Syawal merupakan bulan yang datang setelah bulan suci Ramadhan. Di bulan syawal ini masyarakat muslim bersuka cita menyambut kemenangan Idul Fitri setelah berpuasa satu bulan penuh menahan diri dari segala bentuk yang dapat membatalkan puasa dan pahalanya. Karena pada bulan Syawal ini seluruh umat muslim berkumpul dengan keluarganya dengan mengunjugi kedua orangtuanya, sanak keluarganya, dan kerabatnya.
Bulan Syawal dan Keluarga
Pada bulan syawal ini menjadi penghubung dalam menjalin kembali hubungan yang telah lama tidak terkoneksi. Tak heran banyak umat muslim menyambut bulan ini dengan penuh kebahagiaan. Serta kehadiran bulan syawal ini juga menjadi salah satu bulan yang di tunggu untuk berkumpul bersama keluarga.
Manusia merupakan makhluk sosial yang membutuhkan adanya interaksi dengan manusia lainnya. Mereka akan memberikan bentuk ekspresi senang dan gembira ketika bertemu dan bertatap muka dengan seseorang yang mereka sayangi dan rindui. Misalnya Orang tua yang rindu terhadap anaknya yang telah menikah dan menetap di kota yang jauh sehingga tidak memungkinkan untuk bertatap muka di setiap harinya. Maka pada bulan syawal ini menjadi penawar pelipur lara kerinduan yang hinggap di hati orang tua tersebut.
Kesunyian yang biasanya menghiasi rumah mereka kini telah kembali ramai dengan datangnya; anak, menantu, dan cucu untuk merayakan hari kemenangan bersama. Begitu juga dengan berkunjungnya pada kerabat, teman, dan saudara yang biasanya tidak memiliki keluangan waktu untuk bertemu. Maka pada bulan syawal ini umat muslim saling mengunjungi satu sama dengan yang lainnya.
Silaturahmi Bulan Syawal
Rasulullah saw bersabda dalam hadis yang di riwayatkan oleh Bukhari:
عَن أَبِي هريرة رضي الله عنه قال: قَالَ رَسُولُ اللّٰهِ صلى الله عليه وسلم: مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَبْسُطَ لَهُ فِى رِزْقِهِ، وَأَنْ يَنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ. أَخْرَجَهُ الْبُخَارِىُّ
Artinya: “Dari Abu Hurairah رضي الله عنه dia berkata: Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: Barangsiapa senang di perluas rezekinya di perpanjang umurnya hendaklah bersilahturahm. Riwayat Bukhari” (Terjemah Bulughul Mahram, al Imam al-Hafidz Ibnu Hajar al-As-qalani, Bab Kebaikan dan Silahturahmi)
Bulan Syawal memang menjadi ajang bersilahturahmi, mempererat tali persaudaraan dengan saling bermaaf-maafan sesama umat muslim. Seseorang yang rajin berkomunikasi, baik itu dengan keluarga, tetangga, saudara, atau sahabat, dengan sendirinya akan memiliki banyak teman atau sahabat. Jadi pendekatan ini bisa mendatangkan rezeki. Silahturahmi juga menjadi ajaran yang di perintahkan Allah SWT, Allah berfirman dalam Qs An-Nisa ayat 36:
وَاعْبُدُوا اللّٰهَ وَلَا تُشْرِكُوْا بِهٖ شَيْـًٔا وَّبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًا وَّبِذِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنِ وَالْجَارِ ذِى الْقُرْبٰى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْۢبِ وَابْنِ السَّبِيْلِۙ وَمَا مَلَكَتْ اَيْمَانُكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُوْرًاۙ
Artinya: “Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat-baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim; orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri.”
Tafsir Silaturahmi
Di dalam tafsir kementrian agama RI Ayat-ayat ini berbicara tentang aturan dan norma kehidupan keluarga dan warisan, yang membutuhkan tingkat kesadaran tertentu untuk diikuti. Ayat ini menekankan kesadaran tersebut dengan menunjukkan perincian tempat tumpuan kesadaran itu dipraktikkan. Dan sembahlah Allah Sembahlah Allah yang menciptakan kamu dan pasangan kamu dan jangan kamu sekali-kali mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.
Dan ikhlas berbuat baiklah dengan sungguh-sungguh kepada kedua orang tua, juga kepada karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin. Tetangga dekat dan tetangga jauh walaupun tetangga itu nonmuslim, kerabat dekat, ibnu sabil, yakni orang dalam perjalanan bukan pada keadaan maksiat yang kehabisan bekal, dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh, Allah tidak menyukai dan tidak melimpahkan rahmat dan kasih sayang-Nya kepada orang yang sombong dan membanggakan diri di hadapan orang lain.
Dalam ayat ini, Allah juga telah menetapkan kewajiban terhadap sesama manusia. Setelah Allah memerintahkan untuk menyembahnya dan tidak menyekutukan-Nya dengan yang lain, Allah memerintahkan untuk berbuat baik kepada orang tua. Menghormati orang tua adalah kewajiban yang harus dipenuhi oleh setiap orang. Kemudian, jika ia menunaikan kewajiban kepada orang tuanya dengan tulus dan ikhlas, maka akan tercipta keluarga yang aman dan tenteram, dan seluruh keluarga akan bahagia.
Esensi Keluarga
Keluarga yang damai dan tenteram akan memiliki kekuatan untuk memperlakukan orang yang dicintai dan dicintai dengan baik. Kemudian kekuatan yang kuat akan berkumpul di masyarakat. Dari masyarakat seperti itu, akan lebih mudah untuk melihat esensi membantu baik dalam membantu anak yatim dan orang miskin. Karena kebaikan yang diberikan kepada anak yatim dan fakir miskin tidak hanya berdasarkan ikatan darah dan kekeluargaan. Tetapi semata-mata karena dorongan perikemanusiaan yang ditumbuhkan oleh rasa iman kepada Allah. Kemudian berbuat baik kepada tetangga adalah penting. karena pada hakikatnya tetangga itulah yang menjadi saudara dan famili.
Datangnya bulan syawal ini menjadi salah satu momentum dalam menenangkan hati dengan saling memaafkan kesalahan orang lain dan kesalahan diri sendiri. Menjadikan diri kembali pada fitrahnya dengan menikmati apa yang kita punya dan bersyukur dengan apa yang kita miliki pada saat ini. Setelah setahun penuh manusia disibukkan dengan aktivitasnya masing-masing, kita kembali ke fitrah kita sebagai makhluk sosial di hari raya Idul Fitri. Selama Idul Fitri, kita diingatkan tentang hubungan kita dengan kerabat. Bersamaan dengan saling mendoakan dan saling memaafkan; Idul Fitri merupakan saat yang tepat untuk mempererat persaudaraan dan menjalin kembali tali silahturahmi.


























Kanal Tafsir Berkemajuan
Sebuah media Islam yang mempromosikan tafsir yang progresif dan kontekstual. Hadir sebagai respon atas maraknya tafsir-tafsir keagamaan yang kaku dan konservatif.