Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Ontological Disclosure dan Subversi Fenomenologis: Pembacaan Radikal Heideggerian Massimo Campanini terhadap Qur’ān sebagai Peristiwa

Campanini
Gambar: Resetdoc.org

Massimo Campanini dalam Philosophical Perspectives on Modern Qur’anic Exegesis: Key Paradigms and Concepts(Equinox, 2018) menghadirkan sebuah karya filsafat yang ambisius, provokatif, dan sarat ketegangan intelektual.[1] Buku ini berupaya meletakkan prolegomena bagi “philosophical Qur’anology” — sebuah ilmu Qur’an filosofis baru yang tidak hanya menafsir teks suci, melainkan menjadikannya sebagai prinsip inspiratif bagi filsafat universal.[2]

Dengan mengandalkan fenomenologi Heidegger, khususnya konsep Ereignis[3] (peristiwa) Dan a-letheia (pembukaan kebenaran), Campanini membingkai Qur’ān sebagai peristiwa ontologis yang mendobrak sejarah, membuka tabir being (Tuhan), sekaligus berfungsi sebagai furqān yang mendiskriminasikan antara kebenaran dan kesesatan.[4]

Pars Destruens: Kritik Tajam Campanini terhadap Hermeneutika Modern

Campanini melancarkan kritik destruktif yang tajam dan sistematis pada bagian pertama buku ini. Ia membedah berbagai paradigma hermeneutika Qur’an kontemporer, mulai dari literalisme tradisional hingga tafsir ilmiah (tafsīr ‘ilmī) dan pendekatan historisisme yang berlebihan. Menurutnya, pendekatan-pendekatan tersebut sering gagal menangkap kedalaman simbolik dan ontologis teks suci, karena terjebak dalam dikotomi kaku antara tafsīr dan ta’wīl. Kritik ini menggigit karena menunjukkan bagaimana banyak pembacaan modern hanya berputar di antara relativisme subjektif dan reduksionisme positivistik yang mengabaikan dimensi being.

Lebih jauh, Campanini menyoroti keraguan Muslim tradisional terhadap historisasi penuh Qur’ān yang ditakutkan akan merusak kesucian dan keabadian wahyu. Ia membandingkan sikap ini dengan kritik historis yang telah mapan dalam studi Biblikal, sehingga secara halus mempertanyakan mengapa hermeneutika Islam masih tertinggal.[5]

Baca Juga  Menyikapi Fenomena Flexing dari Perspektif Hadis

Bagian ini menjadi fondasi kuat bagi argumen selanjutnya, sekaligus menegaskan perlunya pendekatan filosofis yang lebih radikal untuk mengatasi kebuntuan hermeneutika modern.

Qur’ān sebagai Peristiwa: Revolusi Heideggerian yang Mengguncang

Kontribusi paling menegangkan buku ini terletak pada konsepsi Qur’ān sebagai peristiwa (ereignis). Campanini, terinspirasi dari Kenneth Cragg[6] dan Wilfred Cantwell Smith[7], menggambarkan wahyu sebagai ruptur historis total yang “eventful.” Qur’ān bukan sekadar teks, melainkan pembukaan (disclosure) yang memutus rantai jāhiliyyah sekaligus menegaskan posisinya di atas tradisi Yahudi dan Kristen. Namun dengan klaim keuniversalan yang kuat. Ia menyandingkan konsep ini dengan a-letheia Heidegger, menjadikan Qur’ān sebagai pembukaan kebenaran (haqq) di dalam “rumah bahasa” manusia.

Tesis ini memukau sekaligus berbahaya. Campanini berhasil menghubungkan konsep kashf sufistik dengan disclosure fenomenologis, menawarkan pembacaan ontologis yang canggih. Namun, langkah ini memunculkan ketegangan mendalam: apakah meminjam ontologi Heidegger yang sekuler berisiko mendomestikasi klaim teosentris Qur’ān?

Dapatkah wahyu ilahi direduksi menjadi proses pembukaan Being tanpa kehilangan transendensinya (tanzīh)? Ketegangan antara imanensi fenomenologis dan transendensi ilahi sengaja dibiarkan menggantung, menjadikan bab ini pusat kontroversi buku.

Dari Teks Tertutup ke Dialog Terbuka: Apresiasi Campanini atas Warisan Abū Zayd

Campanini memberikan analisis yang cermat dan simpatik terhadap pemikiran Nasr Hamid Abu Zayd.[8] Ia memuji evolusi Abū Zayd dari memandang Qur’ān sebagai teks (nass) yang tertutup dan membatu menjadi kumpulan dialog (khitāb) yang terbuka dan dinamis.[9] Pendekatan ini memungkinkan Qur’ān tetap berakar dalam konteks historis, namun tetap hidup dan responsif terhadap tantangan zaman baru. Campanini melihat di sini potensi pembebasan hermeneutis yang signifikan.

