Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Usaha dan Tawakal: Rahasia Meraih Kesuksesan

Kesuksesan
Sumber: id.pinterest.com

Kesuksesan dalam hidup merupakan keinginan setiap manusia, karena manusia adalah makhluk yang selalu ingin menang atau menjadi pemenang. Terhadap kesuksesan ini, setiap orang memiliki pandangannya masing-masing. Ada yang memaknai hidup yang sukses berarti menjadi kaya atau memiliki banyak harta. Ada yang memaknai hidup sukses itu harus memiliki jabatan tertentu, ada pula yang memaknainya dengan memiliki kepintaran di berbagai bidang ilmu.[1]

Namun, tidak sedikit pula orang yang merasa gagal meskipun telah bekerja keras. Di sisi lain, ada juga yang hanya menunggu keberhasilan tanpa usaha nyata dengan alasan tawakal kepada Allah. Padahal, Islam mengajarkan bahwa kesuksesan harus dibangun melalui keseimbangan antara usaha dan tawakal.

Makna Tawakal dan Usaha

Menurut pandangan Islam, tawakal adalah tumpuan terakhir setelah melakukan ikhtiar atau usaha yang sungguh-sungguh secara maksimal. Usaha ini kemudian berlanjut dengan menyerahkan segalanya dan yakin hanya kepada Allah Swt. yang mampu menyelesaikan segala urusan, setelah manusia tidak mampu lagi menyelesaikannya.[2] Menurut Muhammad bin Hasan asy-Syarif, tawakal adalah keyakinan seorang hamba bahwa hanya Allah Swt. yang mengurus rezeki dan seluruh urusannya sehingga ia bersandar sepenuhnya kepada-Nya dan tidak menggantungkan harapan kepada selain Allah.[3]

Salah satu ayat yang menjelaskan hal tersebut terdapat dalam Q.S. Ali ‘Imran ayat 159.

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْ ۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى الْاَمْرِۚ فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ

 “Maka, berkat rahmat Allah engkau (Nabi Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Seandainya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka akan menjauh dari sekitarmu. Oleh karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam segala urusan (penting). Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.” (Q.S. Ali Imran [3]: 159)

Baca Juga  Ko dan Usaha dalam Al-Quran: Persektif Tafsir dan Pre-Assumpion

Ayat ini menjelaskan bahwa setelah seseorang melakukan berbagai langkah yang diperlukan, seperti berpikir, bermusyawarah, merencanakan, dan berusaha dengan sungguh-sungguh, maka ia harus menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah Swt. Tawakal bukan dilakukan sebelum usaha, tetapi setelah usaha dilakukan secara maksimal.

***

Menurut penafsiran dalam Tafsir al-Munir, ayat ini mengajarkan bahwa kemenangan, keberhasilan, dan pertolongan Allah bergantung pada ketaatan kepada Allah. Pertolongan Allah juga berkaitan erat dengan pelaksanaan sebab-sebab yang mengantarkan kepada keberhasilan. Setelah itu, hati harus bergantung kepada Allah, bukan kepada kemampuan diri sendiri.

Kalimat “maka bertawakallah kepada Allah” menunjukkan bahwa setelah seseorang bermusyawarah, merencanakan, mengambil keputusan, dan berusaha semaksimal mungkin, ia harus menyandarkan hatinya kepada Allah. Ini berarti seorang mukmin tidak menggantungkan keberhasilannya semata-mata pada kemampuan diri, harta, jabatan, atau bantuan manusia, tetapi meyakini bahwa Allah adalah penentu akhir dari segala urusan.[4]

Usaha: Saudara Kembar Tawakal

Namun, tawakal tidak berarti meninggalkan usaha. Islam menolak sikap pasrah tanpa kerja keras. Hal ini dijelaskan dalam Q.S. Ar-Ra’d ayat 11.

لَهٗ مُعَقِّبٰتٌ مِّنْۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهٖ يَحْفَظُوْنَهٗ مِنْ اَمْرِ اللّٰهِ ۗاِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۗ وَاِذَآ اَرَادَ اللّٰهُ بِقَوْمٍ سُوْۤءًا فَلَا مَرَدَّ لَهٗ ۚوَمَا لَهُمْ مِّنْ دُوْنِهٖ مِنْ وَّالٍ

 “Baginya (manusia) ada (malaikat-malaikat) yang menyertainya secara bergiliran dari depan dan belakangnya yang menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka. Apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, tidak ada yang dapat menolaknya. Dan sekali-kali tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (Q.S. Ar Ra’d [13]: 11)

