Publik merespon berita sawer pada peserta Qori’ saat melantunkan ayat suci Al-Qur’an. Aksi ini menjadi kebiasaan dan bahan tertawaan saat melakukannya; sebagai hal tak pantas. Seharusnya Al-Qur’an tidak keluar dari fungsinya yang telah Allah gariskan sebagai; petunjuk, penjelas, dan pembeda antara kebaikan dan keburukan. Ajang perlombaan Al-Qur’an ini menjadi wahana silahturahmi sebagai pendorong minat baca Masyarakat terhadap Al-Qur’an serta mengkaji kandungannya secara mendalam. Adab kepada Al-Qur’an perlu menjadi perhatian.
Al-Qur’an terdapat susunan yang paling indah kaidah kebahasaan yang tinggi maknanya. Bangsa Arab yang terkenal dengan keindahan syairnya tidak mampu menandingi ilmu Balaghah Al-Qur’an. Al-Qur’an sebagai mukjizat yang memuat tentang peng-Esaan Allah, pen-Sucian sifat-sifat-Nya, ajakan taat kepada-Nya. Penjelasan cara beribadah kepada-Nya, tentang halal dan haram, amar ma’ruf, nahi munkar, dan bimbingan akhlak yang baik. Sebagai Muslim, mempelajari adab Al-Qur’an menjadi hal penting.
Adab Membaca Al-Qur’an
Al-Qur’an merupakan bacaan yang sangat mulia; kitab yang terpelihara bahwa keagungannya menjadi peringatan dan memimpin kebenaran umat manusia. Lantas bagaimana jika belakangan ini banyak sikap umat muslim yang justru memberikan adab buruk terhadap Al-Qur’an. Mereka seakan lupa cara mentadaburi lantunan ayat dan maknanya dan memilih untuk sibuk memberikan saweran bayaran terhadap pelantun ayat Al-Qur’an. Mereka tak canggung untuk menyelipkan dan melemparkan uang kepada Qori’ saat pembacaan ayat-ayat Al-Qur’an. Rasanya tindakan ini sungguh tidak etis untuk dilakukan apalagi menjadi sebuah tradisi. Miris ketika adab tidak lagi ada ketika pembacaan Al-Qur’an. Perilaku ini sebagai makhluk yang hina yang tidak memiliki kesadaran bahwa ini merupakan kalam Allah yang sangat agung.
Bukankah Allah telah berfirman di dalam Qs shad ayat 29:
كِتٰبٌ اَنْزَلْنٰهُ اِلَيْكَ مُبٰرَكٌ لِّيَدَّبَّرُوْٓا اٰيٰتِهٖ وَلِيَتَذَكَّرَ اُولُوا الْاَلْبَابِ
Artinya: “Kitab (Al-Qur’an) yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah; untuk mereka menghayati ayat-ayatnya. dan agar orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran”.
Penafsiran Ayat
Dalam tafsir Al-Munir bahwa pada ayat menjadi dalil sebagai keharusan untuk mengetahui makna-makna Al-Qur’an. Bacaan Tartil lebih utama dari bacaan cepat sebab mentadaburi makna Al-Qur’an tidak bisa dalam keadaan cepat. Hasan Basri berkata menadaburi ayat-ayat Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah dengan mengikutinya. Al-Qur’an adalah pengingat dan nasihat bagi orang-orang yang berakal orang yang berakal adalah orang yang memetik faedah dari ayat-ayat Al-Qur’an. Al-Qur’an sebagai pengingat untuk kembali kepada Allah ketika dirinya menyimpang. (Prof.Dr. Wahbah Az-Zuhaili, Tafsir Al-Munir).
Pada sejatinya pesan-pesan Al-Qur’an akan menakar derajat manusia muslim. Sebagai kebutuhan ketepatan hati untuk mengamalkan adab ayat-ayat Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Rasulullah Saw bersabda:
عَن عُمَرَ بنِ الخَطٌاَبِ رَضَي اللٌهُ عَنهُ قَالَ: قَالَ رَسُولٌ اللٌهُ عَلَيهِ وَسَلٌمَ اِنَ اللٌهَ يَرفَعُ بِهذَ االكتَاِبِ اَقَوامًا وَيَضَعُ بِه اخَرِينَ (رواه مسلم)
Artinya: “Dari Umar RA berkata bahwa Rasulullah: “Allah Ta’ala mengangakat derajat berapa kaum melalui kitab ini (Al-Qur’an). Dan Dia merendahkan beberapa kaum lainnya melalui kitab ini pula.” (HR Muslim)”


























Kanal Tafsir Berkemajuan
Sebuah media Islam yang mempromosikan tafsir yang progresif dan kontekstual. Hadir sebagai respon atas maraknya tafsir-tafsir keagamaan yang kaku dan konservatif.