Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Ketika Al-Qur’an Merasa Cemburu Pada Pemiliknya

Cemburu
Gambar: https://pppa.id/
Contents

Siapa sih pemilik Al-Qur’an? Sebagaimana Firman Allah SWT dalam QS. Al-Hijr [15]:9

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا ٱلذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُۥ لَحَٰفِظُونَ

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”.

***

Berdasarkan penafsiran M. Quraish Shihab dalam kitab tafsirnya al-Misbah, beliau mengatakan bahwa dalam kata (نحن نزّلنا) ada keterlibatan selain Allah dalam proses penurunan Al-Qur’an yaitu Malaikat Jibril. Sedangkan dalam kata (لَحَٰفِظُونَ) menunjukkan kaum muslimin sebagai subjek pemeliharaan Al-Qur’an salah satunya dengan cara menghafal.

Dengan lebih jelasnya yaitu Al-Qur’an diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantara malaikat Jibril yang kemudian banyak dihafal dan diamalkan oleh sahabat, tabi’it tabi’in, ulama, sampai generasi saat ini. Pemilik Al-Qur’an adalah ia yang menghafal Al-Qur’an atas Izin Allah SWT. Sangat mulia bukan? Orang-orang terpilih yang mampu menghafal Kalam-Nya, bahkan semua orang juga ingin ada di posisi kita saat ini.

Al-Qur’an merupakan kalam Allah yang paling agung dan mulia, di dalamnya berisi ribuan ayat yang menyerukan kepada manusia untuk melakukan kebajikan dan menjauhi larangan-Nya. Al-Qur’an juga menjadi center di kalangan pondok pesantren di Indonesia, terutama yang berbasis tahfiz. Tak heran jika banyak santri Indonesia yang telah menghafalkan Al-Qur’an dan melahirkan ulama-ulama besar yang berjiwa Qur’ani.

Pernahkah kalian terlena dalam keindahan Al-Qur’an ketika membacanya? Di saat itulah Al-Qur’an menunjukkan sisi kecanduan bagi pembacanya. Apalagi ketika kita membacanya tanpa melihat mushaf, bukankah itu impian semua orang? tapi tidak semua orang bisa melakukannya. Banyak dari kita selalu berkata “tidak ada waktu untuk muraja’ah Al-Qur’an”.

Ternyata itu adalah pernyataan yang salah. Justru dengan meluangkan sedikit waktu kita untuk Al-Qur’an membuat semua kegiatan kita menjadi berkah. Sebagai seorang penghafal, tentu sangat tidak asing dengan kepergian ayat-ayat Al-Qur’an secara tiba-tiba. Mengapa demikian? Bukankah itu hal yang berat untuk kita? Kita harus mengulang kembali ayat-ayat yang telah kita hafal sebelumnya.

Baca Juga  Menakar Kriteria Nepotisme melalui ayat-ayat Al-Qur'an
***

Melelahkan bukan? Tentu saja, karena kita telah menduakan Al-Qur’an dengan hal yang lain. Al-Qur’an juga memiliki rasa cemburu kepada pemiliknya bahkan melebihi rasa cemburu makhluk Allah lainnya. Karena sekali kita membuat Al-Qur’an cemburu maka disaat itu juga Al-Qur’an memberikan pelajaran dengan membuat kita lalai dan melupakannya.

Kira-kira apa sih faktor dari lalainya kita terhadap Al-Qur’an? Kita terlalu sibuk dengan urusan duniawi dan sengaja melalaikan prioritas utama kita sebagai penghafal. Al-Qur’an selalu cemburu dengan aktivitas kita, dengan kesibukan kita, dengan pekerjaan kita. Jangan kaget jika ayat-ayat yang telah dihafal tiba-tiba hilang.

Kalau kata si penulis sih, “Al-Qur’an ditinggal bentar ngilangnya bukan maen”. Memang benar adanya seperti itu, bukan? Dengan pengalaman si penulis ini, ketika kita telah sibuk dengan urusan lain dan bermalas-malasan disaat itulah Al-Qur’an melakukan reaksinya dengan lari dari ingatan kita. Tidak usah menyalahkan waktu yang padat karena Al-Qur’an hilang dari ingatan. Tetapi lebih memanage waktu dengan sebaik mungkin agar Al-Qur’an tetap terjaga.

Kespesialan Al-Qur’an tidak bisa dibandingkan dengan hal apapun, di dalamnya memuat diksi indah yang memuat banyak makna dan multitafsir. Dengan keistimewaan Al-Qur’an ini mendorong kita untuk selalu menjaga dan merawat hafalan kita secara istiqamah. Al-Qur’an pada dasarnya hanya butuh diprioritaskan dan diistiqomahkan. Sebagai penghafal jangan pesimis ketika kita menghafal Al-Qur’an namun tidak lancar.

Seperti dawuh Abah KH. Ainul Yaqin, S.Q (Pengasuh Pondok Pesantren Hamalatul Qur’an Jogoroto Jombang), “Lancarnya hafalan Al-Qur’an seseorang itu adalah fadhal dari Allah, tetapi kewajiban bagi setiap penghafal adalah nderes Al-Qur’annya secara istiqomah”. Dari dawuh tersebut, kita sebagai penghafal harus mempunyai tekad dalam memanjakan Al-Qur’an. Baik dari segi bin an-adzor dan bi al-ghaib-nya.

Baca Juga  Buletin Jum'at: Memperingati Nuzulul Qur'an
***

Dengan itu, Al-Qur’an akan merasa dispesialkan dan selalu menjadi teman bagi pemiliknya yang tidak akan pernah meninggalkan, karena membersamai Al-Qur’an tidak akan memberikan kerugian kepada kita. Seperti hadis yang sering kita dengar:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقٌرْآنَ وَ عَلَّمَهُ

“Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya”. (HR. Tirmidzi)

Kesimpulan yang bisa kita ambil,  Al-Qur’an dengan high quality nya tidak bisa disamakan dengan hal apapun. Al-Qur’an tidak akan cemburu jika kita memprioritaskannya. Jadi prioritaskanlah Al-Qur’an maka Allah juga akan memprioritaskan kita. Berlama-lama lah kita dalam membersamainya, dan pada hakikatnya penghafal Al-Qur’an tidak ada kata libur sampai masuk ke dalam kubur. Karena sejatinya, kekasih yang tidak akan pernah meninggalkanmu adalah Al-Qur’an itu sendiri.

Penyunting: Bukhari