Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Penafsiran Abduh tentang Malaikat: Tidak Perlu Diteliti Hakikatnya

Abduh Khalifah

Muhammad Abduh adalah seorang tokoh mufassir Al-Qur’an yang mendewakan rasionalitas dalam menafsirkan Al-Qur’a. Sehingga tak jarang tafsirannya bertolak belakang dengan pemikiran mufassir sebelumnya. Dalam menafsirkan Al-Qur’an, Muhammad Abduh mempunyai dua landasan, yaitu menggunakan peranan akal dan memperhatikan kondisi sosial.

Penafsirannya yang banyak mengkritik ulama terdahulu, membuat ia dikenal sebagai pelopor adanya tafsir modern yang bercorak al-adabi wal ijtima’i. Yaitu sebuah penafsiran yang mengikuti kondisi sosial masyarakat pada zamannya. Lalu, bagaimanakah penfasiran beliau? Terkhusus penafsiran Abduh yang  menyangkut ayat-ayat metafisik seperti malaikat?

Dalam menafsirkan kata malaikat, Muhammad Abduh menggunakan QS. Al-Baqarah: 30-34.

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَـٰٓئِكَةِ إِنِّى جَاعِلٌۭ فِى ٱلْأَرْضِ خَلِيفَةًۭ ۖ قَالُوٓا۟ أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ ٱلدِّمَآءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّىٓ أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ ٣٠

وَعَلَّمَ ءَادَمَ ٱلْأَسْمَآءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى ٱلْمَلَـٰٓئِكَةِ فَقَالَ أَنۢبِـُٔونِى بِأَسْمَآءِ هَـٰٓؤُلَآءِ إِن كُنتُمْ صَـٰدِقِينَ ٣١

قَالُوا۟ سُبْحَـٰنَكَ لَا عِلْمَ لَنَآ إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَآ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلْعَلِيمُ ٱلْحَكِيمُ ٣٢

قَالَ يَـٰٓـَٔادَمُ أَنۢبِئْهُم بِأَسْمَآئِهِمْ ۖ فَلَمَّآ أَنۢبَأَهُم بِأَسْمَآئِهِمْ قَالَ أَلَمْ أَقُل لَّكُمْ إِنِّىٓ أَعْلَمُ غَيْبَ ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَأَعْلَمُ مَا تُبْدُونَ وَمَا كُنتُمْ تَكْتُمُونَ ٣٣

Penafsiran Abduh tentang Malaikat

Berdasarkan ayat tersebut, menurut Abduh, malaikat adalah makhluk ghaib yang tidak perlu diteliti hakikatnya. Bagi Abduh, cukup kita sebagai orang mukmin mengimani keberadaan, tugas, dan penciptaan malaikat dari nur (cahaya). Tanpa harus meneliti hakikatnya secara rinci.

Hal tersebut karena jangkauan akal manusia hanya terbatas tentang alam ghaib. Ditakutkan akan terjadi kesalahpahaman penafsiran pada ayat-ayat ghaib jika dilakukan pengkajian secara rinci. Tugas kita sebagai umat muslim hanya mengimaninya saja. Karena, seperti ditekan Abduh, seseorang tidak disebut beriman apabila tidak meyakini adanya malaikat. Hal ini sesuai dengan bunyi rukun iman yang kedua, yaitu beriman kepada malaikat dan surah Al-Baqarah : 248

Baca Juga  Matan Lengkap Hadis Niat

وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ ءَايَةَ مُلْكِهِۦٓ أَن يَأْتِيَكُمُ ٱلتَّابُوتُ فِيهِ سَكِينَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَبَقِيَّةٌ مِّمَّا تَرَكَ ءَالُ مُوسَىٰ وَءَالُ هَٰرُونَ تَحْمِلُهُ ٱلْمَلَٰٓئِكَةُ ۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَةً لَّكُمْ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

Artinya: Dan Nabi mereka mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja, ialah kembalinya tabut kepadamu, di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun; tabut itu dibawa malaikat. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda bagimu, jika kamu orang yang beriman.

Namun demikian, Muhammad Abduh mengatakan bahwa malaikat itu jumlahnya banyak. Masing-masing malaikat mempunyai tugas sendiri-sendiri. Seperti terjadinya kehidupan bagi tumbuh-tumbuhan. Menurut Muhammad Abduh, tumbuh-tumbuhan bisa hidup karena Allah meniupkan ruh kepada benih melalui malaikat. Hal ini dalam istilah ilmiah disebut dengan potensi alamiah.

Antara Ide Kebaikan dan Keburukan

Muhammad Abduh dalam tafsirannya di kitab Al-Manar menjelaskan bahwa ruh adalah pusat dari kebaikan dan kejahatan. Ide-ide kebaikan dari manusia, lanjut Abduh, bersumber dari ilham (malaikat). Sedangkan ide-ide yang bersifatkeburukan bersumber dari bisikan setan. Itulah mengapa setan dan malaikat adalah ruh yang berhubungan dengan manusia, atau dengan nama lain nurani manusia.

Dari uraian di atas, tidak tepat jika malaikat dikaji secara lebih dalam mengenai bentuk/wujudnya. Sudah jelas di Al-Qur’an bahwa malaikat diciptakan dari cahaya, apakah kita harus mengkaji cahaya yang seperti apa yang dimaksud? Bagaimana bentuknya? Dll?

Akhirnya demikianlah uraian penafsiran Muhammad Abduh mengenai term malaikat dalam QS. Al-Baqarah ayat 30-34. Tujuan penafsiran beliau ini tepat karena didasarkan untuk menanamkan kepercayaan kepada orang yang tidak pernah percaya dengan hal yang ghaib. Wallahu a’lam bi ash-shawab.

Penyunting: Bukhari

Baca Juga  Al Muwaththa’: Karya Monumental Imam Malik di Bidang Hadis