Kata dunia dalam bahasa Indonesia terambil dari kata dunyā dalam bahasa Arab. Secara etimologis, kata dunyā (jamak: dunāt) terbentuk dari akar kata danā atau danawa. Dalam Al-Qur’an, kata Ad – dunyā disebutkan sebagai antonim al-akhirat. Dunia adalah sesuatu yang kecil (‘ashghar), jelek atau hina (‘ardzal), awal (al-awwal) dan dekat (al-aqrab). Dan sebaliknya, akhirat adalah sesuatu yang besar (akbar), indah (al-khair), akhir (al-akhir) dan jauh (al-aqsha).
Penyebutan Istilah Dunia dalam Al-Qur’an
Dalam Al – Qur’an, makna kata Ad – Dunyā ini sangat variatif. Kata Ad – dunyā disebutkan sebanyak 115 kali di dalam 111 ayat dan 40 surat. Atau sekitar 1,7 persen dari total ayat-ayat Al-Qur’an. Dari 111 ayat tersebut, 62 ayat termasuk ayat Makkiyah dan 49 ayat Madaniyyah. Salah satunya yaitu pada Q.S Al – Baqarah ayat 212 :
زُيِّنَ لِلَّذِيْنَ كَفَرُوا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا وَيَسْخَرُوْنَ مِنَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا ۘ وَالَّذِيْنَ اتَّقَوْا فَوْقَهُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ ۗ وَاللّٰهُ يَرْزُقُ مَنْ يَّشَاۤءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ
Artinya : Kehidupan dunia dijadikan terasa indah dalam pandangan orang-orang yang kafir, dan mereka menghina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu berada di atas mereka pada hari Kiamat. Dan Allah memberi rezeki kepada orang yang Dia kehendaki tanpa perhitungan.
Lebih dari ayat diatas, makna kata Ad – dunyā disebutkan dengan berbagai pengertian dalam Al – Qur’an, yaitu :
Pertama, Ad – dunyā berarti alam semesta (bumi) dan segala isinya. Sebagaimana juga langit dunia atau langit yang paling dekat dengan bumi.
Kedua, Ad – dunyā berarti kehidupan dunia saat ini atau al – hayāt al – ardhiyah (kehidupan di bumi). Yakni dari awal manusia di lahirkan dari rahim ibu, sampai manusia itu mati. Kehidupan dunia ini sangat terbatas oleh waktu. Setelah manusia itu wafat, maka selesai kehidupannya di dunia. Dan akan memasuki kehidupan yang kekal yaitu di akhirat.
Ketiga, Ad – dunyā berarti harta benda, kekayaan, pangkat, jabatan, hal -hal yang bersifat material di kehidupan dunia. Dalam konteks ini, Al – Quran menyebut material kehidupan tersebut sebagai zīnat al – hayāt ad – dunyā atau perhiasan dunia.
Keempat, Ad – dunyā dimaknai sebagai nilai atau perilaku kehidupan dunia yang rendah, tidak bermoral, murahan, dan berorientasi jangka pendek. Sebagaimana kita tahu berbagai cerita seperti Fir’aun yang kaya raya tetapi berbuat wenang – wenang dan sombong, juga berbagai kisah lainnya yang menunjukkan sikap tidak bermoral.
Derivasi Makna Kata Ad – dunyā
Al – Qur’an dalam membahas tentang dunia, sering di kaitkan dengan lima kata yaitu : mata’, la’ib, lahw, zīnah, dan gharar. Lima kata tersebut menjelaskan makna lebih luas yang berhubungan dengan dunia.
- Matā’, berasal dari kata mata’a yang artinya sesuatu yang dengannya dapat diperoleh suatu manfaat atau kesenangan dan manfaat tersebut akan cepat hilang sebab tempo kelezatan sesuatu tadi yang relatif singkat.
- La’ib, secara etimologi berasal dari kata la’iba yang artinya bermain-main, suatu pekerjaan untuk menikmati kelezatan dan kesenangan, atau suatu perkara yang tidak bermanfaat. Lawan kata dari jadda yang artinya bersungguh-sungguh.
- Lahw, Quraish Shihab berkata, lahw adalah kegiatan yang menyenangkan hati tetapi tidak penting, sehingga melengahkan pelakunya dari hal-hal yang lebih penting.
- Zīnah, dalam Al – Qur’an kata zīnah ini bermakna perhiasan kehidupan keduniaan yang bersifat material.
- Gharar, kata ini berasal dari kata garra/garara artinya menipu, memperdaya, membujuk, membahayakan, dan mencari kelengahan.
Dari penjelasan di atas, kita semua tahu bahwa dunia adalah sesuatu yang rendah, semu, tipuan, terbatas waktu, dan hanya fatamorgana saja. Maka tidak pantaslah hal menjadi sesuatu yang penting bagi manusia. Sehingga seharusnya, akhirat sebagai antonim dari ad dunyā, yaitu yang bersifat kekal. Maka sesungguhnya, orientasi kehidupan manusia di dunia adalah akhirat. Bukan kehidupan dunia itu sendiri. Wallahua’lam.




























Leave a Reply