Tiap-tiap tuturan Tuhan yang bersemayam di barisan ayat-ayat Al-Qur’an, tiada yang tidak mengandung unsur estetika. Di samping estetika, Tuhan juga mengendapkan esensi-esensi yang akan diketahui melalui telaah secara mendalam. Al-Qur’an yang sudah dutunkan berabad-abad yang lalu, tetap eksis hingga sekarang. Salah satu sebabnya adalah riset yang menunjukkan keabsahan Al-Qur’an dan ekuibilitasnya dengan ilmu pengetahuan, walau Al-Qur’an turun dimana istilah ‘teknologi’ belum muncul. Penyebutan Alam semesta, tumbuhan, hewan, dan manusia dalam Al-Qur’an tidak lepas dari riset ilmiah denga segala datanya. Pada tulisan ini, penulis akan mencoba menganalisis pohon Bidara (sidr) dalam al-Qur’an.
Ruang Lingkup Pohon Bidara
Sebelum masuk ke dalam pembahasan, alangkah baiknya jika dipaparkan ayat yang mengandung lafadz sidr dalam QS Saba’: dan al-Waqi’ah,
فَاَعْرَضُوْا فَاَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ سَيْلَ الْعَرِمِ وَبَدَّلْنٰهُمْ بِجَنَّتَيْهِمْ جَنَّتَيْنِ ذَوَاتَيْ اُكُلٍ خَمْطٍ وَّاَثْلٍ وَّشَيْءٍ مِّنْ سِدْرٍ قَلِيْلٍ
“Tetapi mereka berpaling, maka Kami kirim kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit pohon Sidr”.
Sedangkan salam QS. Al-Waqiah: 27
فِيْ سِدْرٍ مَّخْضُوْدٍۙ
“(Mereka) berada di antara pohon sidr yang tidak berduri”
Salah satu yang menarik dalam kandungan Al-Qur’an adalah pohon sidr atau bidara. Lafadz sidr diebutkan sebanyak 2 kali dalam Al-Qur’an yang masing-masing terdapat pada QS. Saba’ ayat 16 dan QS. Al-Waqiah ayat 27. Dalam biologi pohon sidr disebut dengan iziziphus spina-cristhi L. Pohon ini banyak dijumpai di India yang memiliki karakteristik tinggi, berduri, batang berwarna coklat, dan daun yang panjangnya 4-6 cm. pohon ini bisa tumbuh di berbagai kondisi, tapi bisa lebi cepat di udara yang panas. Di jazirah Arab, pohon ini terkenal dengan tingginya yang menjulang dan mampu menaungi. Juga menjadi tempat berteduh bagi masyarakat yang terkena teriknya panas matahari. (Sih Wahyuni Raharjeng, “Identifikasi Morfologi Budaya (Ziziphus mauritiana) di Wilayah Sidoarjo. 83)
Khasiat Pohon Bidara
Dalam tanaman bidara terkandung alkaloid, fenolat, flavonoid, kuercetin, rutin, dan terpenoid yang kaya akan manfaat. Senyawa fenolat adalah senyawa yang mempunyai sebuah cincin aromatik dengan satu atau lebih gugus hidroksi. Kandungan fenolat pada pohon bidara kaya akan manfaat biologis yakni: antioksidan, antiinflamsi, antimikroba, antifungsi dan mencegah timbulnya tumor.
Tanaman bidara (Ziziphus spina-christi L) juga dapat melindungi sel DNA manusia disebabkan oleh kerusakan dan radiasi actinic diuji menggunakan alat tes control dimodifikasi oleh regentec, spin dari perusahaan riset dari Universitas Nottingham. Selain itu, terdapat juga beberapa jenis dari pohon ini, yaitu Bidara laut, Bidara Cina, Bidara upas, Bidara Putsa, dan Bidara Arab. (Fiki Kusumah Dewi, “Sidr dalam Al-Qur’an dan Manfaatnya Bagi Kesehatan, 8).
