Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Nabi Ibrahim AS: Dari Ilmul Yaqin Menuju Haqqul Yaqin

ilmu yaqin
Sumber: https://lifeinsaudiarabia.net/

Nabi Ibrahim AS adalah sosok figur teladan dalam berbagai aspek kajian. Diantara aspeknya yakni terkait keteladanan dalam konteks pendidikan, proses mencari Tuhan, karakter luhur seorang Nabi, sampai bagaimana Ibrahim berdialog terhadap umatnya. Salah satu karakter Nabi Ibrahim termuat dalam Q.S. al-Baqarah [2]: 260 yang menegaskan rasa ketertarikan untuk ingin tahu yang diungkapkan dalam bentuk dialog kepada Tuhannya, termasuk ilmu Yaqin.

Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kritis merupakan salah satu potensi manusia, namun tidak semua manusia mampu berpikir kritis. Dalam permohonannya, Ibrahim menyampaikan supaya ditampakkan padanya tentang bagaimana Allah dapat menghidupkan kembali makhluk yang sudah mati untuk meyakinkan hatinya dan memastikan secara rasional apapun yang dipahaminya.

Hal ini menjadi sebuah kegelisahan terhadap sebagian orang, apakah Ibrahim mengalami keraguan sebagaimana firman Allah Q.S Al-Baqarah [2]: 260,

وَاِذْ قَالَ اِبْرٰهٖمُ رَبِّ اَرِنِيْ كَيْفَ تُحْيِ الْمَوْتٰىۗ قَالَ اَوَلَمْ تُؤْمِنْ ۗ

Artinya:  (Ingatlah) ketika Ibrahim berkata, “Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati.” Dia (Allah) berfirman, “Belum percayakah engkau?” Dia (Ibrahim) menjawab, “Aku percaya, tetapi agar hatiku tenang.” Dia (Allah) berfirman, “Kalau begitu, ambillah empat ekor burung, lalu dekatkanlah kepadamu (potong-potonglah). Kemudian, letakkanlah di atas setiap bukit satu bagian dari tiap-tiap burung. Selanjutnya, panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera.” Ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Pandangan Mufasir

Di jelaskan secara singkat dalam Tafsir Jalalain karya Jalaluddin as-Suyuthi dan Jalaluddin al-Mahalli, ketika Nabi Ibrahim meminta untuk diperlihatkan tentang bagaimana Allah menghidupkan orang mati, Allah justru bertanya kepada Nabi Ibrahim “Apakah kamu tidak percaya?” yakni akan kekuasaan-Ku dalam menghidupkan yang mati? Menurut tafsir ini, Allah mengetahui bahwa Ibrahim mempercayai hal tersebut. Tetapi, ditanyakan kepada Ibrahim ini agar Ibrahim memberikan jawaban atas pertanyaan Allah SWT sehingga para pendengar nantinya akan mengerti maksud pertanyaan Nabi Ibrahim “Saya percaya, tetapi saya tanyakan agar tenang dan tenteram hatiku.”

Baca Juga  Menangkal Serangan Setan dari Segala Arah, Begini Caranya!

Adapun Buya Hamka dalam Tafsir al-Azhar menafsirkan bahwa dibalik keinginan lbrahim menambah pengetahuannya, juga ingin kenaikan derajat imannya daripada ‘Ilm al-Yaqin menjadi ‘Ainul Yaqin. Oleh sebab itu, permohonannya kepada Allah agar memperlihatkan kepadanya bagaimana Allah SWT menghidupkan orang yang telah mati kelak, bukanlah karena dia tidak percaya atau kurang percaya. Begitu pula saat Tuhan menanyakan kembali kepadanya, bukan berarti Tuhan tahu bahwa Ibrahim belum percaya akan firman-Nya. Hal tersebut diumpakan dengan keadaan yang telah kita alami di zaman modern ini.

Semua orang yang menaruh pesawat televisi di rumahnya, sudah tahu bahwa dari tempat jauh kita dapat melihat rupa orang yang sedang bercakap atau menyanyi cukup dengan melihat di layar televisi. Tetapi ada pula orang yang ingin tahu bagaimana seluk-beluk pesawatnya, sehingga dipelajarinyalah hal itu lebih mendalam. Maknanya, seseorang tersebut sudah percaya, tetapi dia ingin menambah pengetahuannya, sehingga derajat kepercayaan naik setingkat lag dari ilmu yaqin. Maka diperkenankanlah permohonan kekasih-Nya itu, Khalil Allah Ibrahim.

