Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Nalar Epistemik Tafsir Indonesia: Dialektika Teks dan Realitas

nalar
Sumber: http://www.pelajarnuponorogo.com/

Potret perkembangan tafsir Al-Qur’an di Indonesia secara embriotik muncul bersamaan dengan masuknya ajaran Islam ke bumi Nusantara. Pembelajaran Al-Qur’an pun disebut-sebut menjadi brand atas penyebaran Islam di Nusantara. Pada masa itu, karya tafsir belum dibukukan layaknya karya tafsir yang berkembang pada masa sekarang. Kondisi masyarakat yang masih buta huruf dan awam akan materi keislaman menjadi faktor utama membuminya tradisi oral. Pengkajian tafsir juga tidak disajikan secara khusus, melainkan secara integral dengan bidang keilmuan lainnya, seperti fiqih, akidah, akhlak.

Kaca mata sejarah mencatat bahwa tafsir Al-Qur’an berjalan seiring dan senafas dengan dinamika pemikiran umat Islam serta problematika sosial-budaya yang mengitarinya. Di Indonesia, dengan tingkat intelektual yang berkembang, karya tafsir pun mengalami transmisi dari tadisi oral ke tradisi tulis. Pola perkembangan tafsir Indonesia dalam ragam ruang dialektis sosial-budaya. Serta paradigma penulis serta audiens yang dituju juga berpengaruh terhadap dimensi lokalitas (konteks ke-Indonesia-an) karya tafsir.

Konteks lokalitas dalam dunia tafsir sangat beragam, salah satunya adalah aspek bahasa dan aksara yang digunakan penulis. Hal ini tidak lepas dari paradigma yang dibangun penulis dan audiens yang dituju. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa produksi tafsir di Indonesia dengan beragam bahasa dan aksara. Selain bertujuan untuk membumikan nilai-nilai yang dikandung Al-Qur’an juga sebagai representasi dari pengaruh ruang sosial-budaya saat karya tafsir ditulis.

Wajah Episteme Tafsir Indonesia

Konstruksi nalar karya tafsir berkelindan erat dengan episteme dan nalar yang ada di dalam diri penafsir. Representasi dari asumsi ini dapat dilihat dalam penelitian Islah Gusmian yang bertajuk “Khazanah Tafsir Indonesia: Dari Hermeneutika Hingga Ideologi”. Gusmian membuka cakrawala baru dengan menghadirkan ornamen-ornamen yang epistemik dan tidak lagi hanya berfokus pada tataran profil kitab dan penulis. Sebut Amin Abdullah sebagai kajian vertikal-historis. Ia merangkak lebih jauh pada kajian sosio-historis dengan mengungkap lapisan yang tidak muncul secara eksplisit. Yaitu keterpengaruhan-keterpengaruhan yang terjadi, baik berupa metodologi maupun nalar episteme sosial.

Baca Juga  Ramadan Ghana: 3 Implementasi Hadis Nabi dalam Lagu Maher Zain

Dalam kerangka ini, perlu kiranya untuk memulai dari pandangan bahwa dalam praktik penafsiran Al-Qur’an, dialektika teks dan realitas‒‒dengan struktur pembentuknya: sosial, politik, budaya, dan ekonomi‒‒akan membentuk khazanah tafsir yang beragam. Dalam istilah kontemporer, praktik ini disebut dengan hermenutika. Di mana kajian/penafsiran terhadap teks tidak lagi terfokus pada variabel linguistik dan riwayah, tetapi juga dari sisi penulis dan audiens (unsur triadik).

Langkah Gusmian yang merepresentasikan kajian kritis sangat tepat dilakukan dalam menguak aspek “terdalam” dari khazanah tafsir Indonesia. Sejak kemunculan tafsir pertama yang ditemukan di wilayah Aceh, yaitu tafsir surah al-Kahfi dengan author anonim‒‒meski anonim, tafsir ini diperkirakan uncul pada masa Sultan Iskandar Muda‒‒telah menunjukkan adanya dialektika antara teks Alquran dan realitas penulis, serta anudiens. Penulisan dengan aksara pegon berbahasa Melayu adalah satu refleksi dari adanya dialektika sosiologis maupun epistemologis.

Perkembangan Yang Berkelanjutan

Pemetaan yang dilakukan Gusmian menunjukkan bahwa dinamika metodologi dalam penulisan tafsir terus mengalami perkembangan. Bahkan, ideologi dan kepentingan-kepentingan dalam penulisan tafsir terlihat jelas dengan melihat nalar episteme yang terbangun di dalamnya. Dalam ruang yang dihegemoni otoritas penguasa misalnya, tafsir yang disebut-sebut sebagai produk anak zaman turut memberi kontribusi dalam bentuk perlawanan yang direpresentasikan dalam tema maupun arah gerak tafsir.

Di Indonesia, pada masa Orde Baru yang berada di bawah kendali Presiden Soeharto, praktik otoriter dilanggengkan dengan membangun politik kekerasan untuk mendapatkan kepatuhan rakyat. Untuk merespon ruang ini, karya tafsir muncul sebagai gerakan kritis untuk melawan rezim Orde Baru. Hal yang sama dilakukan oleh Khaled M. Aboe Fadl yang melakukan perlawanan terhadap adanya fatwa-fatwa sewenang-wenang dari CRLO. Melalui hermeneutika negoisatifnya, ia melibatkan negoisasi berkelanjutan, dengan mendialogkan trikotomi antara text, author dan reader.

Representasi Tafsir Ideologis

Di Indonesia, dalam periode 1990-2000 ditemukan dua tafsir yang erat kaitannya dengan ruang dialektik sosial-politik sebagai bentuk perlawanan, yaitu Dalam Cahaya al-Qur’an karya Syu’bah dan Memasuki makna Cinta karya Abdurrasyid Ridha.Abdurrasyid menulis tafsir dengan melakukan konsepsi cinta dalam Al-Qur’an yang kemudian mengarahkan gerak tafsirnya dalam konteks rezim yang menindas, meski ia tidak secara eksplisit menyebut Orde Baru, namun ia menulis tafsir pada masa itu.

Baca Juga  Mengenal Khazanah Tafsir Pertama di Nusantara

Dalam episteme demikian, ia mengusung topik cinta untuk simbol perlawanan terhadap rezim yang otoriter. Bahwa perlawanan terhadap rezim otoriter adalah bentuk cinta untuk menyadarkan mereka agar kembali kepada sifat-sifat ideal yang seharusnya dimiliki oleh penguasa. Di sini, dapat dilihat bagaimana dialektika text, author dan reader menjadi satu bangunan utuh dalam penulisan tafsir, meski arah geraknya adalah untuk kepentingan tertentu.

Penyunting: Ahmed Zaranggi