Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Memahami Kemukjizatan Al-Qur’an Secara Ontologi dan Epistemologi

Sumber: istockphoto.com

Peristiwa-peristiwa alam yang terjadi di sekitar kita walaupun menakjubkan tidak bisa dikatakan sebuah mukjizat. Hal tersebut karena peristiwa-peristiwa yang terjadi sekarang tidak dilakukan oleh para nabi, dan pastinya mustahil kalau di zaman sekarang ada mukjizat. Karena kemukjizatan yang terakhir dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw.

Kemukjizatan al-Qur’an ditinjau dari Ontologi

Kata mukjizat dalam KBBI diartikan sebagai kejadian ajaib yang sukar dijangkau oleh kemampuan akal manusia. Namun pengertian tersebut berbeda dengan pengertian yang diberikan oleh Agama Islam, kata mukjizat  berasal dari kata bahasa Arab اَعْجَزَyang memiliki makna melemahkan atau menjadikan tidak mampu. Dalam Islam mukjizat memiliki definisi suatu peristiwa luar biasa yang terjadi melalui seorang nabi atau rasul.

Tidak semua peristiwa yang menakjubkan bisa di sebut mukjizat, suatu peristiwa bisa di sebut mukjizat apabila peristiwa tersebut dapat memenuhi 3 unsur pokok mukjizat seperti:

1. Harus menyalahi tradisi atau adat kebiasaan

Suatu peristiwa yang terjadi tidak menyalahi tradisi atau kejadian sesuai dengan kebiasaan yang umum bahkan lazim berlaku, maka tidak bisa dikatakan sebuah mukjizat. Oleh karena itu seperti hipnotis, sihir, dan lain-lain tidak bisa dikatakan sebuah mukjizat karena hal tersebut bisa dipelajari.

2. Terjadi pada seorang nabi

Mukjizat hanya bisa terjadi pada seorang nabi saja, oleh karena itu jika ada hal yang luar biasa, tetapi bukan terjadi pada seorang nabi atau rasul maka dapat dipastikan bahwa hal tersebut bukan suatu mukjizat.

3. Tantangan tersebut tidak mampu atau gagal dilayani

Saat seorang nabi menunjukkan sebuah kemukjizatnya ke depan kaumnya dan berupa tantangan, maka hal tersebut harus tidak mampu dilayani oleh kaumnya, dan apabila tantangan tersebut mampu ditandingi, maka hal tersebut tidak bisa dikatakan sebagai mukjizat.

Baca Juga  Integrasi Pendekatan Islam dan Barat: Hermeneutika Fazlur Rahman

Sedangkan pengertian al-Qur’an secara harfiah adalah bacaan sempurna, al-Qur’an merupakan bentuk masdar  dari قرأ yang berarti membaca. Namun secara istilah al-Qur’an adalah kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw, melalui Malaikat Jibril yang terdiri 144 surat dan 30 juz, dan akan mendapat bagi para pembacanya.

Kemukjizatan al-Qur’an ditinjau dari Epistemologi

Epistemologi dalam kemukjizatan al-Qur’an yang di maksud adalah mengkaji mengenai aspek-aspek kemukjizatan dalam al-Qur’an, aspek-aspek tersebut seperti,

1. Aspek Kebahasaan

 Aspek kebahasaan ini berkaitan seperti: kefasihan, balagah nya, sistematika susunannya, dan uslub nya. Kemukjizatan al-Qur’an dari aspek kebahasaan sesuai kondisi masyarakat Arab yang dihadapi Nabi Muhammad,  karena diketahui bahwa bangsa Arab dulu terkenal dengan kefasihan serta kesustraanya. Sebab itu turunlah al-Qur’an dengan kefasihan serta kesustraanya tanpa sepengetahuan bangsa Arab, walaupun al-Qur’an turun dengan bahasa mereka.

Telah diketahui bunyi bahasa itu terbagi menjadi dua jenis: konsonan dan vokal. Huruf konsonan adalah seperti huruf b, c, dan d. Sedangkan huruf vokal adalah misalnya: a, i, u, e, o.

Dalam literatur Arab konsonan terbagi menjadi tujuh bagian: 

a.  Plosif (shawāmit infijāriyyah), yaitu bunyi bahasa yang dihasilkan dengan penutupan pita suara yang di belakangnya udara terkumpul. Contohnya pada huruf ini seperti: ba, ta, tha, dzad, kaf, dan qaf.

b. Nasal (shawāmit anfiyyah), yaitu bunyi suara yang dihasilkan dengan mengeluarkan udara melalui hidung. Huruf-huruf yang termasuk seperti, mim dan wau

c. Lateral (shawāmit munharifah), yaitu bunyi bahasa yang dihasilkan dengan penutupan sebagian lidah. Huruf yang termasuk seperti, lamd. Getar (shawāmit muharrarah), yaitu bunyi bahasa yang dihasilkan dengan arti kulator yang bergetar secara cepat. Huruf yang termasuk seperti, ra. e. Frikatif (shawāmit iftikākiyyah), yaitu bunyi bahasa yang dihasilkan dengan penyempitan tempat keluar udara sehingga terjadi pergeseran. Huruf-huruf yang termasuk seperti, fa, tsa, sin, shad, zai, ghain, dan ‘ain.

