Salah Paham Manunggaling Kawula Gusti
Beberapa kali masyarakat umum salah menafsirkan arti “manunggaling kawula gusti” sebagai metode tasawuf yang mendekati tajalli, yakni kesatuan antara hamba dan sang ilahi. Konsep yang ditafsirkan masyarakat umum, yang dibawa Syekh Siti Jenar adalah konsep yang tradisional. Tetapi tujuannya bukan diri sendiri yang mendekati kezuhudan, tetapi kata tersebut memiliki perjuangan sosial para nabi dan rasul.
Ali Syariati dalam ceramahnya membagi dua komponen kenabian dan rasul. Pertama adalah Nabi Abrahamik yang secara langsung hierarkinya bersanad sampai ke Nabi Ibrahim As. Kedua, nabi non Abrahamik yang memiliki visi misi menebarkan etika, filsafat, estetik, seperti Kongzi, Laos Tse, Sidharta Gautama, Visnu dan lainya. Menurutnya juga ada nabi yang selalu menyuarakan perjuangan sosial dan menghindari dari taklid buta kepemimpinan. Kemudian menurutnya ada juga nabi yang menyebar visi dakwah ramah dan tamah penuh asketis dan kezuhudan.
Sejarah Perjuangan Tauhid
Ada beberapa nabi yang memiliki visi misi menolak ketakaburan atau otoriter dari penguasa. Seperti Nabi Musa As yang mengalahkan Firaun yang bernama Ramses II. Pergulatan menentang kelakuan destruktif, membuat Nabi Musa As menyatukan seluruh kaumnya untuk menghindari dari kesyirikan sosial. Yakni perpecahan antara golongan borjuis yang memiliki harta dan golongan proletariat.
Lihatlah ketika Firaun membunuh bayi laki- laki demi mempertahankan kekuasaanya. Lalu lihatlah Firaun ketika hendak menyombongkan diri untuk membangun bangunan tinggi. Dalam surah al-Qashash (28) ayat 38 disebutkan, “Dan Firaun berkata, ‘Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui Tuhan bagimu selain aku. Maka, bakarlah hai Haman untukku tanah liat, kemudian buatkanlah untukku bangunan yang tinggi. Supaya aku dapat naik melihat Tuhan Musa. Dan, sesungguhnya aku benar-benar yakin bahwa dia termasuk orang-orang pendusta.”
Kemudian juga tidak terlepas perjuangan Nabi Ibrahim AS untuk menyatukan ketauhidan sosial dimulai dari masyarakat zaman beliau yang banyak menyembah matahari, bulan, bintang. Bahkan Raja Namrud sendiri disembah masyarakatnya. Sadar akan perpecahan dalam beragama, yang nanti mengakibatkan penindasan oleh otoritas, fundamentalis seseorang yang beragama animisme dan dinamisme, penguasa oligarki, fasisme dan paham yang tidak seirama dengan Islam.
Nabi Ibrahim pun menghancurkan tempat pemujaan mereka dan menolak keras syirik yang mengakibatkan perpecahan antar elemen masyarakat tersebut. Dan menghindari sikap anti demokrasi yang membawa masyarakat kepada sistem perbudakaan. Serta penjajahan harta masyarakat proletariat untuk kekayaan diri sendiri.
Konsep Ummah dengan Manunggaling Kawulo Gusti
Masyarakat Ideal dalam pandangan Islam dinamakan ummah. Kata ummah merupakan integrasi dari beberapa konsep bahasa dan kebudayaan berbeda. Tetapi memiliki satu kesatuan visi dan misi. Konsep tersebut mengandung semangat progresif, dinamis, komitmen serta idealogis. Kata ummah berasal dari akar ‘amm yang memiliki arti jalan dan tujuan. Jika menyoal tentang jalan dalam surah al-Fatihah berulang kali diucapkan setelah shalat, yakni ayat ke 6- 7,
اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ ٦
صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ەۙ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَ ٧
“Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.”
Ayat tersebut mengandung makna yang mendalam dan fundamental dalam konsep umat. Bahwa egosentrisme harus dihilangkan. Tidak boleh ada yang merasa benar sendiri. Semua manusia memiliki kesalahan. Maka kesalahan itulah yang membangun kita sebagai umat untuk tetap maju dan progresif, untuk mengembangkan dakwah Islam rahmatan lil ‘alamin.
Hubungan antara ummah dengan manunggaling kawulo gusti dilihat dari tidak adanya diskriminasi, atau stereotip antar individu proletariat dengan penguasa. Semuanya sama di mata Tuhan. Tuhan sendiri telah berfirman dalam surah al Hujurat ayat 13:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku. Supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”
Kesimpulan
Ayat tersebutlah yang menyatukan umat dari segala tujuan yang berbeda. Ini merupakan filsafat sosial yang suci dari al-Quran, tiada yang berbeda di mata Tuhan. Semuanya mengemban amanah untuk kemajuan umat. Pihak yang kaya wajib bersedekah, zakat mal, qurban, haji dan yang miskin mengemban amanah, kedamaian, ramah tamah, semangat, etos kerja dan lainnya. Sejatinya masyarakat tanpa kelas itu ada, jika pergerakan itu ditujukan kepada niat kemajuan umat. Perbedaan bukan menjadikan kita sebagai perpecahan, tetapi perbedaan tersebut adalah nilai estetika dalam kehidupan. Lihat pelangi itu banyak warnanya, itulah yang membuatnya indah.
Manusia Ideal adalah ia yang mengemban semangat proyeksi Tuhan untuk khalifah di bumi. Ia yang membawa pesan jihad, terbebaskan penjara egoisme dan hedonis, melawan penindasan, mencintai Allah dan rasulnya. Serta yang tidak menjauhkan aktivitas ilmu pengetahuanya dari gairah keimanan dan keimanan tidak melumpuhkan kekuatan pemikirannya dan deduksi logikanya. Ia adalah seorang zahid dan penuh kepedulian .
Penyunting: Bukhari




























Leave a Reply