Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Analisis Semiotika Q.S Al-Ahzab Ayat 59 Perspektif Michael Halliday

Terdapat beberapa teori tentang linguistik sebagai penyempurna teori-teori terdahulu. Salah satunya ialah teori tentang “Language as a social semiotics” yang memiliki arti bahasa sebagai semiotika sosial. Teori ini diciptakan oleh Michael Halliday, yang termuat dalam buku beliau yang berjudul “Languange social semiotic”. Hal unik yang terdapat dalam teori yang dikemukakan Michael Halliday ialah bahasa bukan hanya dipahami sebagai kajian tentang tanda. Akan tetapi, bahasa dipahami sebagai kajian makna secara umum yang dilatarbelakangi oleh konteks sosial tertentu.

Sedangkan al-Qur’an adalah kitab suci yang memiliki kemukjizatan penuh, baik dari isi ataupun redaksi bahasanya. Kemukjizatan al-Qur’an dalam segi bahasa, tidak hanya menginspirasi umat Islam untuk mengungkapkan keindahan dan kedalaman makna dalam al-Qur’an. Akan tetapi juga menarik seseorang untuk meneliti redaksi, pilihan kata (diksi), implikasi semantik, kesan dan pesan yang ingin disampaikan oleh al-Qur’an sebagai kalamullah.

Kemukjizatan dalam segi bahasa tersebut, mengharuskan al-Qur’an dipahami dengan menggunakan metode dan pendekatan-pendekatan tertentu. Sehingga makna-makna yang ingin disampaikan al-Qur’an, dapat dipahami secara tepat. Untuk itu dalam makalah ini, penulis ingin mengungkapkan pemikiran semiotika tokoh Alexander Halliday dan mengaplikasian teori yang dikemukakan beliau dalam ayat-ayat al-Qur’an.

Analisis Semiotika Perspektif Michael Halliday

Dalam makalah ini, penulis mengambil contoh untuk pengaplikasian teori language as a social semiotics pada Qs. ahzab ayat 59. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لأزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

Artinya: Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang.

Untuk memahami ayat di atas, Michael Halliday memiliki beberapa kajian yang harus diaplikasikan dalam sebuah teks. Di antaranya sebagai berikut:

  1. Teks
Baca Juga  Relevansi Semiotika dengan Model Tafsir Al-Qur’an di Medsos

Teks menurut halliday suatu cara pengungkapan makna melalui bahasa dlisan ataupun tulis. Makna disini, bukan hanya sebuah kata, akan tetapi juga mencakup sistem sosial. Seperti, adat istiadat, interaksi antar individu dan lainnya sebagainya. Oleh karena itu, untuk mengetahui makna sebuah ayat maka harus mengetahui sistem sosial yang tergambar dalam ayat tersebut. Untuk mengetahui sistem sosial yang terkandung dalam sebuah ayat, bisa melihat dari makna konsep, asbab nuzul dan beberapa penafsiran dari ayat tersebut. Misalnya, kalimat يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ kalinat ini pada tafsir Ibn katsir diartikan sebagai jilbab. Dalam tafsir ini, terdapat beberapa pendapat diantaranya: Pertama, menjelaskan bahwa jilbab adalah sebuah ar-rida’ (kain penutup). Kedua, jilbab disamakan dengan izar atau kain saat ini. Ketiga, jilbab, merupakan pakaian yang menutupi seluruh tubuh. Keempat, jilbab ialah pakaian yang menutupi kepala dan meninggalkan dan meninggalkan satu mata yang terbuka.

Jadi dalam ayat ini kalimat يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ diartikan sebagai kain penutup yang harus dipakai oleh kaum wanita, khususnya, istri-istri dan anak-anak perempuan beliau karena kemuliaan mereka. Supaya mereka berbeda dengan kaum wanita jahiliyah dan para budak.

2. Konteks situasi

Konteks situasi pada Qs. Al-Ahzab ayat 59 bisa dikaitkan dengan aktivitas dan kebudayaan pada zaman Rasulullah. Sejak zaman Jahiliyyah, perempuan sudah mengenal jilbab dengan sebutan khimar. Akan tetapi khimar yang mereka gunakan hanya menutup sebagian kepalanya saja lalu melemparkan pada sisi bahu kanan dan kirinya. Sedangkan leher dan dadanya tetap terlihat.

Kemudian Islam datang membawa budaya baru. Islam tidak semena-mena membuang budaya berpakaian mereka secara keseluruhan. Akan tetapi Islam memperbaiki budaya berpakaian mereka, yang awalnya hanya menutup sebagian dari kepala saja dan menyisakan bagian leher dan dada untuk terlihat, menjadi menjadi menutup seluruh kepala dan dada. Perintah untuk mengulurkan tutup kepala sampai menutup dada mereka merupakan suatu reaksi terhadap cara-cara berpakaian orang di wilayah tersebut, yaitu Arabia-Afrika, yang tampaknya telah memakai kain yang mengekspos tubuh mereka.