Baca Juga  Catatan Singkat Buku: Menjawab Tuduhan Ekstremis Sains (1)

f. Plosif frikatif (shawāmit infijāriyyah-iftikākiyyah), yaitu bunyi bahasa yang dihasilkan dengan proses perpaduan antara plosif dan frikatif. huruf yang masuk kelompok ini adalah jim.g. Semi vokal (asybah al-shaut), yaitu bunyi bahasa yang memiliki ciri vokal maupun konsonan, mempunyai sedikit geseran, dan tidak muncul sebagai inti suku kata. Huruf yang termasuk kelompok adalah wau dan ya’.

***

 2. Aspek keilmuan

Penelitian kemukjizatan al-Qur’an dari aspek keilmuan ini termasuk suatu yang revolusioner atau baru dalam mukjizat al-Qur’an, karena para ulama dahulu lebih banyak mengkaji atau meneliti dalam bentuk aspek kebahasaan saja, sementara aspek kebahasaan ini hanya diketahui oleh orang-orang tertentu yang mengetahui gramatikal Arab.

Kemunculan istilah kemukjizatan al-Qur’an dari aspek keilmuan ini juga dipengaruhi corak tafsir dengan corak ilmiah dan juga dipengaruhi oleh kemajuan dari teknologi pada masa kini. Dari aspek ini harus kita pahami bahwa al-Qur’an bukan merupakan kitab ilmu pengetahuan, melainkan kitab yang berisi hidayah yang ditujukan kepada manusia, walaupun demikian dalam al-Qur’an juga mengandung ayat-ayat keilmuan.

***

Berikut contoh ayat yang mengandung keilmuan atau ilmiah, seperti terdapat pada QS Al-Furqan ayat 48-50 yang berbunyi:

48وَهُوَ الَّذِي أَرْسَلَ الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ ۚ وَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً طَهُو

لِنُحْيِيَ بِهِ بَلْدَةً مَيْتًا وَنُسْقِيَهُ مِمَّا خَلَقْنَا أَنْعَامًا وَأَنَاسِيَّ كَثِيرًا49

وَلَقَدْ صَرَّفْنَاهُ بَيْنَهُمْ لِيَذَّكَّرُوا فَأَبَىٰ أَكْثَرُ النَّاسِ إِلّا كُفُورًا50

Artinya: 48) Dialah yang meniupkan angin (sebagai) pembawa kabar gembira dekat sebelum kedatangan rahmat-nya (hujan); dan Kami turunkan dari langit air yang amat bersih, 49) agar Kami menghidupkan dengan air itu negeri (tanah) yang mati, dan agar Kami memberi minum dengan air itu sebagian besar dari makhluk Kami, binatang-binatang ternak dan manusia yang banyak. 50) Dan sesungguhnya Kami telah mempergilirkan hujan itu diantara manusia supaya mereka mengambil pelajaran (dari padanya); maka kebanyakan manusia itu tidak mau kecuali mengingkari (nikmat).

Ayat-ayat di atas mengandung ilmiah, dalam ayat tersebut menjelaskan keberlangsungan hidup adalah air, dan tidak mungkin ada kehidupan tanpa adanya air. Hal tersebut telah terbukti pada zaman sekarang. Bahkan menurut penelitian dalam tubuh manusia unsur paling banyak adalah air.

Baca Juga  Tiga Pesan untuk Para Penghafal Alquran

3. Aspek berita tentang gaib

Gaib yang dimaksud adalah sesuatu yang luput dari pandangan manusia, baik sifatnya yang telah terjadi pada masa lampau, ataupun pemberitaan yang akan datang contoh ayat yang memberitakan tentang masa yang akan datang seperti surat al-Rum ayat 1-5

Pada ayat tersebut Allah telah  memberitakan bahwa bangsa Romawi akan mendapat kemenangan dalam peperangan, hal tersebut benar-benar terjadi bahwa bangsa romawi mendapat kemenangan saat melawan bangsa Persia. Secara tidak langsung Allah Swt membuktikan bahwa al-Qur’an bukan buatan Nabi Muhammad melainkan benar-benar kalam Allah.

Kesimpulan

Kemukjizatan al-Qur’an ditinjau dari ontologi bahwa mukjizaT dilihat dari beberapa pengertian. Seperti dalam KBBI, pengertian yang diberikan oleh agama Islam, asal kata mukjizat  berasal dari kata bahasa Arab اَعْجََزَbegitu pula pengertian al-Qur’an yang berasal dari masdar dari قرأ .

Sedangkan kemukjizatan al-Qur’an ditinjau dari epistemologi dilihat dari aspek-aspek seperti a. Aspek Kebahasaan, b. Aspek keilmuan, c. Dan aspek berita gaib.

Editor: An-Najmi