Meski demikian, Campanini tidak sepenuhnya mengikuti implikasi relativisme radikal yang mungkin muncul dari gagasan Abū Zayd. Ia tetap menjaga keseimbangan halus antara keterbukaan reformis dan kesetiaan ontologis terhadap dimensi ilahi Qur’ān. Bagian ini menjadi jembatan penting antara kritik destruktif dan konstruksi fenomenologis, menunjukkan bahwa Qur’ān dapat dibaca secara historis tanpa kehilangan kekuatan sakralnya.

Baca Juga  Relasi Komunikatif Dalam Al Qur’an: Tafsir Semantik atas Kata Rabbani

Pada bagian konstruktif (pars construens), Campanini mengusulkan fenomenologi sebagai jalan utama menuju qur’anology filosofis baru. Dengan mengambil inspirasi dari al-Ghazālī[10] dan Hasan Hanafī[11]ia mengeksplorasi bagaimana Qur’ān membuka Tuhan sebagai Being tertinggi yang menuntut partisipasi hermeneutis aktif dari pembaca.

Visi intelektualnya sangat memikat karena berusaha menjadikan Qur’ān sebagai sumber inspirasi bagi filsafat universal, melampaui batas pemikiran Islam klasik. Namun, tawaran ini juga kontroversial.

Pendekatan fenomenologis yang diajukan berpotensi mendesakralisasi teks suci dengan mengubahnya menjadi medan ontologis yang terbuka bagi interpretasi manusia. Campanini berhasil menunjukkan janji pembebasan hermeneutis, tetapi juga meninggalkan bahaya bahwa Qur’ān dapat kehilangan otoritas ilahinya di bawah lensa filsafat Barat.

Kekuatan dan Ketegangan Kritis

Kekuatan utama Campanini terletak pada kedalaman filsafat, keluasan referensi, dan keberanian interdisipliner yang jarang ditemui. Buku ini berhasil menantang literalisme tradisional sekaligus reduksionisme historis, sekaligus membuka ruang ontologis yang lebih dalam bagi pembaca.

Secara keseluruhan, Campanini menyajikan provokasi filosofis yang mendalam dan mengganggu. Bagi peneliti doktoral di bidang filsafat Islam, hermeneutika, fenomenologi, atau studi agama perbandingan, karya ini adalah bacaan wajib meski penuh ketegangan.

Buku ini berhasil menempatkan Qur’ān kembali sebagai peristiwa yang hidup, dinamis, dan terus membuka diri sepanjang sejarah, sekaligus meninggalkan pertanyaan krusial: dalam permainan antara bahasa, Being, dan wahyu, siapakah yang sebenarnya menafsir siapa?


[1] Massimo. Campanini, Philosophical-Perspectives-on-Modern-Qurnic-Exegesis-Key-Paradigms-and-Concepts-1nbsped_compress.Pdf (Sheffield: Equinox Publishing, 2018).

[2] Massimo. Campanini, Philosophical-Perspectives-on-Modern-Qurnic-Exegesis-Key-Paradigms-and-Concepts-1nbsped_compress.Pdf (Sheffield: Equinox Publishing, 2018) hlm. 1-15

[3] Martin Heidegger, On Time and Being, ed. Joan Stambaug (New York: Harper & Row., 1969).

[4] Martin Heidegger, Being and Time, ed. John Macquarrie and Edward Robinson (New York: Harper & Row., 1962).

Baca Juga  Al-Quran Kitab Kehadiran: Review Buku Zuhairi Misrawi

[5] Hans Frei, The Eclipse of Bibijical Narrative (New Haven: Yale University Press, 1974).

[6] Kenneth Cragg, The Event of the Qur’an: Islam in Its Scripture (London: George Allen & Unwin., 1971).

[7] Wilfred Cantwell Smith, Belief and History (Charlottesville: University Press of Virginia., 1977).

[8] Nasr Hamid. Abu Zayd, Mafhūm Al-Naṣṣ: Dirāsah Fī ‘Ulūm Al-Qur’Ān (Kairo: al-Hay’ah al-Miṣriyyah al-‘Āmmah lil-Kitāb, 1990).

[9] Nasr Hāmid Abū Zayd, Rethinking the Qur’an: Towards a Humanistic Hermeneutics. (Utrecht: Humanistics University Press., 2004).

[10] Al-Ghazālī, The Incoherence of the Philosophers., ed. Michael E. Marmura. (Provo: Brigham Young University Press., 2000).

[11] Hasan Hanafī, Les Méthodes de l’exégèse: Essai Sur La Science Des Fondements de La Compréhension (Kairo: Dar al-Fikr, 1965).

Mahasiswa Magister Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta