Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Idul Adha dan Pelajaran Berbangsa

Idul Adha
Gambar: Detik

Momen Idul Adha selalu mengantarkan kita pada suatu petulangan sejarah tentang dua sosok manusia bernama Ibrahim dan Ismail. Teladan dan pelajaran yang diberikan dua tokoh ini tak pernah habis-habisnya kita petik dan kontekskan dengan keadaan hari ini.

Salah satu tema sentral yang kerap kita kutip dari dua tokoh tersebut ialah soal pengorbanan. Dalam situasi berbangsa dan bernegara hari ini, mendaras kembali pengorbanan yang diajarkan oleh dua tokoh tersebut menjadi hal yang relevan dan penting. Pasalnya hari ini kita melihat semangat berkorban tersebut telah raib dari kesadaran para elit bangsa. Sikap pengorbanan seolah-olah menjadi suatu hal yang mewah dan sulit untuk didapatkan, kecuali pada segelintir orang.

Padahal kita tahu negara ini dapat berdiri dengan tegak karena para pejuang dan tokoh-tokoh saat itu rela mengorbankan apa yang mereka miliki demi kemerdekaan negeri yang dicinta. Tak cuma waktu, tenaga dan harta, nyawa pun menjadi hal yang mereka pertaruhkan jika dibutuhkan.

Tokoh-tokoh pendiri bangsa seperti Soekarno, Hatta,  Agus Salim, Fatmawati dan lainnya adalah contoh dari orang yang membaktikan dirinya untuk bangsa Indonesia. Tenaga mereka kerahkan, pikiran mereka curahkan, tak lain hanya untuk menyegerakan kemerdekaan Indonesia. Bahkan beberapa dari mereka ada yang sampai harus mendekap dalam jeruji besi.

Begitupun dengan ulama-ulama baik dari Muhammadiyah, NU dan elemen-eleman lain. Tak berjuang seorang diri, mereka pun turut mengajak dan mengobarkan semangat santri-santrinya untuk turut serta dalam perjuangan kemerdekaan. Dari umat agama lain pun demikian. Mereka semua bahu-membahu untuk satu tujuan yang sama, yakni kemerdekaan Indonesia.

Pelajaran berjuang dan berkorban itu penting ditekankan dan diaktivasi di momen Idul Adha seperti sekarang. Khususnya dengan merujuk figur-figur sentral seperti Ibrahim, dan Ismail. Ibrahim, dengan segala kesenangan dan kegembiraan yang dimilikinya, dipaksa untuk merelakan Ismail, anak yang telah lama dinantinya.

Baca Juga  Abdullah Saeed: Penggagas Konsep Ethico-Legal

Sebagaimana yang ditayangkan oleh sejarah, Ibrahim sempat lama baru mendapat momongan. Padahal saat itu ia telah memasuki usia yang cukup senja. Namun dengan prangsaka baiknya, ia meyakini kalau Allah hanya sedang menguji kadar keimanannya.

Berbekal doa yang tekun, akhirnya tibalah satu hari yang dinanti. Yakni ketika sang putra lahir ke muka bumi dan menyapa seluruh penghuninya. Tak terbayangkan, bagaimana raut bahagia Ibrahim saat itu. Anak yang telah lama ditunggu dan dinantinya akhirnya telah berada tepat di hadapannya.

Dengan kebahagiaan yang hari itu didekap dengan sangat baik oleh Ibrahim, ia tak menyangka kalau Allah akan mengujinya kembali dengan satu perintah yang cukup memberatkan hatinya. Yakni perintah untuk menyembelih Ismail. Akan tetapi, satu pelajaran yang diajarkan Ibrahim, ia tak pernah keberatan dengan perintah Tuhannya. Sekalipun itu harus mengorbankan anak yang paling dicintainya.

Begitupun dengan Ismail. Ia tak sama sekali menggugat dan keberatan atas permintaan ayahnya. Justru dialah yang meyakinkan dan menenangkan ayahnya agar tak bersedih dengan adanya perintah tersebut. Sebab Ismail meyakini, selama perintahnya benar-benar datang dari Allah, maka Allah sedang mempersiapkan kejutan kebaikan yang lebih besar di baliknya.

Allah benar-benar sedang menguji Ibrahim. Sebagai nabi yang bergelar kholilullah atau kekasih Allah, Allah ingin melihat apakah posisi anaknya telah menggeser posisi-Nya di hati Ibrahim. Ternyata tidak sama sekali. Ibrahim tetap setia dan istiqamah pada kecintaan dan kepatuhannya terhadap perintah Allah. Akhirnya, saat akan menyembelih Ismail, Allah justru menggantikannya dengan seeokor domba.

Dari sinilah tradisi kurban beranjak. Kata kunci yang hendak ditegaskan ialah tentang pentingnya berkorban. Allah tentu sangat sadar ketika menyajikan tema ini pada kisah Ibrahim dan Ismail. Sebab Dia begitu paham tabiat manusia yang sering gampang lupa dengan satu pelajaran penting ini. Padahal, dalam kehidupan sehari-hari, kesediaan berkorban inilah yang banyak menyelamatkan bumi.

Baca Juga  Bolehkah shalat Tahajud Meski Sudah Teraweh?

Dengan berkorban, seseorang akan memangkas baik-baik ego yang dimilikinya. Sikap lobak, tamak dan serakah kerap menjadi benteng yang paling depan dalam menghalangi manusia untuk menekan ego pribadi.

Berbanding terbalik dari yang diteladankan Ibrahim dan Ismail, hari ini kita justru melihat panorama yang berbeda. Jika Ibrahim dan Ismail berani mengorbankan kesenangan dan ego pribadinya untuk menjalankan perintah Tuhannya, maka tidak demikian dengan hari ini. Kita lebih sering melihat orang-orang yang berani dan tanpa rasa malu mengorbankan kepentingan orang banyak demi pemenuhan hasrat pribadi.

Seorang pemimpin negara berani menabrak aturan dan hukum-hukum yang berlaku demi memperturutkan ambisi pribadinya. Seorang pejabat, dengan tanpa rasa bersalah, berani merampok uang rakyat demi kebutuhan pribadi dan sanak famili. Tak terkecuali pimpinan organisasi masyarakat. Tidak sedikit dari mereka yang bersikap tuli pada aspirasi dan protes dari umatnya demi memuluskan jalannya meraih sebanyak-banyak keuntungan. 

Karena itu, momentum Idul Adha ini, sangat layak menjadi hari kita merenung tentang kesalahan-kesalahan yang sering kita lakukan dalam berbangsa. Harus diingat, bahwa bangsa ini besar dan tumbuh karena adanya orang-orang yang mendermakan dan mengorbankan waktu, tenaga dan hartanya. Jika kita sudah tak terbiasa berkorban dan lebih memperturutkan ego pribadi, maka itu alamat kalau nasib bangsa ini sedang di ujung tanduk.

Penyunting: Bukhari