Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Memilih Menjadi Mahasiswa Tafsir Tiga Dimensi

Otentisitas
Sumber: istockphoto.com

Menjadi bagian mahasiswa Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir adalah menjatuhkan diri dalam kumpulan orang-orang haus akan keingintahuan. Perkembangan terkait dengan disiplin ilmu ini sangat luas, dan bertambah luas. Tidak hanya perkembangannya saja, ada berbagai macam cabang-cabang ilmu di dalamnya yang harus di kuasai, baik dalam pemahaman, penghayatan, dan pengamalan.

Akademisi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir

Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir adalah disiplin ilmu yang di gemari para cendikiawan muslim, Ilmu ini dapat di katakan sebagai asal muasal dari banyaknya cabang disiplin ilmu di berbagai belahan dunia, bahkan terbangunnya peradaban manusia secara besar-besaran bermula dari banyaknya cendikiawan muslim yang mentadaburi ilmu (Al-Qur’an) ini.

Membahas perihal keilmuan ini tidak akan pernah ada titik selesainya, tidak akan pernah tuntas, dan pasti akan selalu ada penemuan-penemuan baru baik dari segi makna kandungan ayat Al-Qur’an itu sendiri atau cabang-cabang keilmuan baru lainnya terkait bidang-bidang tertentu seperti penemuan obat untuk kesehatan, dll.

Para akademisi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir mempunyai tugas dan tanggung jawab yang sangat besar. Mereka adalah para penjaga dan pemelihara Al-Qur’an yang bertanggung jawab langsung kepada Tuhannya. Menjaganya tidak hanya di lihat dari hafalan yang dimiliki, mushaf yang senantiasa di baca dan Ilmu-ilmu lainnya, akan tetapi juga dengan akhlaknya karena sudah selayaknya para penjaga Al-Qur’an menjadikan Al-Qur’an adalah Akhlaknya.

Mahasiswa secara umum pada saat ini sangat memprihatinkan, hal ini dibuktikan oleh produktivitas, agresitivitas, dan kreatifitasnya dalam melakukan gebrakan perubahan semakin menipis. Mahasiswa saat ini terlena dengan modernisasi  kehidupan yang serba instan, membuat rasa malas yang tadinya perilaku tidak baik kini sudah menjadi sesuatu yang dianggap lazim.

Baca Juga  Kaidah-Kaidah Komunikasi Dalam Al-Quran

Begitu pula khususnya di prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, sangat ironis rasanya para calon-calon pewaris nabi, pemelihara Al-Qur’an yang seharusnya menjadi benteng kokoh, tergerus dengan kemajuan zaman. Prodi yang ditujuankan sebagai produsen ahlul Qur’an, tetapi di kotori oleh lemahnya keimanan, amburadulnya akhlak, sempitnya wawasan para mahasiswanya. Seakan-akan sikap yang demikian itu telah merendahkan derajat kemulian ilmu ini.

Ada statement mengatakan “Mahasiswa adalah agen perubahan dan menjadi mediasi setiap aspirasi rakyat” tetapi apakah betul adanya, atau sekedar ideologi yang sudah mati?. Lantas bagaimana dengan peran para mahasiswa Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir untuk umat?. Sedangkan kini banyak terlihat yang bersikap individualis serasa acuh tak acuh dengan kepentingan umat. Ada pula statement mengatakan “Menjadi mahasiswa adalah ia yang bicaranya sesuai dengan tindakannya”. Statement ini pula yang sepatutnya menjadi pertimbangan dalam berkehidupan para mahasiswa Tafsir, karena mereka adalah pemelihara Al-Qur’an, maka saat mentadaburinya sesuaikan pula dengan tindakannya.

Tiga Dimensi Mahasiswa Tafsir

Mahasiswa pada umumnya terikat dalam tiga dimensi, yang mana ketiga dimensi ini harus dan wajib ada dalam kehidupan mahasiswa. Pertama, hal yang wajib ada dalam dirinya adalah rajin dalam membaca. Seperti yang di ketahui bersama dunia mahasiswa tidak terlepas dengan kesehariannya senantiasa menuntut mahasiswa untuk membaca, semakin banyak buku atau tulisan ilmiah yang dibaca maka semakin luas pula wawasan seorang mahasiswa.

Kedua, menulis. Dunia mahasiswa juga tidak terlepas dari menulis, dan biasanya berupa tulisan yang bersifat ilmiah. Mahasiswa dituntut untuk mahir dalam kepenulisan karena sebagian besar tugas, penelitian dll, dibuat dalam bentuk tulisan. Ketiga, kegiatan yang lekat dengan para mahasiswa adalah diskusi. Mahasiswa selalu dihadapkan kepada sebuah kasus yang penyelesaiannya dengan cara bersosial yang baik berupa diskusi, juga terdapat banyak forum-forum diskusi sebagai wadah untuk tempat bertukar fikiran berupa keorganisasian, ukm, pengabdian terhadap masyarakat, dll.

Baca Juga  Masyarakat Tanpa Kelas, Sebuah Keniscayaan

Jika mengambil ketiga point ini kemudian di selaraskan dengan sistematika pada prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, maka terbentuklah sebuah teori yaitu Al-Qira’ah (membaca), Al-Kitabah (menulis), Al-ijtimaiyyah (berkumpul) yang mana mereka memilih prodi ini dituntut harus lebih aktif dalam belajar melebihi prodi lainnya. Ketiga dimensi ini di rasa sangat perlu di kuasai oleh para mahasiswa terutama berkaitan dengan Al-Qur’an karena tidak diperkenankan sembarangan berijtihad (memfatwakan) terhadap suatu kandungan ayat atau hukum ayat tertentu tanpa mengetahui kaidah-kaidah keilmuannya, hal-hal semacam inilah yang pada akhirnya dapat menyebabkan kesalahan (chaos) dalam memberikan fatwa.

Memilih menjadi mahasiswa Ilmu-Qur’an dan Tafsir berarti ia mengemban jalan Ilahi, penuh dengan tanggung jawaban besar, harus punya keseriusan dalam belajar, aktif dalam mencari pengetahuan, besarnya rasa keingintahuan, berbudi pekerti luhur, bermoral, berakhlak, dan beradab. Serta menjadikan Al-Qur’an sebagai parameter jalan hidupnya.

Editor: An-Najmi