Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Kajian Semiologi Ferdinand de Saussure dalam Menafsirkan Al-Qur’an

Siapa sih yang tidak mengenal Ferdinand de Saussure dengan enam pandangannya tentang bahasa, pastinya orang-orang yang telah memahami filsafat atau bahkan hanya belajar filsafat mengetahui salah satu sosok tokoh filsafat ini, khususnya dalam filsafat bahasa. Sebelumnya penulis akan memaparkan biografi dari Saussure agar para pembaca baik yang belum mengetahui bahkan yang telah mengetahuinya menjadi tau dan semakin akrab terhadap sosok tersebut, kemudian penulis jabarkan tentang kajian dalam menafsirkan Al-Qur’an.

Mengenal Ferdinand de Saussure

Ferdinand de Saussure lahir pada tanggal 26 November 1857 di kota Jenewa dan meninggal pada tahun 1913 dalam usia 55 tahun. Berasal dari keluarga yang beragama protestan Perancis (Huguenot) yang berimigrasi dari daerah Lorraine ketika perang agama pada akhir abad ke-16. Ayah dari Saussure merupakan seorang naturalis yang terkenal di Jenewa dan dari keluarga dengan tradisi keberhasilan yang kuat dalam Ilmu alam. Saussure menggarungi pendidikannya di perguruan tinggi Jenewa pada tahun 1874 di fakultas Kimia dan Fisika. Namun, Saussure kurang tertarik dengan fakultasnya karena bukan bidang yang diminatinya, kemudian pindah ke Universitas Leipzig dengan mengambil jurusan bahasa. Pada tahun 1881, Saussure menjadi dosen di salah satu Universitas Paris selama sepuluh tahun dengan gelar profesor dalam bidang bahasa Sanksekerta dan Indo-Eropa.

Saussure merupakan bapak strukturalis karena ketekunan dalam mendalami struktur dan filsafat bahasa. Dinamakan zaman strukturalisme karena mengkritik teori bahasa sebelumnya yang menggunakan pendekatan sejarah dalam mengkaji bahasa, sedangkan bahasa setiap zamannya memiliki karakter yang berbeda-beda. Sejak kecil Saussure memang telah tertarik dengan bahasa, bahkan pada saat berusia 15 tahun Saussure telah mneguasai lima bahasa yaitu bahasa Yunani, Perancis, Inggris, dan Latin.

Baca Juga  Semiologi Ferdinand De Saussure dalam Menafsirkan Q.S Al-Hujurat: 13

Kemudian pada saat berusia 21 tahun Saussure mengarungi bahasa sanskerta di Berlin selama 18 bulan, tepatnya pada tahun 1878-1879. Pada saat belajar di Berlin, Saussure juga menerbitkan memoire yang sangat terkenal dengan judul Memoire sur le Primitif des Voyelles dans les Language Indo-Europeenes (memoir tentang sistem huruf hidup primitif dalam bahasa-bahasa Indo-Eropa). Karya tersebut dilatarbelakangi oleh karya dari ahli linguistik Amerika, yakni William Dwight Whitney yang membahas tentang The Life and Growth of Language: and Outline of Linguistic Science.

Pemikiran Ferdinand de Saussure

Dalam pemikirannya tentang semiologi, Saussure memiliki enam pandangan dan merupakan peletak dasar pandangan tentang semiologi dalam bahasa yang nantinya menjadi referensi dari para tokoh setelahnya. Enam pandangannya meliputi signifier (penanda) dan signified (petanda), form (bentuk) dan content (isi), langue dan parole, synchronic dan diachronic, arbriter dan convention, serta syntagmatic dan assosiative.

Bahasa merupakan sistem tanda yang biasa disebut dengan sign yang tersusun atas penanda signifier dan petanda signified, penanda dan petanda merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan antara satu sama lain. Sign dalam bahasa sehari-hari merupakan apa yang kita lihat dari sebuah teks maupun tanda, misalnya saja ketika seseorang memiliki rasa kepada seseorang dengan membawa bunga mawar. Kemudian signifier merupakan bagaimana memahami suatu tanda yang berada pada setiap kepala seseorang, misalnya masih dalam konteks permisalan tentang rasa yakni yang digunakan sebagai penanda adalah bunga mawar merah. Sedangkan signified merupakan bagaimana seseorang memberi tanda atau konsep pada suatu benda, misalnya konsep dari permisalan di atas adalah sebagai rasa cinta seseorang terhadap orang lain.

Dalam pengaplikasian Ferdinand de Saussure terhadap teori semiologi ke dalam Al-Qur’an, penulis mengambil sampel dari salah satu ayat dalam Al-Qur’an yaitu surat al-Hujurat ayat 13 yang berbunyi:

Baca Juga  Kaidah Tafsir: Makna Huruf مِنْ yang Terletak Sebelum Mendahuluinya

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Pengaplikasian Teori Ferdinand de Saussure dalam Penafsiran

Dalam menjelaskan ayat tersebut dapat dikaitkan dengan enam pandangan Saussure di antaranya tentang signifier dan signifier tertuju ke dalam kaidah bahasa Arab yaitu menentukan fi’il, fa’il, dan maf’ul bih atau bisa dikatakan jumlah fi’liyah. Form (bentuk) dan content ayat tersebut adalah bahwa Allah menciptakan sesuatu melalui proses yang tidak ada dari Adam dan Hawa menjadi ada yaitu manusia, kemudian manusia menjadi sesuatu yang lain seperti halnya pada ayat di atas sesuatu yang lain adalah berbangsa-bangsa dan bersuku-suku untuk saling mengenal.

Langage dari ayat tersebut adalah lafadz khalaqa (yang menciptakan), langue yaitu bahasa yang disepakati yang termasuk dalam ayat adalah apabila seseorang menciptakan sesuatu dengan menghasilkan idenya sendiri yang tidak memiliki referensi dari bentuk atau isi yang diciptakannya, maka seseorang tidak dapat mencontek milik orang lain, dan parole nya adalah suatu ujaran dengan menggunakan turunan-turunan, misalnya lafadz turunan dari khalaqa adalah ansya`a, fathara, dan ja’ala. Synchronic dan diachronic adalah dua hal yang berbeda, namun Saussure hanya menggunakan synchronic karena bahasa hanya digunakan untuk melihat sistem dan struktur bahasa dalam setiap waktu, seperti dalam ayat ini yaitu lafadz ansya`a, fathara, dan ja’ala.

Kemudian arbritrer yakni bahasa suka-suka atau satu lafadz memiliki makna yang berbeda-beda, seperti konteks ayat di atas makna berbeda-beda karena telah ada konvensi dari orang Arab. Terakhir tentang syntagmatic yang nantinya akan menuju ke assosiative (paradigmatik), Saussure memunculkan paradigma yang mudah dipahami dalam ayat Al-Qur’an tersebut, misalnya lafadz qabaa`il yaitu uraian dari tradisi budaya, sedangkan lafadz syu’uuban yaitu uraian dari warna kulit, bentuk wajah, dan sebagainya.

Baca Juga  Telaah Ayat Sungai dengan Pendekatan Semiotika Ferdinand de Sausure

Jadi, penulis menyimpulkan bahwa dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an dapat digunakan teori-teori dari para tokoh filsafat bahasa yang nantinya juga harus disandarkan pada tafsir-tafsir Al-Qur’an dari para ulama, kemudian baru dapat dijadikan pedoman dalam memahami ayat-ayat yang terkadung dalam Al-Qur’an.

Editor: An-Najmi