan mengenai keutamaan surah yang menggunakan riwayat, juga terdapat dalam bentuk penafsiran pecahan bagian dari surah al-Fa>tih}ah.
  • Penjelasan mengenai asbabun nuzul juga dipaparkan dalam bentuk riwayat.
  • Al-Suyu>t}i juga membahas mengenai hubungan qira’at dengan qori‟nya yang terkandung dalam surah. Hal itu bersumber dari orang yang meriwayatkan qira’at atau sahabat dengan tidak menjelaskan kualitas dari qira’at tersebut (Abdillah, 2017: 6).

أخرج الترمذي وابن أبي الدنيا وابن الانباري كلاهما في كتاب المصاحف عن أم سلمة أن النبي عل كان يقرأ و ملك يوم الدين و بغنً ألف .

Baca Juga  Mukjizat Air Zam Zam yang Tak Terbantahkan

Diriwayatkan al-Tirmidzi>, Ibn Abi> al-Dunya> dan Ibn al-Anba>ri> keduanya berpendapat dalam kitab al-Mas}o>h}if dari Ummu Salamah bahwa Nabi biasa membaca maliki yaum al-di>n dan tanpa alif (pada lafaz} maliki) (Al-Suyu>t}i vol 8, 2011: 35).

***

Dalam kitab Tafsir al-Durr al-Manthur fi al-Tafsir bi al-Ma’thur terdapat dua pendapat dalam penafsiran kata “maliki”. Pendapat yang pertama dibaca tetap yaitu “maliki” tanpa memanjangkan „mim‟. Hal itu berdasarkan riwayat al-Tirmidzi, Ibn Abi ad-Dunya, Ibn al-Anbari. Pendapat yang kedua dibaca dengan memanjangkan “mim” berdasarkan riwayat Ahmad bin Hanbal (Al-Suyu>t}i vol 8, 2011: 35).

  • Al-Suyuti memaparkan rujukan otentik riwayat dan hadis melalui penulisan perawi yang meriwayatkan dengan sanad (Rahman, 2015: 65).

وأخرج ابن الضريس وابن جرير عن أبي العالية رضي الله عنه قال قالوا : انسب لنا ربك ، فأتاه جبريل بهذه السورة و قل هو الله أحد الله الصمد

Diriwayatkan Ibn Al-Doris dan Ibn Jarir dari Abi Al-A’liyah ra, Mereka berkata: “Serahkan kepada Tuhanmu untuk kami.” Kemudian Jibril membawakan surah ini, dan berkata, “Dia adalah Tuhan, Yang Mahaesa, Tuhan, Yang Abadi (Al-Suyuti vol 8, 2011: 669).

Penafsiran kitab TTafsir al-Durr al-Manthur fi al-Tafsir bi al-Ma’thur ini mencantumkan nama periwayat dalam penukilannya. Sebagaimana contoh di atas terdapat nama periwayat yaitu Ibn Al-D}ori>s dan Ibn Jari>r dari Abi> Al-A<’liyah ra secara jelas dan runtut.

***

  • Kitab Tafsir al-Durr al-Manthur fi al-Tafsir bi al-Ma’thur dalam penafsiran al-Suyuti terkadang menghukumi sanad periwayatan dengan menyebut hukumnya yaitu sahih, hasan, dan daif (Rahman, 2015: 66).
Baca Juga  Menguatkan Nasionalisme untuk Membendung Radikalisme

Penulisan persoalan sanad periwayatan dalam penukilannya, al-Suyu>t}i tidak menjelaskan semuanya di setiap penukilannya. Hal itu yang membuat kelemahan dalam kitab kitab Tafsir al-Durr al-Manthu>r fi al-Tafsi>r bi al-Ma’thu>r.

Keenam sistematika penulisan itulah yang digunakan Al-Suyu>t}i dalam penyusunan kitab Tafsir al-Durr al-Manthur fi al-Tafsir bi al-Ma’thur. Jika dibandingkan dengan kitab-kitab yang lainnya hampir sama dan hanya saja ada sedikit perbedaan dalam pengambilan jumlah ayat yang dikelompokkan untuk penafsiran. Namun, hal itu tidak mengurangi sisi keindahan dan kedalaman makna antara satu kitab tafsir dengan kitab tafsir lainnya.

Editor: An-Najmi