Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Madrasah Ramadan: Menempa Solidaritas Sosial

Solidaritas
Gambar: https://pundiamalhasanahumat.or.id/

Dalam Islam, hampir seluruh ibadah memiliki nilai dan implikasi sosial, tak terkecuali ibadah puasa. Sebagai aktivitas yang wajib dilaksanakan tiap tahun, renungan-renungan terhadap kehadiran bulan Ramadan perlu untuk terus dilakukan. 

Salah satu yang mesti kita pahami dari ibadah puasa ialah bahwa ia tidak hanya sekedar mendidik kaum beriman menjadi saleh secara personal, tapi juga saleh sosial. Banyak orang yang sering terkecoh dan cenderung memisahkan keduanya. Padahal baik saleh ritual dan saleh sosial adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. 

Ibadah puasa melatih kita untuk itu. Selain menghadirkan insan yang saleh secara ritual, ia juga ingin membentuk insan yang punya solidaritas dan kepekaan sosial yang tinggi. Hal ini karena melalui ibadah puasa seseorang akan dilatih merasakan kepedihan yang dialami oleh saudara-saudaranya yang kurang mampu. 

Selain itu, bulan puasa adalah bulan tarbiyah (pendidikan) bagi hati setiap mukmin. Lewat puasa, hati seorang akan diharapkan menjadi bersih, jernih dan peka. Puasa ingin mendidik seseorang untuk memiliki rasa kemanusiaan, tenggang rasa dan kasih sayang. 

Mukmin dan Agama Kasih Sayang

Dalam QS. Al-Fath [48]: 29 disebutkan bahwa ciri orang mukmin ialah kasih sayang di antara mereka. Ajaran kasih sayang ini sering diabaikan oleh kaum beriman. Mereka hanya terpatok pada ajaran Islam yang tegas. Padahal dalam ketegasan Islam selalu ada kebijaksanaan dan kasih sayang. Akibat dari fokus yang berlebih terhadap ketegasan Islam ini menjadikan mereka manusia pemarah dan gampang menghakimi orang lain. 

Ajaran Islam yang sarat akan kedamaian dan kasih sayang ini bahkan menjadi ciri khas dan citra awal masuknya Islam ke Indonesia. Mereka tidak masuk dengan cara-cara yang keras. Kepada penduduk Indonesia, mereka perkenalkan ajaran Islam dengan cara yang berkebudayaan dan berkemanusiaan. 

Baca Juga  Dicela, Balas Mencela? Begini Jawaban Al-Qur’an Tentang Celaan

Umat Islam harus kembali meneguhkan identitas kasih sayang ini. Terutama di bulan Ramadhan seperti sekarang. Ini adalah momen yang tepat untuk menata hati jadi lebih baik, damai dan penuh kasih sayang. Kita menginginkan agar kepekaan sosial lebih terasah di bulan ini. Di antaranya dengan berkasih sayang pada sesama.

Ada banyak ungkapan kasih sayang yang bisa ditunjukkan dalam bulan Ramadan. Bisa dengan berbagi, merajut silaturrahmi dan amal-amal kebaikan lainnya. Kita bersyukur bahwa di bulan Ramadan panorama berbagi sudah menjadi hal yang lumrah dan bahkan meningkat. Semangat dan kebiasaan ini perlu terus dirawat dan digalakkan. Bahkan kita berharap, agar kebiasaan-kebiasaan serupa bisa berkelanjutan sampai di luar bulan Ramadan.

Ramadan dan Menguatnya Solidaritas Sosial 

Dalam riset disebutkan, perputaran ekonomi di bulan Ramadan cukup kuat dan deras. Hal ini salah satunya ditopang oleh semangat filantropi yang menggelora di kalangan umat muslim. Tidak sedikit pedagang yang diuntungkan. Apalagi hari ini tidak sedikit komunitas membungkus kegiatan berbaginya dengan sambil mendukung UMKM yang ada. Caranya ialah membeli makanan dari UMKM sekitar dan membagikannya pada orang-orang yang membutuhkan seperti driver ojol, pemulung dan pekerja-pekerja lainnya.

Kegiatan-kegiatan filantropi seperti berbagi ini membuktikan kalau bulan Ramadan cukup kuat pengaruhnya dalam membangun solidaritas sosial di antara manusia. Kehangatan dan kesalingsapaan terjalin. Sesuatu yang barang kali langka terjadi di luar Ramadan. Karena itu tugas kita yang paling penting ialah memastikan bagaimana menginternalisasikan kebaikan-kebaikan yang ada di bulan Ramadan pada bulan-bulan yang lain.

Kesadaran orang untuk merajut silaturahmi juga kuat di bulan ini. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya kegiatan buka bersama. Baik itu di antara kawan semasa menempuh pendidikan, kawan organisasi, kawan kantor dan segala macam. Hal ini tentu harus dipandang sebagai suatu tradisi yang baik dan positif.

Baca Juga  Memaknai Kembali Ramadan: Dari Makna hingga Praktik

Apalagi dalam Islam silaturahmi memiliki tempat tersendiri. Islam menganjurkan orang-orang untuk senantiasa merawat silaturahmi karena kandungan kebaikan atau manfaat yang dimilikinya. Salah satunya adalah ‘memperpanjang umur’ dan ‘mempermudah rezeki’. Hal ini seperti yang disampaikan oleh Nabi Muhammad:

“Barang siapa yang suka diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka sambunglah tali kerabat atau silaturahmi.” (HR. Bukhari)

Banyak takwil soal arti memperpanjang umur. Salah satu yang dapat kita pakai ialah nama kita akan selalu diingat kalau sudah tidak ada kelak. Kebaikan dan keramahtamahan yang pernah kita lakukan akan terus dikenang oleh orang-orang yang pernah menjalin hubungan dan kekerabatan dengan kita. Sementara untuk mempermudah rezeki, silaturahmi akan membuka banyak informasi soal akses-akses kerja dan segala macamnya.

Penutup

Jadi, selain ibadah-ibadah yang lainnya, ibadah puasa memang memberikan kita banyak pelajaran. Baik yang sifatnya personal seperti kejujuran, komitmen dan tanggung jawab. Ia juga mengajarkan dan memberikan kita kesempatan untuk melatih kepekaan sosial dengan merasakan derita orang lain, solidaritas sosial dengan terdorong untuk berbagi dan membantu sahabat yang kurang mampu, serta kehangatan sosial dengan masifnya silaturahmi dan temu yang terjalin di antara para kerabat dan handai taulan.

Penyunting: Bukhari