Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Merenungi Pemaknaan Ramadhan Sebagai Bulan Al-Qur’an Diturunkan

Sumber: istockphoto.com

Bulan Ramadhan seringkali disebut bulan penuh berkah. Di kali lain, dikatakan sebagai bulan penuh ampunan. Dan tentu yang tak jarang terdengar di telinga kita, bulan Ramadhan merupakan bulan al-Qur’an. Sebab, di bulan inilah al-Qur’an diturunkan (QS. al-Baqarah [2]: 185).

Hal demikian sangat lazim menanamkan motivasi dalam meraih berkah dan ampunan melalui interaksi dengan al-Qur’an. Salah satu upaya yang dapat dilakukan ialah dengan memperbanyak membaca al-Qur’an.

Al-Qur’an diturunkan sebagai kalamullah berkedudukan yang tidak akan pernah setara dengan kalam lainnya. Saat ayat-ayat al-Qur’an dibaca akan dibalas dengan pahala. Salah satu mukjizatnya, pembaca al-Qur’an akan memperoleh pahala meskipun tidak memahami maknanya.

Lebih dari itu, membaca al-Fatihah merupakan wajib di dalam shalat. Karenanya, al-Qur’an menjadi begitu istimewa menjadi bagian penting ibadah utama kaum muslim. Dengan begitu, al-Qur’an secara tidak langsung menjadi barometer nilai-nilai ajaran bagi umat muslim.

Al-Qur’an Diturunkan di Bulan Ramadhan

Secara hitungan matematis, pahala membaca al-Qur’an besarnya bukan main. Satu hadis riwayat Imam Tirmidzi menyebutkan bahwa satu huruf (al-Qur’an) dibalas dengan sepuluh kebaikan. Balasan pahala tidak berhenti pada pahala saja.

Implikasi dari membaca al-Qur’an juga akan menurunkan kedamaian dan rahmat dari Allah. Jaminan ini diberikan kepada mereka yang suka berkumpul di masjid mengkhususkan waktu untuk al-Qur’an. Ini seperti tersurat dalam hadis riwayat Imam Muslim tentang keutamaan membaca al-Qur’an.

Al-Qur’an diturunkan di bulan Ramadhan seakan menjadi penegas bahwa al-Qur’an menjadi bagian tak terpisahkan dari Ramadhan itu sendiri. Kedudukannya selain mulia, juga banyak menawarkan opsi ibadah yang bisa dilakukan dengan al-Qur’an.

Baca Juga  Makna Kata tilawah dalam Al-Qur’an sebagai Anjuran Literasi

***

Hal itu dapat ditandai dengan memperbanyak tilawah al-Qur’an, menghafalnya, hingga mengkajinya dalam majlis-majlis ilmu. Hal ini sebagaimana riwayat Ibnu Abbas bahwa:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ بِالْخَيْرِ وَكَانَ أَجْوَدَ مَا يَكُونُ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ إِنَّ جِبْرِيلَ عَلَيْهِ السَّلَام كَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ سَنَةٍ فِي رَمَضَانَ حَتَّى يَنْسَلِخَ فَيَعْرِضُ عَلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْقُرْآنَ فَإِذَا لَقِيَهُ جِبْرِيلُ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ بِالْخَيْرِ مِنْ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ

“”Rasulullah Saw. adalah orang yang paling pemurah berbuat kebajikan, terutama di bulan Ramadhan. Karena setiap tahun Jibril As. selalu menemui beliau tiap-tiap malam, hingga habis bulan Ramadhan. Rasulullah Saw. memperdengarkan bacaan Qur’an kepadanya (dan Jibril menyimak). Apabila Jibril mendatanginya, beliau lebih giat lagi berbuat kebajikan melebihi angin yang berhembus.” (HR. Muslim)

Sebagai bentuk penghormatan terhadap beliau, sudah semestinya kita memuliakan Ramadhan ini dengan banyak membaca al-Qur’an, mentadabburi dan memahami isinya. Setiap orang dapat menentukan targetnya menurut kapasitas masing-masing. Sebagai acuan, boleh kita meniru para genarasi terdahulu yang begitu hormat dan meluangkan lebih banyak waktunya untuk al-Qur’an.

Meneladani Salaf al-Shalih Dalam Interaksi Terhadap Al-Qur’an

Ramadhan, puasa, dan al-Qur’an ibarat trilogi yang tidak terpisahkan. Antara satu dengan lainnya saling melengkapi. Terdapat ragam hikmah yang penting direnungi di balik fakta ketiganya. Ketika membahas Ramadhan tidak pernah terlewat tentang puasa dan al-Qur’an. Begitu pula ketika membahas Ramadhan, selalu mengaitkan dengan al-Qur’an sebagai komoditi ibadah di dalamnya.

