Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Selayang Pandang Imam Al-Suyuti dan Karyanya dalam Studi Qur’an

Sumber: https://aalimbooks.com/

Salah satu ulama yang berjasa mendedikasikan waktunya untuk menghidupkan kembali kajian Ilmu Al-Qur’an adalah Imam Al-Suyuti. Melalui karyanya yang berjudul Al-Itqan Fi ‘Ulum Al-Qur’an, beliau telah berhasil memantik generasi umat islam setelahnya untuk menekuni bidang kajian Al-Qur’an dan berhasil menyajikan gambaran umum tentang objek-objek kajian Ulum Al-Qur’an.

Bagi sebagian orang, memahami makna Al-Qur’an adalah perkara yang pelik. Bahkan, para akademisi pun juga sering mengalami kesulitan dalam memahami tafsir ayat-ayat Al-Qur’an yang memiliki makna tidak langsung atau makna yang terkandung.

Hal ini disebabkan makna yang terkandung dalam ayat Al-Qur’an terkadang kurang jelas dan membutuhkan interpretasi lebih lanjut untuk memahaminya dengan benar. Oleh karena itu, penting bagi para akademisi pemula untuk terus belajar dan mengkaji Al-Qur’an secara komprehensif agar dapat memahami makna ayat-ayat Al-Qur’an dengan tepat dan sesuai dengan konteksnya. Tidak hanya itu, menyambungkan pemahaman pribadi dengan pemahaman para ulama juga tidak kalah penting.

Menurut saya, karya-karya Al-Suyuti sangat rekomended sebagai rujukan bagi siapapun yang hendak memahami makna-makna yang terkandung dalam Al-Qur’an. Artikel ini sekedar pemantik awal untuk memahami Al-Suyuti. Meskipun tulisan ini hanya menyajikan biografi dan potret karyanya secara singkat, cukuplah bagi kita ayat pertama dari surah Al-‘Alaq sebagai motivasi; untuk menjadi seorang pembaca yang selalu mengingat Allah Swt. dan untuk istiqamah dalam belajar:

ٱقۡرَأۡ بِٱسۡمِ رَبِّكَ ٱلَّذِي خَلَقَ.

(Bacalah dengan [menyebut] nama Tuhanmu yang menciptakan)

Biografi Singkat Jalaluddin Al-Suyuti

Jalaluddin al-Suyuti, yang nama lengkapnya adalah ‘Abdurrahman bin Kamaluddin Abu Bakr bin Muhammad bin Sabiquddin, adalah keturunan Persia. Sejarah mencatat bahwa ia hidup pada masa Dinasti Mamluk di abad ke-15 M. Sebelum pindah ke Mesir, keluarganya telah lama tinggal di Bagdad sebagai keluarga terhormat yang memegang jabatan penting di pemerintahan. Al-Suyuti sendiri merupakan nama yang diambil dari daerah kelahirannya.

Baca Juga  Penjelasan Di Balik Fenomena Rasm ‘Utsmaniy

Al-Suyuti lahir pada bulan Rajab/Oktober, 849 H. /1445 M. di daerah al-Suyuti (sekitar Kairo). Dia menjadi anak yatim piatu setelah ibunya meninggal sesaat setelah ia lahir dan ayahnya meninggal saat ia berusia 5 tahun. Pada usia 8 tahun, ia telah hafal Al-Qur’an dan tumbuh hingga usia 11 tahun di bawah bimbingan Muhammad bin ‘Abd al-Wahid. Al-Zahabi menceritakan bahwa Jalaluddin al-Suyuti merupakan sosok yang alim pada masanya dalam berbagai bidang ilmu, termasuk Al-Qur’an, Hadis, dan banyak lagi. Menurutnya pula, Jalaluddin al-Suyuti hafal 200.000 Hadis.

