Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Jejak Lailatul Qadar Pasca Ramadhan

Ramadhan telah berlalu, bagaimanakah jejak berbagai amalan shalih yang telah diperbuat selama bulan suci itu ?

Ramadhan telah usai dan berlalu dengan berbagai jejak amal shalih di dalamnya. Banyak umat Islam yang menyesali waktu yang dirasa singkat, akan tetapi banyak pula yang tidak menganggapnya sebagai suatu hal yang penting dan menganggap bahwa puasa Ramadhan dengan berbagai program ibadah yang sudah maklum di dalamnya adalah tradisi tahunan yang tidak perlu diperhatikan terlalu serius dan bahkan menganggapnya sebagai angin lalu.

Karena yang terpenting adalah ikut berpuasa, dan hadir dalam kegiatan-kegiatan masjid yang rutin diadakan semasa Ramadhan seperti takjil, shalat tarawih dan zakat fitrah.Akan tetapi sebagai seorang muslim yang giat merenung dalam makna perjalanan hidupnya, amalan Ramadhan selayaknya tidak hanya dimaknai sebagai kebiasaan rutin tahunan, melainkan juga pembiasan diri baik gerak fisik juga gerak hati. Gerak hati yang dimaksud adalah ketika hati dilatih untuk ketundukan kepada ketaatan dengan banyak merenungi kelanjutan amal kebaikan agar terus menerus ada dan berlanjut hingga waktu yang Allah tentukan.

Lebih penting daripada itu adalah permasalahan diterimanya ibadah yang merupakan masalah yang paling penting sekaligus paling sulit diprediksi karena hal itu merupakan penilaian khusus dari Allah. Betapa banyak amalan ibadah yang dilakukan oleh sebagian orang yang ternyata disisi Allah itu menjadi sia-sia. Seperti yang diungkapkan oleh seorang tabi’in, Abdullah bin Mubarak, “Berapa banyak mereka yang beramal besar tetapi niat mereka menjadikan amalan itu kecil. Dan berapa banyak orang yang beramal kecil tetapi niat mereka menjadikan amalan itu besar”.

Salah satu keistimewaan bulan Ramadhan adalah hadirnya malam lailatul qadar. Malam istimewa ini hanya terjadi di bulan Ramadhan, akan tetapi memiliki dampak yang luar biasa dalam kehidupan seseorang. Malam lailatul qadar sendiri memiliki setidaknya tiga arti harfiah : (1) malam ketetapan, (2) malam yang mulia, dan (3) malam yang penuh atau tertutup. Ketiga arti itu merujuk pada kejadian di malam itu, dimana para malaikat yang mulia turun di bulan mulia dan memenuhi bumi dan langit serta mengaminkan doa yang dipanjatkan para hamba Allah untuk menjadi ketetapan-Nya yang hakiki.

Baca Juga  Benarkah Malaikat Pernah Menentang Allah Swt?

Malam lailatul qadar berkaitan dengan takdir manusia, tidak hanya berkaitan dengan nilai minimal ibadah yang “hanya” bernilai seperti 1000 bulan ibadah tanpa batas maksimal. Karena dalam malam itu dituliskan takdir sanawiy yang berlaku selama satu tahun kedepan, yang ditulis dalam shuhuf para malaikatnya. Selain takdir azali yang hanya diketahui Allah dan tertulis sejak sebelum terciptanya langit dan bumi, juga takdir ‘umri yang ditetapkan ketika janin diberi ruh dalam kandungan atau takdir yaumi yang ditetapkan setiap harinya.

Maka bagi mereka yang telah Allah berikan kemampuan untuk mendapatkan malam yang benar-benar mulia ini dan memanfaatkannya dengan baik serta mendapat karunia Allah berupa diterimanya amal, sesungguhnya dirinya benar-benar mendapat karunia yang tak tergantikan. Dengan rahmat dan kasih sayang-Nya, Allah sengaja letakkan kemuliaan ini di sepertiga bulan terakhir, dan kebanyakan orang memanfaatkan sepertiga malam terakhir untuk mencari waktu yang mulia itu.