Sebutan Ramadhan sebagai bulan al-Qur’an bukan tanpa argumentasi. Dalil QS. al-Baqarah [2]: 185 menjadi landasan al-Qur’an diturunkan di bulan Ramadhan. Pada bulan ini, puasa menjadi ibadah utama yang diwarnai dengan ragam interaksi bersama al-Qur’an secara khusus. Banyak sekali riwayat menyebutkan tentang orang-orang yang mengutamakan waktunya untuk al-Qur’an. Sebut saja Nabi Saw, para sahabat, hingga tabi’ tabi’in juga melakukannya.

Baca Juga  Jihad dan Terorisme: Dua Hal yang Sangat Berbeda

Rasulullah Saw. sendiri telah memberikan teladan bagaimana beliau menyetorkan al-Qur’an kepada Jibril As. pada setiap malamnya. Demikian halnya, para sahabat hingga para ulama juga melakukan interaksi bersama al-Qur’an dengan intensitas lebih tinggi khusus di bulan ini.

***

Berbagai cara dilakukan demi mengkhatamkan al-Qur’an. Sebagian mereka ada mengkhatamkan setiap hari sekali. Ada pula yang mengkhatamkan al-Qur’an dalam tiga hari hingga tujuh hari. Ada pula yang mengkhatamkannya sepuluh hari sekali.

Sebut saja Usman bin Affan mengkhatamkan al-Qur’an setiap harinya di bulan Ramadhan. Qatadah dalam tujuh hari khatam sekali. Imam Syafi’i dinilai paling banyak mengkhatamkan al-Qur’an saat Ramadhan hingga 60 kali. Lebih lanjut, Sufyan al-Tsauri lebih banyak menggunakan waktunya untuk al-Qur’an dan ibadah-ibadah sunnah lainnya (republika.co.id, 2018). Sementara Imam Malik memilih untuk memperbanyak membaca al-Qur’an dengan meliburkan aktifitas mengajar di majlisnya.

Ragam interaksi dengan al-Qur’an telah dicontohkan oleh generasi salaf al-shalih. Mereka seperti berlomba-lomba untuk memperbanyak aktivitas bersama al-Qur’an. Terutama dalam hal mengkhatamkannya.

***

Sebagai muslim tentunya dapat meneladani amaliah Ramadhan seperti dilakukan para pendahulu kita. Minimal dapat menentukan target tilawah al-Qur’an menurut kadar kemampuan diri. Setidaknya, ini merupakan cara terbaik merayakan Ramadhan sebagai bulan al-Qur’an.

Kemudian ada sebuah hadis riwayat Abu Hurairah Ra. bahwa Nabi Saw. bersabda:

مَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمْ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمْ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمْ الْمَلَائِكَةُ وَذَكَرَهُمْ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ

“Tiadalah berkumpul suatu kaum dalam baitullah (masjid) untuk membaca kitab Allah dan mempelajarinya, melainkan pasti turun pasti turun kepada mereka ketenangan, diliputi rahmat, dikerumuni malaikat dan diingat Allah di depan makhluk yang sisi-Nya.” (HR Muslim)

Baca Juga  Antara Istri dan Ibu: Begini Penjelasan Al-Qur’an

Hadis di atas dapat dimaknai bahwa sebagai komunitas, umat muslim berkesempatan memperoleh pahala melimpah dari interaksi bersama al-Qur’an. Dalam hadis tersebut, juga ada janji berupa balasan yang cukup menggiurkan. Mereka yang membaca dan mengkaji al-Qur’an secara berjama’ah akan mendapatkan ketenangan dan rahmat dari Allah. Hati yang tentram berikut rahmat yang meliputi sesama adalah anugerah yang patut didambakan.

***

Lebih-lebih di bulan puasa saat ini, rahmat sangat terbuka untuk kita raih bersama. Pesan utama dari perintah puasa adalah target takwa. Hal ini senada dengan kata Allah bahwa rahmat Allah begitu dekat dengan orang-orang yang berbuat baik (QS. al-A’raf [7]: 56).

Ibnu Katsir menjelaskan makna rahmat Allah pada ayat tersebut menjadi ganjaran bagi mereka yang berbuat baik. Perbuatan yang dalam arti taat terhadap perintah Allah secara komprehensif. Di samping taat perintah Allah, juga meninggalkan larangan-Nya (Ibnu Katsir, 1999: 3/429). Dan al-Qur’an menjadi salah satu media menggapai rahmat tersebut.

Dengan demikian, Ramadhan dan al-Qur’an merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Puasa yang dijalani setiap harinya belum lengkap tanpa al-Qur’an. Berpuasa dan membaca al-Qur’an akan terus menjadi komoditas utama ibadah di bulan Ramadhan.

Tanpa didekati pun, al-Qur’an tetap menawarkan banyak pahala sebagai balasan bagi orang yang bertakwa. Saat kita menekunkan diri untuk al-Qur’an, saat itulah kita tengah mengasah takwa untuk menggapai rahmat Allah semestinya.

Editor: An-Najmi