Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Kisah Rendah Hati Malaikat Yang Patut Diteladani dalam Al-Qur’an

rendah hati
Sumber: https://thesincereseeker.medium.com

Pernahkah kita merasa kagum dengan sikap rendah hati yang dimiliki oleh seseorang? Dan hal tersebut menginspirasi kita agar menjadi orang yang rendah hati pula? Ya. Sikap rendah hati merupakan perbuatan baik yang patut untuk ditiru oleh siapapun. Dan setiap perbuatan baik pasti akan mendatangkan hidup yang bahagia, damai dan sentosa.

Rendah hati dalam bahasa agamanya adalah tawadhu’. Dalam KBBI, rendah hati artinya adalah ‘hal atau sifat tidak sombong atau tidak angkuh’. Artinya bahwa orang yang rendah hati adalah orang yang dalam hidupnya tidak sombong dengan segala apa yang dimilikinya. Ia memiliki kesadaran untuk berkata, bersikap dan berperilaku yang jauh dari keangkuhan; serta tidak menganggap dirinya jauh lebih baik dari orang lain.

Kisah Malaikat dan Nabi Adam

Melirik kisah penghormatan para malaikat kepada Nabi Adam menunjukkan adanya sikap rendah hati. Diciptakannya Nabi Adam disertai dengan adanya kemampuan beliau dalam menyebutkan nama-nama yang Allah SWT ajarkan. Kemampuan tersebut Allah SWT perlihatkan kepada para malaikat sebagai bukti kesempurnaan manusia yang Allah SWT ciptakan setelah; sebelumnya malaikat mengklaim agar Allah SWT sebaiknya tidak menciptakan makhluk seperti Adam. Mengenai hal tersebut Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah [2]: 31,

وَعَلَّمَ آدَمَ الأَسْمَاء كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلاَئِكَةِ فَقَالَ أَنبِئُونِي بِأَسْمَاء هَـؤُلاء إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ

Artinya: “Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya. kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!”

***

Imam As-Sa’di dalam Tafsirnya menyebutkan mengenai ayat di atas bahwa ketika Allah SWT bertanya kepada para Malaikat mengenai nama-nama segala sesuatu, maka mereka tidak mengetahui nama-nama tersebut dan dengan rendah hati mengucapkan,

Baca Juga  4 Ibrah Kisah Nabi Yunus dalam Al-Qur'an

قَالُواْ سُبْحَانَكَ لاَ عِلْمَ لَنَا إِلاَّ مَا عَلَّمْتَنَا إِنَّكَ أَنتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ

Artinya: Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Baqarah [2]: 32)

Kemudian di hadapan para malaikat, Allah SWT menyuruh Nabi Adam untuk menyebutkan nama-nama benda tersebut melalui firmannya dalam QS. Al-Baqarah [2]: 33,

قَالَ يَا آدَمُ أَنبِئْهُم بِأَسْمَآئِهِمْ فَلَمَّا أَنبَأَهُمْ بِأَسْمَآئِهِمْ قَالَ أَلَمْ أَقُل لَّكُمْ إِنِّي أَعْلَمُ غَيْبَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَأَعْلَمُ مَا تُبْدُونَ وَمَا كُنتُمْ تَكْتُمُونَ

Aritnya: Allah berfirman: “Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini. Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu. Allah berfirman: “Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan ?”

***

Imam As-Sa’di menyebutkan bahwa para malaikat telah melihat kesempurnaan ilmu dan makhluk yang tidak pernah diduga sebelumnya. Ini semua merupakan hikmah dari Allah SWT secara rinci. Kemudian para malaikat memberikan penghormatan tertinggi kepada Adam dengan bersujud kepadanya.

Berdasarkan pemaparan di atas, berikut hal-hal yang perlu dikembangkan agar kita memiliki sikap rendah hati;

Pertama, menerima segala apa yang telah Allah SWT takdirkan untuk setiap makhluk di muka bumi ini. Hal ini sebagaimana yang dilakukan para malaikat dalam menerima takdir; bahwa mereka bukan makhluk yang Allah SWT tunjuk sebagai khalifah di bumi. Artinya dalam kehidupan manusia, setiap orang hendaknya mampu menerima segala keadaan hidupnya. Tidak menyalahkan takdir terlebih membandingkan dengan takdir hidup orang lain yang diklaim lebih baik dari dirinya.

Baca Juga  Metodologi Penafsiran dan Corak Tafsir Al-Wasith

Kedua, memiliki kesadaran untuk menerima segala kekurangan dan kelebihan. Hal ini sebagaimana yang ditunjukkan para malaikat ketika menerima kelebihan Nabi Adam; dalam menyebutkan nama-nama dan menerima kekurangan ketika tidak mampu menyebutkan nama-nama di hadapan Allah SWT.

***

Ketiga, tidak membela diri ketika menerima kritik atau masukan perbaikan dari pihak lain. Hal ini sebagaimana ditunjukkan para malaikat ketika mengklaim Adam bukanlah makhluk yang tepat untuk diciptakan sebagai khalifah, justeru Allah SWT dengan kekuasaannya terus membuktikan kesempurnaan Nabi Adam. Dan para malaikatpun tidak membela diri bahkan mengakui kesempurnaan tersebut. Artinya, bahwa kita ketika menerima masukan perbaikan hendaknya menerima dengan sikap yang baik dan tidak membela diri.

Keempat, mengakui kemampuan orang lain melalui kalimat kalimat yang baik. Hal ini sebagaimana yang dilakukan para malaikat ketika mengetahui kemampuan Nabi Adam dalam menyebutkan nama-nama dengan perkataan; ‘subhaanaka laa ‘ilma lanaa illaa maa ‘allamtanaa”. Artinya kita dapat mengakui kelebihan orang lain dengan kalimat-kalimat semisalnya yang baik; yang memuji kepada Allah SWT misal “Maha suci Allah yang telah membuatmu berhasil dalam urusanmu”

Oleh karena itu, sikap rendah hati merupakan sikap yang patut kita tiru dan kembangkan agar kemashlahatan hidup tetap terjaga. Wallahu a’lam.