Baca Juga  Hikmah Dakwah dalam Perbedaan Ayat-ayat Makkiyah dan Madaniyah

Jibab juga sebagai alat pembeda sosial dan simbol kemewahan. Jilbab hanya boleh digunakan oleh perempuan merdeka yang memiliki status sosial yang tinggi. Oleh karena itu apabila ada laki-laki pada zaman itu memakai jilbab, maka laki-laki tersebut tidak akan berani menggoda. Sedangkan apabila bertemu dengan perempuan yang tidak berjilbab, maka laki-laki tersebut berani menggoda karena ia berfikir bahwa perempuan tersebut ialah seorang budak. Jadi, tujuan perempuan menggunakan jilbab pada masa Rasulullah ialah sebagai pembeda dan menutup aurat, di antaranya ialah rambut dan dada. Sedangkan tujuan jangka Panjang ialah jilbab sebagai penutup aurat para perempuan Muslimah dan sebagai alat untuk menjaga diri dari godaan laki-laki.

3. Register

Register bisa diartikan sebagai keberagaman teks. Hal ini bisa dilihat dari hadits-hadits yang sesuai dengan tema ayat yang dibahas. Dalam hal ini ialah ayat tentang jilbab, adapun hadits yang membahas tentang jilbab. Diantaranya:

Hadits Asma binti Abu Bakar

أنها دخلت على رسول الله ﷺ وعليها ثياب رقاق فأعرض عنها. وقال: يا أسماء إن المرأة إذا بلغت المحيض لم تصلح أن يرى منها إلا هذا وهذا. وأشار إلى وجهه و كفيه

Bahwasanya ia pernah menemui rasulullah s.a.w dengan mengenakan pakaian yang tipis, kemudian beliau berpaling darinya dan berkata: Wahai Asma, sesungguhnya seorang perempuan jika telah baligh tidak boleh nampak darinya ini dan ini,seraya menunjuk muka dan telapak tangannya. (HR. Muslim)

Lanjutan Tahapan Analisis Semiotikanya Halliday

4. Kode

Kode dalam ayat diatas ialah kalimat يُدْنِينَ عَلَيْهِنَ ّyang memiliki arti “mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh Mereka”. Kode ini, diaktualisasikan dalam bahasa melalui register, dalam hal ini ialah keberagaman para mufassir menafsirkan suatu ayat.

Baca Juga  Telaah Ayat Sungai dengan Pendekatan Semiotika Ferdinand de Sausure

5. Sistem Lingual

Pada sistem lingual, terjadi penekanan pada aspek semantik. Hal ini memberi pengertian, bahwa kajian semiotik sosial lebih berupa fungsional suatu bahasa. Apabila dikaitkan dengan ayat diatas, sistem lingual bisa dilihat dari aspek kelebihan dan kekurangan dari jilbab yang dijelaskan pada QS. Al-Ahzab ayat 59. Aspek semantik ada tiga yakni, ideasional, interpersonal dan tekstual.

Ideasional, bahasa digunakan untuk membawa gambaran realitas yang ada di sekitar manusia. Dalam hal ini, Jilbab banyak dikenal sebagai pembeda agama islam dari agama lain. Apabila seorang muslim menggunakan jilbab di Kawasan mayoritas non muslim, maka mereka akan merasa lebih dihargai. Terdapat juga suatu penelitian bahwa jilbab dapat melindungi seseorang dari terik matahari dan hujan. Selain itu, mengenakan jilbab, membuat seseorang terhindar atau terlindungi dari perbuatan zina.

Interpersonal, bahasa digunakan untuk seseorang mendapat proposisi-proposisi tertentu, dalam hal ini bisa dilihat dari berbagai penafsiran mengenai ayat tersebut. Penulis menggunakan dua perspektif penafsiran yakni Ibn Katsir dan Quraish shihab. Dalam tafsir Ibnu katsir dijelaskan bahwa diwajibkan bagi perempuan muslim untuk memakai jilbab, sebagai pembeda status dan untuk menghindari godaan-godaan dari laki-laki pada zaman itu.

6. Struktur Sosial

Jilbab bukanlah tradisi pakaian yang pure berasal dari ajaran agama Islam. Peredaban manusia sebelum Islam telah mengenal budaya memakai hijab. Penggunaan hijab memiliki tujuan yang berbeda-beda. Islam, dalam menggunakan jilbab sebagai tanda bagi kaum wanita merdeka dan sebagai alat untuk menutupi perhiasan atau anggoata tubuh wanita.

Bukan hanya orang Islam saja yang mengenal tradisi berjilbab.  Akan tetapi, orang yahudi juga sering menggunakan jilbab, apabila mereka pergi keluar rumah. Perbedaannya, hanya terletak pada batas penguluran hijab. Bagi orang Yahudi, jilbab yang menutupi kepala perempuan bukan hanya simbolsopan santun. Akan tetapi juga sebagai simbol penghormatan dan kemewahan.

Editor: An-Najmi