Bencana alam (banjir bandang, gunung meletus, gempa bumi, dsb) dan kemanusiaan (korupsi, kejahatan seksual, dsb) kian sering terjadi. Keadaan ini tentu tidak terjadi begitu saja tanpa ada maksud dan tanpa ada ‘penggerak’ di belakangnya. Umat beragama meyakini bahwa kuasa Tuhan ada di balik setiap peristiwa, selain bahwa laku bejat manusia menjadi salah satu sebabnya.
Ebiet G. Ade menyebut dalam lagunya, “mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa/ atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita, coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang”.
Sebaliknya, sebagian yang lain berpegang pada pandangan bahwa segala peristiwa berlangsung tanpa campur tangan Tuhan. Ketika terjadi musibah dan bencana, mereka memilih menggunakan argumen ketidakmampuan manusia dalam mengantisipasi terjadinya peristiwa-peristiwa tersebut.
Kepongahan sikap itu di antaranya berangkat dari kepercayaan berlebih terhadap kemampuan manusia: bahwa dengan mengoptimalkan nalar dan melakukan perhitungan matang, segala musibah dan bencana dapat dihindari. Sains dan teknologi oleh sebagian orang (penganut saintisme?), pada tingkatan tertentu, telah diposisikan sebagai tuhan; menjadi tempat bergantung dan menaruh harap.
Pada waktu yang bersamaan, ulama satu persatu mendapat panggilan oleh Yang Maha Kuasa. Maut al-‘ālim maut al-‘ālam. Kekasih Tuhan yang lain pun sedang menunggu giliran menghadap Sang Empunya segala; ketika dunia mulai kehilangan keseimbangan, ketika dunia sedang melakukan hitung mundur, ketika dunia sedang menuju titik kehancuran, dan ketika dunia hampir berakhir.
Sementara itu, manusia tengah terseok-seok mengayuh pedal kehidupan. Sebagian yang lain masih sibuk ribut mempertanyakan dan mempersoalkan kebenaran agama dan ke-Maha Wujud-an Tuhan; mereka kesulitan membedakan antara kebenaran aksiomatis dan kebenaran relatif. Ada juga yang masih sibuk berebut kuasa dan harta; terperdaya oleh gemerlap perhiasan dunia.
***
Problem Manusia Modern
Dalam sejarah peradaban Islam, ketika manusia bergerak menjauh dari agama dan terjerembab ke dalam jurang dunia, muncul kelompok spiritual yang menjadi pengingat dan ‘penyelamat’. Mengingatkan bahwa kehidupan manusia di dunia bukan hanya soal kuasa dan harta, tapi juga rasa; bahwa dunia adalah terminal bagi perjalanan yang sebenarnya. Mereka ini dikenal dengan sebutan sufi atau kelompok tasawuf.
Pro-kontra mengenai para penempuh jalan tasawuf dan konsep-konsep yang lahir dari pengalaman sufistik sampai saat ini memang masih terus terjadi. Tapi bagaimanapun, tidak dapat dimungkiri bahwa kelompok ini punya peran penting di dalam menjaga ritme spiritualitas umat dan diseminasi ajaran Islam ke berbagai penjuru dunia.
Dewasa ini, ketika dunia bergerak maju dengan berbagai penemuan sains dan teknologi, sebaliknya, kemanusiaan mengalami proses kemunduran. Ibarat pisau bermata dua. Haidar Bagir (2017) menyebutnya sebagai keadaan di mana manusia mengalami “kehampaan spiritual”. Terjadi disorientasi makna kehidupan. Orang menjadi mudah stres, galau, khawatir, kalut, teralienasi, dan sebagainya.
Dihadapkan pada keadaan itu, manusia mulai mengintip-masuk ke bilik spiritual. Mirip seperti yang terjadi beberapa abad lalu. Menariknya, spiritualitas manusia modern tidak berwajah tunggal. Bagi umat Muslim, jalan spiritual bi(a)sa ditempuh dengan masuk ke kelompok tariqah tertentu, atau ‘sekadar’ mengamalkan apa yang oleh Buya Hamka disebut tasawuf modern.
Pintu masuknya adalah tobat, yakni dengan mengakui kesalahan dan menyadari kelemahan. Tujuannya adalah ketenangan batin dan keridhaan Tuhan. Ekspresi keagamaannya berupa ketaatan menjalankan perintah Tuhan dan menebar cinta kasih kepada sesama dan semesta.
Berbeda dengan itu, masyarakat modern perkotaan (di Barat pada umumnya) memilih jalan spiritualitas yang lain. Mereka yang letih setelah bergumul dengan keras dan pongahnya dunia mencari pelarian dengan mengintip-masuk ke bilik psiko-spiritual. Di bilik ini, agama dan Tuhan tidak dilibatkan. Istilah umumnya spiritualitas tanpa agama, tanpa Tuhan.
Memilih Spiritualitas
Spiritualitas tidak dimaknai sebagai upaya mengolah rasa dengan mendekatkan diri pada Tuhan, melainkan sekadar upaya untuk dapat mencicipi kenikmatan yang dihasilkan dari praktik olah pikir dan jiwa.
Tuhan dan agama, sekali lagi, ditempatkan di posisi yang tidak semestinya; dijauhi (atau dianggap jauh), diacuhkan, tidak dianggap sebagai entitas yang penting dan memberi manfaat bagi keberlangsungan hidup manusia dan keseimbangan alam semesta. Eksistensi Tuhan dan relevansi agama tidak sekadar dipertanyakan, tetapi lebih jauh, dipersoalkan.
Maraknya orang yang menuhankan sains dan mengamalkan laku spiritualitas tanpa Tuhan menandai dimulainya pusaran badai ganda nirkemanusiaan. Keduanya bergerak ke arah yang berbeda, saling membelakangi, dan sama-sama menjauh dari pusat. Pusarannya melenakan, memikat banyak orang untuk ikut asyik-masyuk. Semakin banyak orang terpikat, semakin besar pusarannya.
Sementara keduanya membesar dan menjauh dari pusat, agama yang berada di titik tengah (pusat keseimbangan) mulai kehilangan pengaruhnya. Seperti yang sudah-sudah, agama dianggap tidak relevan, dianggap tidak mampu menjawab tantangan zaman, menghambat kemajuan.
Akan tetapi, betapapun agama mulai ditinggalkan –baik dalam makna hakiki maupun majazi–, posisinya sebagai pusat keseimbangan tidak akan tergantikan. Ia akan tetap eksis bahkan semakin menampakkan relevansinya. Akan tetapi, di dunia yang hampir berakhir ini, banyak orang tidak percaya dengan itu.
Di satu sisi, umat beragama, terutama umat Islam, memang perlu melakukan evaluasi; tentang pemahaman keagamaannya, sikap keagamaannya, dan orientasi beragamanya. Di sisi yang lain, umat beragama harus percaya diri dengan pilihan keagamaannya. Jangan sampai terlena dan akhirnya menjadi bagian dari mereka yang menuhankan sains dan mengamalkan laku spiritualitas tanpa Tuhan.
Penyunting: M. Bukhari Muslim

























Leave a Reply