Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Rahasia Makna Tasbih Dalam al-Qur’an

tasbih
Sumber: https://www.dreamstime.com/

Pengertian Tasbih

Kata tasbih merupakan bentuk jadian dari kata sabbaha yang bentuk asalnya terdiri atas huruf sin, ba’, dan ha’ yang memiliki beberapa makna asal. Di antaranya: al-bu’d (jauh)/ ab’ada fi al-sair (menjauh dalam hal perjalanan), al-jari wa al-marr al-sari (berlari dan berlalu dengan cepat), dan al-‘aum (berjalan di air dengan terapung/berenan).

Dalam Al-Mufradat fi Gharibil Qur’an karya Ar-Raghib Al-Ashfahani, kata tasbih artinya adalah mensucikan Allah swt. (dari sesuatu yang tidak layak untuk-nya). Lalu kata tersebut dijadikan untuk mengartikan perbuatan baik. Kata ini juga dijadikan bentuk peribadatan secara umum. Baik berupa ucapan, perbuatan atau bahkan hanya berupa niat sekalipun.

Tasbih dalam al-Qur’an

Kata tasbih dengan segala derivasinya dalam al-Qur’an disebutkan sebanyak 92 kali dalam 87 ayat dari 49 surat dalam Al-Qur’an. Dalam bentuk fi’il al-madhi 4 kali, fi’il al-mudari’ 22 kali. Kemudian fi’il al-amr 18 kali, masdar 45 kali, ism al-fa’il 3 kali. Dari semua derivasi yang ada, penyebutannya dalam al-Qur’an itu sangat beragam. Terkadang disebutkan secara khusus dan terkadang juga disebutkan berbarengan dengan kata-kata, seperti tahmid, tahlil, istigfar dan lain-lain.

Keragaman bentuk penyebutan ini memiliki makna dan tujuan khusus dalam konteks penyucian Allah swt. Hal ini harus diketahui agar dapat memahami rahasia makna-makna lain dari kata ini dalam al-Qur’an. berikut sigat tasbih dalam al-Qur’an:

Tasbih dengan sigat tunggal

Bentuk ini sangatlah banyak ditemukan dalam al-Qur’an, salah satunya dapat ditemukan pada QS. Al-Baqarah ayat 116-117. Kedua ayat tersebut merupakan bentuk bantahan terhadap orang-orang Nasrani yang mengatakan bahwa al-Masih Isa bin Maryam sebagai putera Allah. Juga untuk orang-orang Yahudi yang mengatakan ‘Uzair sebagai putera Allah. Serta orang-orang musyrik yang menjadikan malaikat sebagai putera-puteri Allah dan mereka yang juga mengatakan demikian. Allah membantahnya dengan lima pernyataan. Salah satunya dengan subhaana (Maha Suci Dia) dari segala kekurangan, keserupaan dan kebutuhan walau sedikitpun.

Baca Juga  Tips Memaksimalkan Waktu Pagi ala Islam dan Barat

Dari penjelasan tersebut tampak bahwa tasbih yang disebutkan secara tersendiri lebih banyak diungkapkan dalam hal penyucian Allah. Kemudian lainnya diungkap dalam hal penyucian-Nya secara umum yang didalamnya mengandung makna pengagungan dan pujian terhadap-Nya.

Tasbih dengan sigat Qaran (dirangkai)

Selain disebutkan secara tersendiri, kata ini juga terkadang dirangkai dengan kata-kata lain. Baik diikuti maupun mengikuti kata tersebut. Berikut kata-kata dan bentuk pengungkapan nya:

Tahmid

Perangkaian tasbih dan tahmid salah satunya dapat kita perhatikan QS. As-Saffat ayat180-182. Ibn Kasir dalam tafsirnya mengatakan bahwa ketika tasbih mencakup makna penyucian dan pembebasan Allah swt. dari segala kekurangan. Maka hal ini secara otomatis memastikan penetapan sifat-sifat kesempurnaan bagi-Nya. Begitupun tahmid yang menunjukkan makna penetapan sifat-sifat kesempurnaan bagi Allah swt., maka hal ini mengandung makna penyucian-Nya dari segala kekurangan.

Kesimpulannya, tasbih yang dirangkai tahmid merupakan bentuk pujian terhadap Allah swt. yang paling dalam dan sempurna. Karena tasbih menunjukkan kepada penyucian-Nya dari segala yang tidak layak bagi-Nya. Sedangkan tahmid menunjukkan kepada penetapan segala yang layak bagi-Nya. Karenanya ketika seorang bertasbih dan dirangkai dengan tahmid, maka dia telah menggabungkan keduanya.

