Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Ibnu Abbas: Sahabat yang Paling Paham Penafsiran Al-Qur’an

abbas
Sumber: islamfort.com

“Sahabat Nabi” istilah tersebut mungkin sudah tidak asing lagi bagi seluruh umat Islam. Terutama pada tempat pengajian-pengajian, majelis taklim, dan tulisan-tulisan yang berkaitan dengan hadis. Dalam ilmu hadis, istilah “Sahabat” didefinisikan sebagai setiap orang muslim yang pernah bertemu dan melihat Nabi dan meninggal juga dalam keadaan muslim. Hampir seluruh sahabat Nabi memiliki peran besar dalam perkembangan agama Islam pada masa awal agama Islam muncul. Termasuk dari segi kelimuan yang menjadi titik awal kebangkitan umat muslim pada saat itu. Salah satunya ialah sahabat Ibnu Abbas yang memiliki peran besar dalam perkembangan Islam pada saat itu, sehingga beliau dijuluki sebagai “Tinta Umat”.

Sang Tinta Umat

Nama lengkap Ibnu Abbas ialah, ‘Abdullah bin Abbas bin ‘Abdul Muththalib bin Hasyim lahir di Makkah tiga tahun sebelum hijrah. Ayahnya adalah Abbas, paman Rasulullah, sedangkan ibunya bernama Lubabah binti Harits yang dijuluki Ummu Fadhl yaitu saudara dari Maimunah, istri Rasulullah. Beliau dikenal dengan nama Ibnu Abbas. .

Ibnu ‘Abbas adalah salah satu dari empat orang pemuda bernama ‘Abdullah yang mereka semua diberi julukan ‘Abdillah. Mereka termasuk diantara tiga puluh orang yang menghafal dan menguasai al-Qur’an pada saat penaklukkan Kota Makkah. al-‘Abadillah juga merupakan bagian dari lingkar ‘ulama yang dipercaya oleh kaum muslimin untuk memberikan fatwa pada waktu itu.

Ibnu ‘Abbas senantiasa mengiringi Nabi. Beliau menyiapkan air untuk wudhu Nabi. Ketika shalat, beliau berjama’ah bersama Nabi. Apabila Nabi melakukan perjalanan, beliau turut pergi bersama Nabi. Beliau juga kerap menhadiri majelis-majelis Nabi. beliau banyak mengingat dan mengambil pelajaran dari setiap perkataan dan perbuatan Nabi.

Baca Juga  Memurnikan Makna Jihad dan Terorisme

Pernah satu hari Nabi memanggil ‘Abdullah bin Abbas yang sedang merangkak-rangkak di atas tanah, menepuk-nepuk bahunya dan mendoakannya, “Ya Allah, jadikanlah Ia seorang yang mendapat pemahaman mendalam mengenai agama Islam dan berilah kefahaman kepadanya di dalam ilmu tafsir.”

“Tinta Umat” Julukan ini memang layak beliau dapatkan karena kejeniusan otak, kecerdasan hati dan keluasan pengetahuannya. Tak hanya itu ia juga dikenal dengan gelar Turjuman Al-Qur’an (penafsir Al-Qur’an), Habrul Ummah (guru umat), dan Ra’isul Mufassirin (pemimpin para mufassir).

Kecintaan Ibnu Abbas Terhadap Ilmu

Pada saat usia Ibnu Abbas baru menginjak 15 atau 16 tahun ketika Nabi wafat. Pengajarannya terhadap ilmu tidaklah usai. Beliau berusaha menemui sahabat-sahabat yang telah lama mengenal Nabi demi mempelajari apa-apa yang telah Nabi ajarkan kepada mereka semua.

Dengan kesungguhannya mencari ilmu, baik di masa hidup Nabi maupun setelah Nabi wafat, ia memperolah kebijaksanaan yang melebihi usianya. Karena kedalaman pengetahuan dan kedewasaannya, ‘Umar bin Khathab menyebutnya pemuda yang tua (matang). Khalifah ‘Umar sering melibatkannya ke dalam pemecahan permasalahan-permasalahan penting negara..

Saat ditanya, “Bagaimana Anda mendapatkan ilmu ini?” Ibnu Abbas menjawab, “Dengan lisan yang gemar bertanya dan akal yang suka berpikir.” Kemudian ia membuka rumahnya sebagai majelis ilmu yang setiap hari penuh oleh orang-orang yang ingin menimba ilmu padanya. Hari- hari dijatah untuk membahas Al-Qur’an, fiqh, halal-haram, hukum waris, ilmu bahasa, syair, sejarah, dan lain-lain

‘Abdullah bin Abbas meriwayatkan sekitar 1.660 hadits. Dia sahabat kelima yang paling banyak meriwayatkan hadist sesudah ‘Aisyah. Beliau juga aktif menyambut jihad di Perang Hunain, Tha’if,  Fathu Makkah dan Haji Wada`. Selepas masa Rasul, Ia juga menyaksikan

Baca Juga  Tahun Baru Hijriah: Menghidupkan Semangat Perjuangan Abu Dzar

penaklukkan afrika bersama Ibnu Abu As-Sarah, Perang Jamal dan Perang Shiffin bersama ‘Ali bin Abi Thalib.

Pada akhir masa hidupnya, Ibnu Abbas mengalami kebutaan. Beliau menetap di Tha`if hingga wafat pada tahun 68H di usia 71 tahun. Demikianlah, beliau memiliki kekayaan besar berupa ilmu pengetahuan serta akhlaq `ulama.

Penilaian Para Sahabat

Dikarenakan kecerdasan serta kedalaman ilmunya banyak dari sahabat yang memberikan penilaian kepada beliau, diantaranya adalah:

  1. ‘Umar pernah berkata, “Sebaik-baik tafsir Al-Qur’an ialah dari Ibnu Abbas. Apabila umurku masih lanjut, aku akan selalu bergaul dengan ‘Abdullah bin Abbas.”
  2. Sa’ad bin Abi Waqqas menerangkan, “Aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih cepat dalam memahami sesuatu, yang lebih berilmu dan lebih bijaksana daripada Ibnu Abbas.”
  3. ‘Ubaidullah bin ‘Abdullah bin Utsbah berkata, “Tak pernah aku melihat seseorang yang lebih mengerti tentang hadits Nabi serta keputusan-keputusan yang dibuat Abu Bakar, ‘Umar, dan ‘Utsman, daripada Ibnu ‘Abbas.”

Ibnu Abbas tidak hanya dikenal karena pemikiran yang tajam dan ingatan yang kuat, tapi juga dikenal murah hati. Teman-temannya berujar, “Kami tidak pernah melihat sebuah rumah penuh dengan makanannya, minumannya, dan ilmunya yang melebihi rumah Ibnu Abbas.”

Editor: An-Najmi