Dalam hal pendidikannya, Jalaluddin al-Suyuti belajar kepada beberapa ulama besar di masanya. Dikarenakan ketekunan dan kecerdasannya, ia pun tumbuh sebagai ulama besar dari berbagai bidang keilmuan. Di antara ulama yang menjadi guru-gurunya adalah Sirajuddin al-Qalyubi dan Syaikh al-Islam al-Bulqini, dari keduanya ia mempelajari ilmu fiqh; kemudian ilmu fara’id dari Taqiyuddin al-Samni dan Syihabuddin; dan ilmu hadis serta bahasa Arab dari Imam Taqiyuddin al-Hanafi. Dalam bidang tafsir, ia berguru kepada Imam Jalaluddin al-Mahalli. Bahkan, yang berkaitan dengan bidang ilmu kedokteran menarik perhatiannya dengan berguru kepada Muhammad bin al-Dawani. Selama hidupnya, ia terus mengkaji ilmu-ilmu dan sering berpindah dari satu negara ke negara lain, termasuk Syam, Yaman, India, Maroko, dan negara lainnya.

***

Melalui karya-karyanya, Jalaluddin al-Suyuti menerima pengakuan dari ulama-ulama besar. Ia adalah seseorang yang sangat ahli dalam menulis, bahkan salah satu muridnya, al-Dawidi mengungkapkan bahwa dalam satu hari Imam al-Suyuti mampu menulis 48 lembar. Lebih lanjut, al-Dawidi mengatakan bahwa jumlah karya tulis yang telah disusun oleh Jalaluddin al-Suyuti mencapai 500 judul dari berbagai bidang ilmu; termasuk bidang Al-Qur’an.

Sekilas Potret Karya Al-Suyuti

Al-Itqan adalah salah satu kitab yang popular dari banyak kitab yang ditulis oleh Imam al-Suyuti. Kitab tersebut ditulis karena Imam al-Suyuti merasa heran mengapa tidak ada karya yang representatif dalam bidang studi Al-Qur’an. Sementara di lain sisi telah banyak karya yang ditulis dalam bidang studi hadis. Sebagai karya yang komprehensif dalam bidang studi Al-Qur’an, karya al-Suyuti hanya didahului oleh Muhyi al-Din al-Kafiji, Jalaluddin al-Bulqini, dan Badr al-Din al-Zarkasyi. Namun, hanya karya Badr al-Din al-Zarkasyi yang dapat ditemukan dan diedit sehingga dapat dibaca, yaitu kitab yang berjudul Al-Burhan Fi ‘Ulum Al-Qur’an. Meski demikian, karya Badr al-Din al-Zarkasyi tersebut tidak dikenal kecuali setelah disebutkan oleh al-Suyuti dalam mukadimah Al-Itqan sebagai salah satu referensinya.

Baca Juga  Kontroversi Ulama Mengenai Muthlaq Muqayyad Dalam Ayat Al-Qur’an

Sebenarnya, Al-Itqan merupakan karya ke-2 Imam al-Suyuti tentang studi Al-Qur’an. Karya studi Al-Qur’an pertamanya adalah Al-Tahbir Fi ‘Ulum Al-Tafsir, kitab yang lebih singkat dibandingkan Al-Itqan.

Al-Tahbir  memuat 102 tema yang terkait dengan studi Al-Qur’an, mulai dari tema Makkiyyah dan Madaniyyah hingga pembahasan tentang sejarah Al-Qur’an. Pembahasan dalam Al-Tahbir sangat singkat, bahkan ada yang hanya mencantumkan judulnya saja tanpa penjelasan. Sedangkan dalam karyanya yang ke-2, Al-Itqan Fi ‘Ulum Al-Qur’an, terdapat 80 bab yang menurut al-Suyuti dapat dibahas secara detail hingga menjadi sebuah karya terpisah. Namun, dalam Al-Itqan, tema-tema tersebut hanya diuraikan secara singkat dan padat.

Al-Itqan terdiri dari 80 tema yang mencakup lebih dari 300 bab pembahasan. Di antaranya yakni pembahasan Makkiyyah dan Madaniyyah; membahas tentang penjelasan surat-surat Al-Qur’an yang terkait dengan status Makkiyah atau Madaniyyah, serta batasan ayat-ayat Makkiyyah dan Madaniyyah. Pada bab terakhir, biografi para ahli tafsir dari kalangan Tabi‘in juga dibahas.

Sebagai penutup dan juga kepentingan memahami makna ayat-ayat Al-Qur’an, izinkan saya mengajukan pertanyaan kepada pembaca. Apa hakikat makna dan bagaimana hal itu bertalian dengan ungkapan bahasa tertentu sehingga ungkapan tersebut bermakna demikian?

Editor: An-Najmi