Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Menjawab Penafsiran Tekstualis dengan Teori Interpretasi Jorge Gracia

jorge
Sumber: qureta.com

Dalam sejarah kajian al-Qur’an dan tafsir, tercatat sebuah pendekatan yang melibatkan lebih banyak porsi tekstual dalam menafsirkan al-Qur’an, pedekatan ini lumrah disebut tekstualis. Sekilas, jika kita membaca judul buku yang ditulis oleh Jorge. J. E. Gracia, seorang professor dalam bidang filsafat di Departement of Philosophy, University at Buffalo di New York, yaitu “A Theory of Textuality : The Logic and Epistemology” , menjawab pendekatan tekstualis yang terkesan “kaku” dalam mendekati teks, menjadi lebih holistic dan komprehensif.

Hal tersebut terlihat ketika Gracia mengelaborasi aspek-aspek tekstualis secara epistemologis yang ia sebut dengan “discernibility” (keterlihatan). Mengenai pembahasan ini, Gracia mencoba menjawab tiga pertanyaan filosofis, yakni “how do I know that something is a text?”(bagaimana saya tahu bahwa sesuatu itu teks?), “how do I learn the meaning of a text?” (bagaimana saya mengenal makna sebuah teks?), dan “how can I be certain that I know the meaning of a text?” (bagaimana saya yakin bahwa saya mengetahui makna sebuah teks?). ketiga pertanyaan tersebut menggambarkan keluasan definisi ‘teks’ perspektif Gracia. (Gracia, 1995, xxvii)

Mendekati Teks

Melalui tiga pertanyaan untuk memahami hakikat teks secara filosofis tersebut, Gracia mendefinisikan teks sebagai seperangkat entitas, yang digunakan sebagai tanda, yang dipilih, ditata dan dimaksudkan oleh seorang pengarang dalam konteks tertentu untuk menyampaikan makna spesifik kepada audiens. (Sahiron, 2017, 94)

Gracia mendefinisikan teks sebagai seperangkat entitas, yang digunakan sebagai tanda, yang dipilih, ditata dan dimaksudkan oleh seorang pengarang dalam konteks tertentu untuk menyampaikan makna spesifik kepada audiens. Jika dalam definisi tersebut teks adalah seperangkat entitas, maka teks adalah bagian dari sejarah dimana konteks pengarang berada, namun masalahnya adalah bahwa penafsir hampir tidak memiliki akses langsung terhadap makna yang dikandung oleh teks tertentu. Penafsir hanya dapat mengakses entitas yang digunakan oleh pengarang  teks untuk berusaha menyampaikan pesan atau makna tertentu. Jadi, upaya menemukan kembali makna historis adalah problem fundamental interpretasi. 

Baca Juga  Kaidah Tafsir: Makna Huruf مِنْ yang Terletak Sebelum Mendahuluinya

Gracia mencoba menawarkan solusi terhadap problem hermenutis tersebut dengan mengajukan konsep “the development of textual interpretation” (pengembangan interpretasi tekstual) yang tujuannya untuk menjembatani kesenjangan antara situasi-situasi dimana teks lahir dengan situasi yang ada di sekitar audiens kontemporer (pembaca/penafsir teks).

Dalam konsepnya tersebut, menurut Gracia, interpretasi melibatkan tiga hal, yaitu; teks yang ditafsirkan (interpretandum), penafsir, dan keterangan tambahan (interpretans). Interpretandum adalah teks sejarah, atau teks yang diproduksi oleh pengarang. Sedangkan interpretans, memuat tambahan-tambahan ungkapan yang dibuat oleh penafsir sehingga interpretandum lebih dapat dimengerti.

Aplikasi Teori Interpretasi Jorge. J. E. Gracia

Penjabaran aplikatif interpretasi, oleh Gracia digambarkan dalam tiga fungsi umum interpretasi. Hal ini penting untuk menciptakan pemahaman terhadap teks di benak audiens kontemporer. Tiga macam fungsi tersebut secara spesifik adalah; fungsi historis (historical fucntion), fungsi makna (meaning function), dan fingsi implikatif (implicative function).

Pertama, interpretasi berfungsi menciptakan kembali di benak audiens kontemporer pemahaman yang dimiliki oleh pengarang teks dan audiens historis. Inilah yang dimaksud dengan historical function tersebut. Fungsi kedua interpretasi adalah menciptakan di benak audiens kontemporer pemahaman di mana audiens kontemporer itu dapat menangkap ‘makna’ (meaning) dari teks, terlepas dari apakah makna tersebut memang secara persis merupakan apa yang dimaksud oleh pengarang teks dan audiens historis, atau tidak. Sedangkan fungsi ketiga adalah memunculkan di benak audiens kontemporer suatu pemahaman sehingga mereka memahami implikasi dari makna teks yang ditafsirkan.

Terkait dengan macam-macam interpretasi, Gracia membaginya menjadi dua kategori, yaitu; interpretasi tekstual dan non-tekstual. Apakah sebuah interpretasi termasuk kategori pertama atau kedua, tergantung pada tujuan masing-masing mufassir. Interpretasi tekstual adalah upaya untuk menangkap makna dari teks yang ditafsirkan.  Yaitu dengan menangkap makna orisinal teks sebagaimana dipahamai pengarang atau audiens awal, kemudian menambahkan keterangan  tambahan dengan menangkap implikasi dari makna teks tersebut. Sedangkan interpretasi non-tekstual tidak lagi bertujuan menguak makna teks, melainkan lebih jauh menguak sesuatu di balik makna tekstual.

Baca Juga  Kajian Semiologi Ferdinand de Saussure dalam Menafsirkan Al-Qur’an

Jika kita perhatikan teori tentang hakekat interpretasi yang dikemukakan oleh Gracia, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa interpretasi baik yang tekstual maupun non-tekstual, mengandung informasi-informasi tambahan selain makna yang dimaksud oleh pengarang teks. Hal ini sudah barang tentu terkait dengan teori kebenaran dalam penafsiran, yaitu bahwa kebenaran interpretasi bersifat plural. Pertanyaannya adalah, apa kebenaran interpretasi itu, lalu apa yang mengindikasikan suatu interpretasi itu benar atau salah?. Dalam hal ini, menurut Gracia, tidaklah relevan menentukan bahwa suatu interpretasi adalah benar dan interpretasi yang lain adalah salah. Yang tepat adalah mengatakan bahwa sebuah interpretasi lebih efektif, dan kurang efektif, atau lebih cocok atau kurang cocok. (Gracia, 1995, 173)

Editor: An-Najmi