Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Yang Kurang dari Kajian Kisah Al-Qur’an Menurut Ahmad Khalafullah

Ahmad Khalafullah
Gambar: www.aljazeera.net

Salah satu kajian al-Qur’an yang masih kurang mendapat perhatian adalah pembahasan tentang kisah-kisah yang ada dalam al-Qur’an. Para pakar al-Qur’an sejauh ini ketika mengkaji kisah-kisah al-Qur’an masih terfokus pada pembuktian kebenaran sejarahnya. Padahal jika dilihat kembali, unsur terpenting dari kajian kisah al-Qur’an adalah mengungkap ‘ibrah atau pelajaran yang terkandung dalam suatu kisah atau peristiwa tersebut.

Akan tetapi hal tersebut masih saja tidak mendapatkan perhatian lebih oleh para pengkaji al-Qur’an. Meskipun begitu, bukan berarti pakar al-Qur’an tidak ada yang mengkaji kisah al-Qur’an. Salah seorang pemikir dari Mesir yang bernama Ahmad Khalafullah mencoba memfokuskan kajiannya pada kisah-kisah al-Qur’an.

Ahmad Khalafullah dan Kontroversinya

Muhammad Ahmad Khalafullah merupakan seorang sarjana muslim berkebangsaan Mesir yang lahir pada tahun 1916, tepatnya di provinsi Syarqiyah. Beliau lahir di tengah-tengah keluarga yang religius dan tumbuh menjadi pemikir modernis kontemporer. Beliau menyelesaikan pendidikan S1-nya di Universitas Kairo, Fakultas Sastra yang kemudian lulus di tahun 1939.

Tak berhenti di situ, beliau kemudian menyelesaikan program magisternya dan berhasil lulus di tahun 1942 dengan judul tesis “al-Jadal fi al-Qur’an”. Setelah lulus dari progam magister, beliau menjadi tenaga pengajar di universitas tersebut. Pada tahun 1947, Ahmad Khalafullah mengajukan disertasi tentang kisah al-Qur’an yakni al-Fann al-Qaṣaṣī fī al-Qur’an al-Karīm.

Disertasinya ini pada awalnya menuai banyak kontroversi di antara pengkaji al-Qur’an, khususnya di Mesir semasa itu. Dari pihak universitas pun pada awalnya menolak disertasinya tersebut dan terancam gagal diujikan.

Meski begitu apresiasi positif juga datang beberapa kalangan yang menyebutkan bahwa karya Khalafullah merupakan karya yang sangat memuaskan. Mengandung pemikiran yang tajam dan berwibawa serta menjadi salah satu pembaruan pemikiran Islam kontemporer utamanya dunia tafsir. Melihat ragam tanggapan yang datang dari para pakar al-Qur’an membuktikan bahwa karya Ahmad Khalafullah merupakan karya yang diperhitungkan di satu sisi namun juga tidak mudah diterima di sisi yang lain.

Baca Juga  Pandangan Islam Terhadap Peranan Perempuan Perspektif Al-Qur’an

Dalam mengartikan kisah-kisah, Khalafullah mengutip dari ahli bahasa bahwa kata al-qaṣh (kisah) merupakan bentuk maṣdar dari qaṣhṣha (mengisahkan). Kemudian beliau juga mengutip pendapat dari al-Layts yang menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan al-qaṣh ialah mengikuti jejak. Selain itu, Khalafullah juga mengutip pendapat para mufasir yang dalam pemaknaannya menggunakan dua metode pendekatan, yakni secara harfiah dan religius.

Dua Pendekatan Memahami Kisah Al-Qur’an

Pendapat secara harfiah telah dijelaskan sebagaimana penjelasan di atas. Sementara pendekatan dari segi religius yakni dengan mengaitkan maksud yang terkandung dari kisah-kisah al-Qur’an itu sendiri. Meski begitu, Khalafullah tidak sepenuhnya setuju dengan pengertian di atas. Menurutnya, yang dimaksud dengan kisah ialah karya sastra yang dihasilkan oleh imajinasi seorang pengisah dengan menceritakan kejadian atau peristiwa tertentu yang dialami oleh seorang tokoh baik dikenal maupun tidak, ataupun sebailknya.

