Bidang semantik memahami jaringan konseptual yang terbentuk oleh kata-kata yang berhubungan erat, sebab tidak mungkin kosa kata akan berdiri sendiri tanpaadakaitan dengan kosa kata lain. Dalam hal ini al-Qur’an memiliki bahasa tersendiri dalam mengungkap sebuah makna yang terkadang berbeda dengan kosa kata yang dipahami oleh masyarakat Arab sebelumnya. Pengkaji al-Qur’an yang menggunakan pendekatan semantik dalam analisis penafsiran al-Qur’an beralasan bahwa selain hanya untuk kepentingan analisis juga untuk memahami variasi dan konteks makna kata dari kata-kata kunci dalam al-Qur’an. Jadi cara yang terbaik dalam meneliti al-Qur’an adalah mencoba menguraikan kategori semantik. Seperti kata kufr yang berasal dari kata kafara, sebagai kata baru dalam medan semantik al-Qur’an, karena kata tersebut memiliki makna yang tidak benar-benar sama dengan kata kafara yang dipahami masyarakat Arab sebelum turunnya al-Qur’an.
Istilah Kafir dalam Al-Qur’an
Persoalan kafir merupakan isu sensitif teologi kemusliman dalam kehidupan. Belakangan ini, sering kita jumpai peristiwa mengkafirkan orang lain. Bahkan kafir tidak hanya ditujukan pada non-Muslim saja akan tetapi juga ditujukan kepada sesama Muslim, seperti yang disebutkan dalam buku Relasi Tuhan dan Manusia bahwa kemunculan sekte Khawarij; yang berpandangan bahwa seorang Muslim bila telah melakukan dosa besar, maka bukan lagi sebagai seorang Muslim.
Ia harus dianggap kaafir yang akan masuk ke dalam neraka, sehingga dibenarkan untuk dibunuh. Kufr dianggap berlawanan dengan iman, kufr dalam arti tidak bertuhan (ateis), musyrik, murtad (keluar dari Islam) dan tidak menganut agama Islam. Kufr dari segi bahasa mengandung arti menutupi. Malamdisebut kafir, karenaiamenutupi siang atau menutupi benda-benda dengan kegelapannya. Awan juga disebut kafir, karena ia menutupi matahari. Tetapi, bila ditelaah term-term kufr yang terdapat dalam al-Qur’an, akan terlihat bahwa tidak semua term-term tersebut mengacu kepada makna kufr yang telah disebut. Selain makna tesebut, term kufr yang disebut dalamal- Qur’an sebanyak 525 kali dan mempunyai arti yang cukup bervariasi. Seperti beberapa contoh di bawah ini:
a. Kufr yang Menunjukan Rasa Tak Bersyukur
فَاذْكُرُوْنِيْٓ اَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْا لِيْ وَلَا تَكْفُرُوْنِ
“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (Q.S. Al-Baqarah/2: 152)
Dalam konteks ini, hal yang paling pas dan paling utama mengenai denganpemberian dan penerimaan kebaikan, kata tersebut biasanya diartikan menutupi, yakni mengabaikan dengan sengaja kebaikan yang seharusnya diterima oleh seseorang, yang kemudian menjadi ‘tidak bersyukur’.
b. Hati Orang Kafir
ثُمَّ قَسَتْ قُلُوْبُكُمْ مِّنْۢ بَعْدِ ذٰلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ اَوْ اَشَدُّ قَسْوَةً ۗ وَاِنَّ مِنَ الْحِجَارَةِ لَمَا يَتَفَجَّرُ مِنْهُ الْاَنْهٰرُ ۗ وَاِنَّ مِنْهَا لَمَا يَشَّقَّقُ فَيَخْرُجُ مِنْهُ الْمَاۤءُ ۗوَاِنَّ مِنْهَا لَمَا يَهْبِطُ مِنْ خَشْيَةِ اللّٰهِ ۗوَمَا اللّٰهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُوْنَ
“Kemudiansetelahituhatimumenjadikerasseperti batu, bahkanlebihkeraslagi. Padahaldiantara batu-batu itusungguhada yang mengalirsungai-sungaidaripadanya dan diantaranyasungguhada yang terbelahlalukeluarlahmata air daripadanya dan diantaranyasungguhada yang meluncurjatuh, karenatakutkepada Allah.” (Q.S. Al-Baqarah/2: 74)
Di dalam al-Qur’an memuat gambaran hati orang kāfir, hati orang kāfir ini sering kali digambarkan sebagai mengeras seperti batu”. Qasat Qulūbuhum yakni “hati mereka keras atau telah membatu”, ini merupakan suatu perumpamaan bagi keadaan hati orang kāfir yang dengan keras menolak atau menentang wahyu. Karakteristik yang lainnya adalah bahwa hati mereka “ditutupi”, hati mereka ada tabir pemisah dengan wahyu, Allah mengunci hati mereka, dan menutup hati mereka sedikit demi sedikit. Setelah hatinya ditutup, orang kāfir tidak dapat memahami ayat-ayat Tuhan sebagaimana mestinya. Baginya wahyuTuhan tidak lebih dari cerita dongeng orang-orang terdahulu.
c. Kafir merupakan Sikap yang Sombong
بَلٰى قَدْ جَاۤءَتْكَ اٰيٰتِيْ فَكَذَّبْتَ بِهَا وَاسْتَكْبَرْتَ وَكُنْتَ مِنَ الْكٰفِرِيْنَ
“(Bukandemikian) sebenaryatelahdatangketeranganketerangan-Ku kepadamulalukamumendustakannya dan kamumenyombongkandiri dan adalahkamutermasuk orang-orang yang kafir”. (Q.S. Az-Zumar/39: 59)
Dalam al-Qur’an, gambaran utama dalam kategori sifat yang negatif salah satunya adalah orang-orang yang menyombongkan diri, yang dimaksud disini orang-orang yang tidak mempercayai tanda-tanda kekuasaan Tuhan. Karenanya ia berarti menunjukkan sifat yang sombong, dan perbuatan tersebut termasuk kategori kufr. Jadi dapat disimpulkan, Izutsu mensejajarkan kata kufr dengan kata-katayangmewakili konsep-konsep yang erat terkait dengan kufr dalam al-Qur’an yangyaitufisq, ḍalāl, ẓulm, istakbar, iṣyān, dan syirik. Kata-kata kunci tersebut merupakan sisi negatif yang disebut dalam al-Qur’an, yang terdiri dari konsep-konsep kunci yang berhubungandengan etika sosial.
Menurutnya istilah-istilah tersebut merupakan wujud dari perbuatan seseorang yang tidak mau berterimakasih kepada Allah yang merupakan arti secaratepat dan mendasar dari kāfir. Terlebih lagi, dalam sejarahnya arti tersebut sudah lazim digunakan oleh orang Arab sejak pra-Islam. Tetapi semakin kesini arti tesebut sudah bergeser. Pendefinisian tersebut tentulah sangat berbeda dengan ulama’ yang lain, danpemahaman masyarakat luas sekarang ini yang melawankan kāfir dengan īmān. Pada masa sekarang ini, pada umunya kāfir diartikan bukan sebagai seseorang yang tidak mau berterima kasih kepada Allah, akan tetapi kāfir diartikan sebagai seseorangyangtidak percaya kepada Allah, Rasul-Nya, dan segala ajaran (wahyu) yang dibawanya.
Editor: An-Najmi



























Leave a Reply