Dalam beberapa literature juga disebutkan bahwa pohon sidr ini mampu menangkal gangguan sihir. Dikisahkan oleh Imam Al-Qurtubhy dan ibn Abidin dari Wahab bin Munabbih, “Apabila seseorang terkena sihir, hendaknya ia mengambil tujuh dau bidara hijau yang tumbuh. Tambahkan air lalu bacakanlah ayat kursi dan diminum tiga kali tegukan. Setelah itu ia mandi. Cara ini dengan kehndak Allah akan menghilangkan pengaruh sihir dalam tubuh”. (Abu Salam Asy-Syukri, Bedah Tuntas Sihir, 357)
Pohon Bidara Perspektif Tafsir
Tantawi Jawhari, dalam tafsirnya menyebutkan bahwa sidr adalah salah satu bentuk kenikmatan para kaum di Negeri Saba’. Pada masa lampau, pohon bidara yang menjulang tinggi dijadikan sebagai tempat untuk berteduh bagi para musafir yang kelelahan. Di samping itu, dikatakan pula pada Q.S al-Waqi’ah : 27-29, dalam tafsir tantawi jauhari bahwa lafadz sidr berarti al-Shajar al-Nabaq yang artinya pohon bidara yang rusak. Akan tetapi yang dimaksud dengan pohon bidara yang rusak adalah bahwa pohon bidara yang tinggi menjulang dihilangkan durinya oleh Allah sebagai kenikamatan yang diberikannya kepada golongan kanan (Tantawi Jauhari, Al-Jawāhir fi Tafsir Al-Qur’an Al-Karim, Jilid 24, 78)
Sedangkan al-Razi berpandangan bahwa pohon bidara yang dimasukkan ke dalam jenis pepohonan yang mempunyai ciri tidak manis, tidak asam terlihat tawar atau tidak mempunyai rasa. Mengapa Allah SWT menyebutkan pohon bidara? Melainkan ada hikmah yang sangat besar dibalik penyebutan-Nya, yang tidak dirasakan baik oleh orang-orang terdahulu maupun yang sekarang. (Fakhr al-din al-Razi, Tafsir Māfātih al-Ghaib, 163)
Dalam tafsir Kementrian Agama RI juga disebutkan mengenai interpretasi dari lafadz sidr dalam Al-Qur’an. Pohon ini diasosiasikan dengan dua kelompok jenis tumbuhan yaitu, pohon Cedar (dalam bahasa Inggris) dan pohon lote atau hackberry yang berasal dari marga celtis. Sedangkan dalam bahasa Indonesia Sidr diterjemahkan dengan pohon bidara. Di dalam Al-Qur’an pohon ini disebutkan tumbuh dan hidup di dua tempat yaitu di bumi dan di surga. Pada Q.S al-Saba’ diceritakan bahwa pohon bidara hidup di bumi, dan pada Q.S al-Waqi’ah digambarkan berada di surge. (Kementrian Agama RI, Mengenal ayat-ayat Sains, 89-94).
***
Sebagian ulama menempatkan pohon Sidr ini di luar jangkauan manusia, yaitu di surga dan juga terkadang diibaratkan dengan pohon Cedrus Libani. Kayu dari pohon Cedrus Libani berkualitas baik, nerkilat, kuat, tahan lama, dan berbau harum. Kemudian dalam beberapa literature kuno disebutkan bahwa kuil Sulaiman dan juga kuil-kuil Kristen dibangun dengan memanfaatkan kayu ini. Pada masa Fir’aun terjadi penebangan pohon besar-besaran untuk membangun istana dan kuil. Sejak itu pula, pohon ini mulai langka.
Dalam suatu riwayat hadits yang diriwayatkan Abu Dawud disebutkan,
“Barang siapa yang menebang sebatang Sidrr (sejenis pohon obat), Allah akan menundukkan kepalanya di dalam neraka”.
Abu Dawud menjelaskan, bahwa redaksi dari hadits ini singkat, artinya barangsiapa yang menebang pohon Sidr yang biasa dipakai para musafir atau binatang di padang pasir, tanpa alasan yang jelas Allah akan menundukkan kepalanya di neraka (Muhammad Nasir, Membangun Hukum Pidana Lingkungan Berbasis Syari’ah, 111).
Kesimpulan
Al-Qur ’an merupakan kalam allah yang juga pencipta jagat raya. Mustahil jika alam semesta terbentuk tanpa kandungan dan khasiat. Allah juga telah memfirmankan hal tersebut dalam penggalan QS Ali Imran ayat 191,
رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَاطِلًاۚ
“Wahai Tuhan Kami, tidaklah Engkau menciptakan ini (Alam Semesta) secara sia-sia”
Maksud dari penggalan ayat tersebut adalah bahwa semua yang Allah ciptakan, termasuk segala sesuatu yang Allah sebutkan dalam Al-Qur’an, secara sia-sia dan tidak berguna. Pohon sidr termasuk salah satu ciptaan Tuhan yang bermanfaat bagi manusia.
Editor: An-Najmi





























Leave a Reply