Ibnu Rajab al-Hanbali mengatakan, “Mengulang puasa (maksudnya berpuasa lagi) setelah puasa Ramadhan adalah ciri-ciri diterimanya amal puasa Ramadhan. Karena sesungguhnya Allah jika menerima amalan kebaikan seorang hamba, maka Allah akan menunjukinya untuk beramal shalih lagi setelahnya”.

Maka menjadi pertanyaan, jika puasa Ramadhan yang diterima kemudian menyebabkan seorang muslim berpuasa lagi di bulan Syawwal selama 6 hari, maka bagaimana seorang muslim yang diterima amalan lailatul qadar-nya ?

Jika puasa Ramadhan yang diterima menjadikan seseorang berlanjut puasa sunnah, maka begitu pula ibadah yang lain seperti membaca Al Quran dengan rutin, bersedekah, shalat malam. Akan tetapi ibadah lailatul qadar yang lebih dari “sekedar” shalat malam, dzikir, membaca Al Quran tentu memiliki pertanda yang berbeda.

Jika ibadah yang lain membuat seseorang menjadi mudah dalam melanjutkan amal ibadah yang serupa di bulan Ramadhan, maka amalan malam lailatul qadar yang diterima selain membuat seseorang mudah dalam melanjutkan amal, juga membuat doa-doanya terkabul tepat setelah dirinya mulai beranjak dari Ramadhan, dan berlaku selama satu tahun kedepan sebagaimana takdir sanawi bekerja. Do’a-do’a yang dilantunkan di malam dimana dirinya mendapat kemuliaan itu akan tertulis dan menjadi perjalanan hidupnya yang akan dijalaninya selama setahun penuh.

Baca Juga  Nasihat Nabi Shu’aib: Tauhid Sebagi Fondasi Kemakmuran

Maka seseorang yang memanfaatkan malam lailatul qadar dengan kurang maksimal atau lupa dalam menggunakannya sebagai saat berdoa terbaik, diprediksi setelah beranjak dari Ramadhan seolah tidak ada hal istimewa atau perubahan drastis dalam hidupnya. Ibadah selain doa adalah hak Allah untuk menerima atau menolak, akan tetapi perkara doa dalam banyak hadits merupakan ibadah yang tidak layak mendapat perilaku pesimis dari pelakunya.

Sekalipun tentu ranah diterimanya amal tetap menjadi ranah yang tidak bisa diketahui secara pasti, akan tetapi para ulama berijtihad dengan dasar-dasar yang bisa dipertanggungjawabkan. Terlebih dalam perkara takdir yang merupakan ranah yang tak bisa disentuh sama sekali oleh pengetahuan manusia, dan hanya berbekal informasi-informasi yang sifatnya baku dari Rasulullah -shallallahu ‘alayhi wa sallam- yang itupun jumlahnya tidak terlalu banyak dan bersifat umum.

Salah satu informasi yang mampu disimpulkan perkara takdir adalah bawah takdir bisa dirubah dengan do’a. Selain takdir yang sifatnya azali yaitu yang sudah termaktub dalam lauhul mahfudz 50.000 tahun sebelum penciptaan alam semesta, takdir setiap orang bisa saja berubah dengan doa dan upaya setiap diri dengan ketetapan bijak dari Allah. Akan tetapi setiap diri perlu melakukan koreksi pada diri masing-masing, apakah amalan Ramadhan, baik itu lailatul qadar sebagai keistimewaan tersendiri juga amalan yang lain sudah diterima oleh Allah, dan apakah ada bekasnya seusai beranjak dari Ramadhan ?

Seorang yang memiliki minat di bidang sejarah, dakwah dan pendidikan Islam. Memiliki keseharian sebagai peneliti dan penulis di ketiga bidang yang menjadi minatnya. Monggo, silaturrahmi di media sosialnya.