Baca Juga  Tafsir QS. Al-Mu’minun Ayat 1-11: Makna Kesuksesan dalam Al-Qur’an

Ayat ini mengandung prinsip penting dalam Islam bahwa perubahan hidup, baik pada tingkat individu maupun masyarakat, harus diawali dengan perubahan dari dalam diri sendiri. Allah Swt. telah memberikan manusia akal, kemampuan, dan kesempatan untuk berusaha. Oleh karena itu, kemajuan, keberhasilan, dan kemuliaan tidak akan diperoleh tanpa adanya ikhtiar, sedangkan kemunduran dan kehinaan sering kali terjadi akibat perbuatan manusia sendiri.

Wahbah az-Zuhaili, dalam Tafsir Al Munir, menjelaskan bahwa Allah Swt. mengetahui ukuran, kadar, dan batasan setiap makhluk serta setiap peristiwa yang terjadi. Semua kejadian berlangsung sesuai dengan ketentuan dan kehendak-Nya yang telah ditetapkan sejak azali. Dengan demikian, perubahan yang terjadi dalam kehidupan manusia, baik berupa keberhasilan, kegagalan, kemajuan, maupun kemunduran, tidak terjadi secara kebetulan, melainkan berada dalam pengawasan dan pengetahuan Allah Swt. yang sempurna. Penjelasan ini menunjukkan bahwa Allah memiliki kekuasaan penuh atas segala urusan makhluk-Nya dan mengetahui waktu yang paling tepat bagi terjadinya setiap peristiwa.[5]

Rahasia Meraih Kesuksesan

Dari kedua ayat tersebut dapat dipahami bahwa rahasia sukses dalam Islam terletak pada keseimbangan antara ikhtiar dan tawakal. Usaha tanpa tawakal dapat melahirkan kesombongan dan ketergantungan penuh pada kemampuan diri sendiri. Sebaliknya, tawakal tanpa usaha hanya akan melahirkan kemalasan dan ketidakmauan untuk berkembang.

Kesuksesan sejati bukan hanya tentang keberhasilan materi, tetapi juga tentang bagaimana manusia tetap taat kepada Allah dalam proses meraihnya. Dengan usaha yang sungguh-sungguh, perubahan diri yang terus dilakukan, serta tawakal kepada Allah Swt., manusia akan memperoleh keberhasilan yang tidak hanya bernilai duniawi, tetapi juga penuh keberkahan.

Kesuksesan dalam Islam tidak hanya diukur dari banyaknya harta, tingginya jabatan, atau pencapaian duniawi semata, tetapi juga bagaimana seseorang menjalani proses hidupnya dengan penuh usaha, kesabaran, dan ketergantungan kepada Allah Swt. Diharapkan juga dapat menjadi motivasi agar kita tidak mudah putus asa ketika menghadapi kegagalan dan tidak sombong ketika memperoleh keberhasilan, karena semua hasil pada akhirnya berasal dari izin Allah Swt.

Baca Juga  Kajian Kosa Kata Al-Qur'an: Istikamah dalam Surat Al-Ahqaf

Semoga nilai-nilai yang terkandung dalam kedua ayat tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari sehingga mampu membentuk pribadi yang tangguh, optimis, dan selalu dekat kepada Allah Swt. dalam setiap proses menuju kesuksesan.


Daftar Pustaka

[1] Azahadi, Meraih Sukses Perspektif Al-Qur’an (Studi Tafsîr Al-Marâghî, Fî Zhilâl al-Qur`ân, dan Tafsir al-Azhar). Skripsi, Ushuluddin dan Humaniora. (2024).

[2] Haidarotul Milla, “Hubungan Tawakal Dengan Kecemasan Pada Jama’ah Pengajian Al-Iman Stasiun Jerakah Semarang,” Skripsi, 9.

[3] Anri Naldi, Cahaya, dan Muhammad Zein Damanik, “Konsep Tawakal dalam Kajian Akhlak Tasawuf Berdasarkan Dalil pada Al-Qur’an,” Atthiflah: Journal of Early Childhood Islamic Education 10, no. 2 (2023), hal. 320.

[4] Wahbah  Az-Zuhaili, Tafsir Al Munir, Jilid 2 (Damaskus: Dar al-Fikr, t.t.), Hal. 480.

[5] Wahbah  Az-Zuhaili, Tafsir Al Munir, Jilid 7 (Damaskus: Dar al-Fikr, t.t.), Hal. 123.

Editor: Tim Redaksi Tajdeed ID