Istigfar

Perangkaian tasbih dan istigfar salah satunya dapat dijumpai pada QS. An-Nasr ayat 3. Bila dilihat dari segi makna kebahasaan, maka dirangkainya dengan istigfar memiliki relevansi yang nyata.  Di mana tasbih di dalamnya mengandung makna peniadaan kekurangan dan kecacatan Allah swt. dan istigfar bermakna permohonan agar Allah menutup segala dosa dan kecacatan dari seorang hamba. Juga permohonan pemeliharaan-Nya dari keburukan yang disebutkan oleh dosa tersebut.

Ketika seseorang merangkaikan keduanya, maka hal itu mengandung makna pengakuan akan kesempurnaan Allah swt. dan penyucian-Nya dari segala kecacatan, disertai dengan pengakuan akan kelemahan. Serta kekurangan dan keterbatasan dirinya serta kebutuhan dan ketegantungannya kepada Tuhannya dan pengharapan akan ampunan-Nya.

Baca Juga  Hukum LOA: Manusia Berkarya dalam Al-Qur'an

Tahlil

Pada QS. At-Taubah ayat 31, dapat kita temukan rangkaian tasbih dengan tahlil. Ayat ini berbicara tentang perilaku ahl al-kitab dari orang-orang Yahudi dan Nasrani yang menjadikan para pemuka agama mereka sebagai Tuhan-uhan mereka dan juga mempertuhankan Isa putera Maryam. Atas perilaku mereka Allah menyatakan kesesatan meraka dengan tahlil (peniadaan tuhan selain Dia) dan tasbih (penyucian diri-Nya dari segala yang mereka persekutukan).

Seperti halnya rangkaian tasbih dengan kata lain, rangkaian tasbih dan tahlil memiliki hubungan yang erat. Secara tekstual tahlil menunjukkan ketauhidan tetapi maknanya mengandung aspek penyucian. Karena ketauhidan sejati menuntut adanya penafian akan segala kekurangan dan adanya penyerupaan bagi-Nya. Begitu juga sebaliknya pada kata tasbih.

Nama-nama dan Sifat Allah

Al-Qur’an menyebuutkan perangkaian tasbih dan nama-nama dan sifat Allah salah satunya padaQS. Az-Zumar ayat 4. Tasbih pada ayat diatas dirangkai dengan tiga nama-Nya dari ­al-Asma’ al-Husna untuk menegaskan ketidakmungkinan-Nya untuk mengambil anak. Pertama, Dia al-Wahid (Esa dalam zat-Nya, nama dan sifat-Nya, serta perbutan-Nya.) maka jika Dia memiliki anak pastilah ada yang meneyerupai-Nya. Kedua, Dialah al-Qahhar (mengalahkan sesuatu dengan segala kekuasaan-Nya) sehingga mereka semua tunduk di hadapan-Nya. Sifat ini juga menjadi bantahan atas mereka yang menjadikan sembahan selain Allah sebagai perantara mendekatkan diri kepada Allah swt.

Dirangkainya tasbih dengan nama dan sifat-sifat Allah umumnya masih terkait dengan bantahan akan keyakinan yang salah dari orang-orang musyrik dan penetapan akan keesaan Allah swt. Adapun makna perangkainnya adalah sebagai penegasan atas bantahan dan penetapan tersebut. Dan penetapan tersebut dengan menyebutkan nama dan sifat Allah yang sesuai dengan konteksnya masing-masing.

Doa

Allah menjukkan rangkaian tasbih dengan doa salah satunya pada QS. Ali ‘Imran ayat 191. Ayat ini menjelaskan tentang sifat orang-orang mukmin yang Allah berikan kepada mereka akal yang sehat dan iman yang benar. Dengan begitu mereka senantiasa mengingat Allah dalam segala keadaan dan mengkhususkan tasbih dengan sebagai penyucian sekaligus pengagungan terhadap-Nya. Serta hanya kepada-Nya mereka sampaikan doa dengan memohon apa yang bermanfaat bagi mereka dan memohon pemeliharaan atas apa yang bisa membahayakan. Karena itu pada ayat ini, tasbih dirangkai dengan pemeliharaan diri dari siksa neraka.

Baca Juga  Kata Ilmu Dan Derivasinya Dalam Al-Qur’an

Dirangkainya tasbih dengan doa setidaknya tergambar pada hal-hal berikut: pertama, bahwa tasbih adalah penyucian Allah dari segalasesuatu yang tidak sesuai dengan kesempurnaan dan keagungan-Nya. Sedangkan doa menunjukkan kepada kebutuhan seorang hamba terhadap-Nya, karena tidak ada daya dan kekuatan kecuali dari Allah swt. Kedua, menunjukkan kepada mendahulukan mengingat Allah dan memuji-Nya ketika seseorang berdoa kepada-Nya yang mana itu paling utama dan dicintai Allah dalam berdoa. Ketiga, menunjukkan kepada dua macam permohonan kepada Allah. Yaitu bermohon dengan cara memuji-Nya dan bermohon dengan memita langsung kepada-Nya.