Bisa juga tokoh tersebut dikenal, namun peristiwa tersebut dibungkus dengan kisah sastra sehingga peristiwa yang diceritakan hanya bagian yang terpenting saja. Bahkan Khalafullah juga menyebutkan bahwa bisa jadi peristiwa tersebut merupakan kejadian yang nyata namun oleh sang pengisah ditambahkan kejadian serta tokoh tambahan dengan tujuan cerita tersebut lebih hidup dan terkesan seperti kisah fiktif.

Dari pernyataan Ahmad Khalafullah di atas, dapat dipahami bahwa sebenarnya beliau meyakini kebenaran dari peristiwa kisah yang diceritakan dalam al-Qur’an. Akan tetapi ia tidak begitu menekankan aspek tersebut. Khalafullah lebih memfokuskan kepada tujuan dari diceritakannya kisah-kisah tersebut.

Beliau menyatakan bahwa tujuan kisah adalah memberikan sugesti atau pengaruh kejiwaan bagi para pendengar ataupun pembacanya. Selanjutnya beliau juga menegaskan bahwa deskripsi kisah-kisah yang ada di dalam al-Qur’an dapat dikatakan sebagai sastra historis, yang di mana kisah-kisah tersebut dibangun oleh kekuatan perasaan yang mampu menghidupkan serta menarik perhatian. Oleh karena itu, untuk menilai ukuran kisah-kisah al-Qur’an didasarkan pada kesenian dan kebahasaan, bukan hanya dari nilai kesejarahannya saja.

Baca Juga  Ahli Kitab dalam Al-Quran: Definisi dan Perluasan Makna

Model-Model Kisah Al-Qur’an Menurut Ahmad Khalafullah

Untuk memudahkan penjelasan, Khalafullah membagi kisah-kisah dalam al-Qur’an menjadi tiga model: Pertama, model sastrawi sejarah (adabi tarikhi) yakni suatu kisah yang menceritakan peristiwa tokoh-tokoh tertentu seperti para nabi dan rasul, yang diyakini oleh orang-orang terdahulu sebagai suatu kisah yang nyata.

Kedua, model perumpamaan (tamtsiliyya) yaitu kisah yang digunakan untuk menjelaskan atau menerangkan suatu hal atau nilai-nilai. Peristiwa yang dijelaskan pun tidak harus sesuatu yang benar-benar menjadi realitas sejarah dan boleh berupa cerita fiktif.

Ketiga, model legenda atau mitos (usthuriyya) yakni kisah- kisah yang diambil al-Qur’an dari mitos-mitos yang ada dan dikenal oleh sebagian komunitas sosial tertentu. Khalafullah menyebutkan bahwa tujuan model kisah ini ialah untuk memperkuat suatu tujuan pemikiran atau memecahkan suatu problem pemikiran. Tegasnya, unsur mitos bukanlah sebagai tujuan kisah, tapi hanya sebagai instrumen ‘penyedap rasa’ dalam kisah untuk menarik hati pendengar maupun pembacanya.

Penutup

Dari penjelasan di atas, ada satu poin yang perlu digarisbawahi yakni tentang pandangan Khalafullah terkait kisah-kisah al-Qur’an. Khalafullah menegaskan bahwa kebenaran kisah al-Qur’an bukan terletak pada kebenaran secara historis. Melainkan terletak pada fungsi kisah tersebut secara kesustraan. Yakni mampu menjadi mediator bagi al-Qur’an untuk menjelaskan pesan-pesan kebenaran yang dibawanya bagi umat manusia.

Terlepas dari perdebatan tentang kajian kisah al-Qur’an sebagai realitas sejarah atau bukan, pemikiran Khalafullah telah memberikan wawasan baru kepada kita bahwa ada hal yang lebih penting untuk diperhatikan dari kisah al-Qur’an, yakni peringatan dan pelajaran. Selain itu, fokus kisah dari al-Qur’an bukan melulu tentang kronologis kisah yang bersumber dari israiliyyat yang kebenarannya masih perlu dipertanyakan. Wallahu a’lam.

Penyunting: Bukhari

Baca Juga  Ratu Balqis: Pemimpin Perempuan Demokratis yang Dikisahkan dalam Al-Qur’an