***

Menurut Quraisy Shihab dalam Tafsir al-Misbah dijelaskan bahwa permohonan Ibrahim bukanlah bentuk keraguan sebab permintaan di sini adalah tentang bagaimana; yakni tentang cara menghidupkan yang mati. Seseorang yang bertanya tentang cara, maka dia tidak lagi menyangsikan substansi dari yang dia tanyakan. Namun dari pertayaan yang diajukan Allah dan jawaban yang diberikan Ibrahim, agaknya tidak keliru juga bila sebagian orang berpendapat bahwa saat menyampaikan permohonannya; Ibrahim belum sampai pada tingkat keimanan yang meyakinkan. Sehingga, masih ada semacam pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam benak Nabi Ibrahim.

Dalam hal ini Quraisy Shihab menekankan bahwa substansi iman. Khususnya pada tahap-tahap pertama, selalu diliputi oleh aneka tanda tanya yang digambarkan orang beriman ketika itu sedang mendayung di lautan lepas kemudian dilanda ombak dan gelombang. Nan jauh di sana, terlihat olehnya sebuah pulau harapan, tetapi apakah gelombang tidak akan menelannya? Apakah ia mampu mendayung dan mendayung? Demikianlah sama, aneka pertanyaan muncul ketika jiwa seseorang diliputi oleh kecemasan menghadapi besarnya gelombang. Tetapi, dalam saat yang sama pula dirinya dipenuhi oleh harapan mencapai pulau idaman. Dan kalaupun ketika itu Ibrahim telah yakin, maka itu baru sampai pada tingkat ilmu Yaqin, belum ‘Ain al-Yaqin, apalagi Haqq al-Yaqin.

Nabi Ibrahim baru sampai pada tingkat keyakinan yang sempurna setelah Malakut as-Samawat wa al Ardh ditunjukkan kepadanya oleh Allah; sebagaimana firman-Nya al-An‘am ayat 75. Demikianlah iman tahapan pertama ada sebab keterbatasan pengetahuan manusia, bisa juga oleh godaan setan. Rasul saw. mengingatkan, “Setan akan datang kepada salah seorang di antara kamu, lalu dia berkata, ‘Siapa yang menciptakan ini? Siapa yang menciptakan itu? Sampai akhirnya dia bertanya, ‘Siapa yang menciptakan Tuhanmu? maka bila dia sampai pada pertanyaan ini, hendaklah manusia memohon perlindungan kepada Allah dan hendaklah dia berhenti melayani pertanyaan-pertanyaan semacam ini” (HR. Bukhari dan Muslim).

Baca Juga  Tanggung Jawab Pemimpin dalam Al-Quran
***

Sedangkan menurut Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Ibrahim tidak merasa ragu sama sekali terhadap Allah SWT. Melainkan Ibrahim hendak menaikkan tingkat pengetahuannya dari yang semula ilmu yaqin menjadi ‘Ainul Yaqin. Dan Ibrahim ingin menyaksikan secara langsung proses penghidupan itu dengan mata kepalanya sendiri. Kemudian Ibrahim meminta permohonan secara langsung kepada Allah SWT supaya ditunjukkan bagaimana proses penghidupan dari yang mati menjadi hidup; sehingga dengannya Ibrahim menjadi semakin mantap hatinya dalam keimanan. Di sini Ibnu katsir juga menyertakan satu Hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari berkenaan dengan ayat ini. Bersumber dari Abu Salamah dan Sa’id, dari Abu Hurairah, ia menceritakan bahwa Rasulullah SAW bersabda:

نَحْنُ أَحَقُّ بِالشّكِّ مِنْ إِبْراهيم إِذْ قَالَ: (رَبِّ أَرِنِيْ كَيْفَ تُحْيِ المَوْتَى قَالَ أَوَلَمْ تُؤْمِنْ قَالَ بَلَى وَلَكِنْ لِيَطْمَئِنَّ قَلْبِي

Al-Baghawi menambahkan tentang hadits tersebut yang isinya untuk penyempurnaan manfaat bagi ma’rifah dan memberikan ketenangan; tidak dapat diperoleh hanya dengan pencarian dalil-dalil semata. Juga perihal ragu, Rasulullah SAW menanggapi perkataan ummatnya. “Nabi Ibrahim ragu sedang Rasulullah SAW tidak ragu”; dengan menyampaikan sabdanya tersebut sebagai bentuk sikap rendah hati dari beliau dan mengutamakan Ibrahim atas diri beliau.